Tel Aviv, MINA – Gelombang emigrasi dari Israel terus meningkat, dengan hampir 70.000 warga Israel meninggalkan negara tersebut sepanjang 2025.
Laporan media yang mengutip data resmi menunjukkan, Israel kini mencatat lebih banyak emigran jangka panjang dibandingkan warga yang kembali, dengan kesenjangan terbesar antara keberangkatan dan kepulangan terjadi pada 2023.
Menurut statistik resmi yang dikutip Quds News Network (QNN), Jumat (30/1), sekitar 69.300 warga Israel meninggalkan negara itu pada 2025, sementara hanya sekitar 19.000 orang yang kembali.
Laporan tersebut mencatat bahwa sekitar 48 persen dari mereka yang pergi lahir di luar negeri, mengindikasikan meningkatnya jumlah warga Israel kelahiran lokal yang memilih emigrasi untuk pertama kalinya.
Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur
Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah emigran juga menunjukkan tren tinggi. Pada 2024, sekitar 82.700 warga Israel meninggalkan negara tersebut, sementara hanya 24.200 yang kembali, menandai penurunan sebesar 18,4 persen dibandingkan 2023.
Laporan itu mengaitkan peningkatan emigrasi dengan berbagai faktor, termasuk persoalan keamanan, tekanan ekonomi, tingginya biaya hidup di kota-kota besar, serta ketegangan keamanan yang berlanjut sejak operasi Perlawanan Palestina pada 7 Oktober 2023.
Meskipun terdapat pertumbuhan alami akibat angka kelahiran, laju pertumbuhan penduduk Israel tetap rendah dan hanya mencapai sekitar 1,1 persen pada 2025. Media Ibrani yang dikutip QNN, mengacu pada sumber pemerintah, menyebutkan bahwa Israel belum memiliki rencana yang jelas untuk menghentikan gelombang emigrasi atau mendorong kepulangan warga yang telah pergi.
Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait dampaknya terhadap struktur demografis dan ekonomi Israel.[]
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic