Damaskus, MINA – Pasukan pendudukan Israel menyusup dengan lebih dari 30 kendaraan militer ke daerah Tal al-Ahmar al-Sharqi di pedesaan selatan Quneitra, Suriah selatan, dan menembakkan suar penerangan selama operasi tersebut, televisi pemerintah Suriah melaporkan pada Rabu (25/2).
Patroli militer Israel juga memasuki area tambang antara kota Jbata al-Khashab dan Ofaniya di provinsi Quneitra. Sebelumnya pada hari itu, patroli Israel lainnya dilaporkan telah maju ke area yang sama.
Patroli tersebut dikatakan mencakup 13 kendaraan militer lapis baja dan melakukan penggeledahan terhadap orang-orang yang lewat sebelum menuju posisi Harsh Jbata al-Khashab di utara Quneitra. Tidak ada penangkapan yang dilaporkan.
Pergerakan ini terjadi di tengah pelanggaran wilayah Suriah yang terus dilakukan Israel, meskipun ada pernyataan bersama yang dikeluarkan awal bulan lalu oleh Amerika Serikat, Israel, dan Suriah yang mengumumkan “pemahaman strategis” yang bertujuan meningkatkan keamanan dan stabilitas antara Israel dan Damaskus setelah pertemuan di Paris.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Dikutip dari Almayadeen, sebuah patroli militer Israel menyerbu pinggiran Sayda al-Golan di pedesaan Quneitra, Suriah, pada Senin (23/2) pagi, menurut laporan setempat.
Warga mengatakan pasukan pendudukan Israel bergerak melalui daerah tersebut sebelum kemudian mundur ke posisi di dalam Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki.
Pengamat Hak Asasi Manusia Suriah yang berbasis di Inggris mengatakan pasukan pendudukan Israel telah melakukan 41 serangan ke wilayah Suriah sejak awal Februari, sementara pemerintah Suriah mempertahankan “keheningan yang mencurigakan”.
“Dalam pelanggaran berkelanjutan terhadap wilayah Suriah dan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional, pasukan Israel telah meningkatkan pergerakan militer mereka di Suriah selatan, melakukan serangkaian serangan darat dan penerbangan di atas wilayah pedesaan Quneitra dan Dara’a sejak awal Februari,” lapor lembaga pemantau tersebut.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Menurut organiasi tersebut, pasukan Israel menahan warga sipil, merusak lahan pertanian, dan mendirikan pos pemeriksaan militer sementara di dalam wilayah Suriah selama beberapa serangan.
Organisasi tersebut mengatakan tindakan tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari penduduk setempat, khususnya para penggembala dan petani yang tinggal di dekat garis gencatan senjata tahun 1974 yang ditetapkan setelah perang Oktober.
Sejak jatuhnya mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad pada Desember 2024, Israel terus melancarkan serangan udara terhadap situs militer dan gudang senjata yang sebelumnya dioperasikan oleh pasukan pemerintah Suriah.
Israel menghadapi kritik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan beberapa negara Arab karena secara efektif merusak kesepakatan gencatan senjata tahun 1974 dan memperluas operasi di dalam Suriah. Para kritikus berpendapat langkah-langkah tersebut melanggar hukum internasional dan kedaulatan Suriah.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Pemerintahan Suriah mengatakan mereka sedang melakukan diplomasi dengan Israel, meskipun ketegangan masih berlanjut. Terlepas dari pernyataan yang menunjukkan kesediaan untuk bekerja sama, Israel belum menarik pasukannya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengarahkan pasukan untuk memperluas kehadiran mereka di luar Dataran Tinggi Golan yang diduduki pada tahun 1967 dan mengamankan posisi strategis.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
















Mina Indonesia
Mina Arabic