MER-C KLARIFIKASI KASUS MUSLIM ROHINGYA

Anak-anak Muslim Rohingya di kamp pengungsi Muslim di Sittwe, Rakhine State. (Foto: MER-C)
Anak-anak Muslim Rohingya di kamp pengungsi Muslim di Sittwe, Rakhine State. (Foto: MER-C)

Jakarta, 17 Sya’ban 1436/4 Juni 2015 (MINA) – Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), Joserizal Jurnalis menegaskan, di Myanmar memang ada konflik, ada orang yang terbunuh, ada pembakaran dan ada masalah pengungsi.

Pada Rabu (3/6), MER-C Indonesia menggelar konferensi pers untuk memaparkan masalah konflik Myanmar berdasarkan pengalaman MER-C yang telah dua kali melakukan misi kemanusiaan ke lokasi konflik di Rakhine State, Myanmar, di kantor pusat Jakarta.

Aktivis kemanusiaan yang pernah terjun ke konflik Ambon itu mengatakan, konflik di Rakhine State sama seperti konflik yang terjadi di Maluku beberapa tahun silam.

Menurut MER-C, untuk melihat kasus yang menimpa Muslim Rohingya, setidaknya ada tiga persoalan utama dari etnis tersebut.

Pertama, ada konflik yang terjadi pada 2012. Kedua, ada usaha stateless (pencabutan status warga negara) dari pemerintah Myanmar. Ketiga, ada orang-orang yang keluar dari Rohingya dengan berlayar untuk mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain, karena mereka tidak nyaman dengan masalah stateless ini dan masalah lainnya yang perlu dicari tahu bersama.

Konflik di Rakhine State 2012 mendorong MER-C mengirimkan tim pertamanya ke sana untuk memberikan pertolongan medis pada 12 -19 September 2012.

Di daerah konflik, tim bisa melakukan pengobatan di kedua kamp, baik kamp Muslim maupun kamp Budha.

Sementara itu, Dr. Meaty, relawan MER-C untuk Myanmar memaparkan, pada kunjungannya yang pertama pada September 2012 ke Sittwe, Rakhine State, tim tidak melihat konflik masih terjadi atau pun adanya korban-korban pembantaian.

“Namun saat itu kami saksikan ada sisa-sisa konflik seperti masjid, kuil, dan rumah-rumah penduduk yang hangus terbakar. Kamp yang terpisah antara kamp Muslim dan kamp Budha juga menunjukkan ada histori konflik antara keduanya,” kata Meaty.

Selama di Rakhine State, Meaty mengungkapkan, tim MER-C juga selalu dikawal oleh Militer Myanmar bersenjata dengan sangat ketat mengawasi segala tindakan tim.

Yang menjadi fokus perhatian tim MER-C pada saat kunjungan misi pertama ini adalah kondisi kamp Muslim yang sangat memprihatinkan kala itu.

Pada Februari 2015, Dr. Meaty kembali berkunjung ke Rakhine State, Myanmar. Saat itu, tim yang dipimpinnya sudah tidak melihat konflik terjadi. Yang ada, tim MER-C sangat kaget dengan perubahan luar biasa yang telah terjadi dalam kamp, khususnya kamp Muslim.

“Sistem pendidikan sudah berjalan walaupun masih sederhana. Sistem pelayanan kesehatan yang sudah berjalan, sudah ada bangunan permanen dan semi permanen pos-pos kesehatan dengan peralatan medis yang cukup lengkap dan tenaga medis yang terjadwal,” ujarnya.

Drs. Ichsan Thalib yang juga hadir dalam konferensi pers hari itu menambahkan, aktifitas di dalam kamp, khususnya Muslim Rohingya saat itu dinamis. Kamp berukuran besar dan berisi ribuan orang.

Dia menambahkan, kamp tampak sudah tertata oleh UNHCR dibantu berbagai negara. Kehidupan berjalan, pendidikan sudah berjalan walaupun baru sampai tingkat SD. Pasar dalam kamp hidup yang menjual berbagai kebutuhan, mulai dari bahan makanan, emas, bahkan motor ada, dan lainnya. (L/P001/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0