Komunitas Suporter Muslim Chelsea FC Rayakan Idul Fitri di Stadion Stamford Bridge

Komunitas Suporter Muslim Chelsea Football Club menyelenggarakan acara resmi pertamanya dalam rangka perayaan hari raya Idul Fitri 1445H, di lingkungan Stadion Stamford Bridge, London, Inggris, Sabtu (13/4/2024) malam.(Foto: CFC)

London, MINA – Komunitas Suporter Muslim yang baru dibentuk, bekerja sama dengan Chelsea Football Club dan Chelsea Foundation, menyelenggarakan acara resmi pertama komunitas dalam rangka perayaan hari raya Idul Fitri 1445H, di lingkungan Stadion Stamford Bridge, London, Inggris, Sabtu (13/4) malam.

Acara tersebut, yang mencerminkan komitmen salah satu raksasa klub Liga Inggris itu untuk memperjuangkan inklusivitas dalam sepak bola, menyambut para pendukung Chelsea dari berbagai latar belakang dan agama, serta tokoh-tokoh terkemuka dari komunitas Muslim, termasuk para pemain dari Akademi Chelsea FC.

Dalam keterangan resmi Chelsea FC dikutip MINA< Ahad (14/4), Yahya Idrissi, salah seorang pemain muslim yang menghadiri acara tersebut, usai mencetak gol pertamanya untuk Chelsea U18 versus West Bromwich Albion U18, mengungkapkan kebahagiaannya dapat berkumpul merayakan hari raya Ied bersama komunitas.

“Saya berpuasa selama bulan Ramadhan dan klub sangat mendukung. Senang rasanya melihat klub ini berkontribusi kembali kepada komunitasnya, mendukung dan menyambut semua penggemar Muslim,” katanya.

Acara ini juga menampilkan wawasan dari Zoheb Gaj, pendiri Komunitas Suporter Muslim, yang mengungkapkan misi komunitas tersebut untuk menjalin ikatan yang lebih kuat antara agama dan sepak bola.

Baca Juga:  Idul Adha di Cox’s Bazar: Derita dan Harapan Pengungsi Rohingya

Selain itu, pengurus Chelsea Foundation Louise Jacobs dan pembawa acara, komedian pemenang penghargaan Aatif Nawaz, berbagi perspektif mereka tentang pentingnya inklusivitas dalam sepak bola.

Zoheb Gaj menekankan visinya untuk komunitas tersebut, dengan menyatakan, ia membayangkan sebuah komunitas yang dinamis di mana pengabdian mereka pada iman dan klubnya terjalin dengan baik.

“Bersama-sama, kita merayakan kemenangan di lapangan dan menjunjung tinggi prinsip keberagaman dan persatuan – menciptakan warisan inklusivitas dan semangat untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Louise Jacobs menggemakan sentimen ini, dengan mengatakan: “Di Chelsea, kami percaya sepak bola memiliki kekuatan unik untuk mendidik, memotivasi, dan menginspirasi. Ini menyatukan orang-orang dan komunitas dari berbagai ras, gender, kepercayaan, dan agama – menyatukan kita semua dalam kecintaan yang sama terhadap game ini.”

“Kami tahu bahwa sebagai klub dan Yayasan, kami mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa di luar permainan, komunitas kami terbuka dan inklusif bagi semua orang,” pungkasnya.

Bagian dari Kampanye ‘No To Hate’

Louise Jacobs mengatakan, melalui kampanye ‘No To Hate’ yang diluncurkan pada 2021, pihaknya berupaya untuk tidak hanya menargetkan rasisme dan pelecehan; namun juga untuk merayakan kekayaan sejarah dan keberagaman kita serta mengubah budaya permainan – membangun kesetaraan dan merayakan komunitas yang selama ini terabaikan.’

Baca Juga:  Idul Adha di Cox’s Bazar: Derita dan Harapan Pengungsi Rohingya

Berbicara pada acara tersebut, Saif Malik (CEO Standard Chartered UK) dan sepupu pendiri Muslim Supporters Group, Zoheb Gaj, menyoroti pentingnya Komunitas Suporter Muslim dalam mempromosikan inklusivitas dan persatuan dalam komunitas.

“Maksud dan sasaran yang mendasari kelompok ini adalah mercusuar inklusivitas dan persatuan, berupaya untuk memastikan setiap penggemar Muslim merasakan rasa memiliki dalam komunitas kami yang beraneka ragam,” katanya.

Gaj menambahkan, dukungan Chelsea Football Club dalam upaya ini merupakan bukti nyata komitmen mereka dalam merangkul keberagaman dan menciptakan lingkungan di mana setiap orang diterima dengan tangan terbuka.

“Sebagai seseorang yang menganggap wilayah Chelsea dan Fulham sebagai rumahnya, pentingnya Kelompok Suporter Muslim jauh melampaui batas-batas stadion sepak bola,” katanya.

Inisiatif ini menandai dimulainya era baru dalam komunitas tersebut, dim ana sepak bola menjadi jembatan yang menghubungkan beragam budaya dan memfasilitasi dialog yang memperkaya pengalaman kolektif para suporter.

Baca Juga:  Idul Adha di Cox’s Bazar: Derita dan Harapan Pengungsi Rohingya

“Ini adalah perayaan persatuan, di mana semangat bersama untuk Chelsea menjadi landasan untuk membangun hubungan yang langgeng sebagai tetangga, teman, dan penggemar setia,” tambah Gaj.

Komunitas Suporter Muslim didirikan setelah peluncuran Kelompok Suporter Yahudi tahun lalu.

Sepanjang sejarah klub, tim sepak bola ini mendatangkan pemain bintang Muslim dan pernah bersinar membela klub tersebut seperti Nicolas Anelka, Salomon Kalou, Kurt Zouma, Eden Hazard, Demba Ba, Mohamed Salah, N’Golo Kante, Antonio Ruediger, Malang Sarr, Hakim Ziyech, dan Edouard Mendy.

Selain itu komunitas ini juga dibentuk menyusul digelarnya agenda buka puasa bersama yang diselenggarakan Chelsea Foundation untuk merayakan Ramadhan tahun lalu, di mana Chelsea menjadi klub Premier League pertama yang menyelenggarakan buka puasa di tepi lapangan.

Perayaan Hari Raya Idul Fitri diakui di Chelsea FC dan Chelsea Foundation sebagai komponen integral dari kampanye No To Hate, yang mencerminkan dedikasi klub dalam mendorong kesetaraan, keberagaman, dan inklusi.

Mempromosikan toleransi beragama adalah salah satu area fokus utama No To Hate, dan festival keagamaan lainnya juga disorot sepanjang tahunnya. (T/R1/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rana Setiawan

Editor: Rudi Hendrik