Khartoum, MINA – Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) menggandeng jaringan kartunis Sudan dari Khartoon Magazine untuk mengangkat krisis kemanusiaan Sudan melalui karya seni, di tengah minimnya perhatian dunia terhadap perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.
MSF menyatakan perang di Sudan kini telah memasuki tahun keempat atau lebih dari 1.200 hari konflik.
Meski menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia, konflik tersebut dinilai masih kurang mendapat sorotan media internasional.
“Sengaja ada sikap acuh tak acuh dari komunitas internasional terhadap perang di Sudan,” ujar salah seorang staf MSF asal Sudan, sebagaimana dikutip dalam pernyataan organisasi tersebut. Msf.org melaporkan, Rabu (5/8).
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Melalui kolaborasi dengan para kartunis Sudan, termasuk mereka yang kini mengungsi atau hidup sebagai pengungsi di luar negeri, MSF berupaya menghadirkan kisah perang dari sudut pandang masyarakat Sudan sendiri.
Ilustrator dan penulis Khartoon Magazine, Nader Jenni, mengatakan seni mampu menyampaikan pesan kemanusiaan yang tidak selalu dapat diungkapkan melalui kata-kata atau forum internasional.
“Saya pikir seni membantu orang karena membuat mereka merasa dipahami dan tidak sendirian. Terkadang sebuah gambar sederhana mampu menyampaikan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh konferensi internasional,” katanya.
Dalam budaya Sudan, kartun telah lama menjadi media untuk menyampaikan kritik sosial maupun pengalaman hidup masyarakat. Karena itu, ilustrasi dipandang bukan sekadar karya seni, tetapi juga bentuk komentar atas realitas yang terjadi.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Melalui seri kartun tersebut, para seniman menggambarkan berbagai dampak perang, seperti kelaparan, wabah penyakit, kebutuhan layanan kesehatan jiwa, hingga sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan.
Ilustrasi itu dipadukan dengan ungkapan, peribahasa, dan istilah yang akrab bagi masyarakat Sudan.
Setiap karya juga didukung data dari berbagai proyek kemanusiaan MSF di Sudan.
Organisasi tersebut telah beroperasi di Sudan selama lebih dari 40 tahun dan memperluas respons kemanusiaannya sejak pecahnya perang pada 2023, termasuk melalui layanan persalinan, penanganan malnutrisi, kesehatan reproduksi, serta dukungan kesehatan mental.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Salah seorang ilustrator, Akram Abdo, mengatakan seni memiliki kekuatan untuk mengubah data dan penderitaan menjadi pesan yang mudah dipahami masyarakat luas.
“Sebagai seniman Sudan, saya percaya seni dapat menarik perhatian terhadap persoalan seperti kolera dan malnutrisi dengan cara yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Selain menggandeng kartunis Sudan, penasihat operasional MSF Narin Fandoglu juga membagikan sketsa hasil pengamatannya saat mengunjungi Khartoum dan Darfur tahun lalu.
Menurutnya, menggambar menjadi cara untuk memahami emosi sekaligus mendokumentasikan kehidupan masyarakat yang tetap bertahan di tengah perang.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Fandoglu menegaskan pentingnya memberikan ruang bagi seniman Sudan untuk menceritakan pengalaman mereka sendiri.
“Ketika orang luar berbicara atas nama mereka, yang sering muncul hanyalah narasi tentang korban. Kolaborasi ini penting karena mengembalikan ruang yang telah dirampas perang kepada para seniman Sudan,” katanya.
“Kita tidak bisa menghentikan perang dengan gambar, tetapi kita bisa menolak untuk berpaling,” lanjut Fandoglu.
Menurut Badan Pengungsi PBB, hampir 12 juta orang masih mengungsi – di dalam Sudan dan di negara-negara tetangga – sementara OCHA melaporkan bahwa sekitar 33,7 juta orang di negara itu membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa lebih dari sepertiga (37 persen) fasilitas kesehatan di Sudan masih tidak berfungsi, sehingga sebagian besar penduduk tidak memiliki akses ke layanan kesehatan yang penting.
“Bagi saya, seni bukanlah solusi untuk setiap masalah, tetapi membuka pintu dengan membuat masalah itu terlihat,” kata Amani Al-Zein, seorang ilustrator dan desainer untuk Majalah Khartoon.
“Menggunakan seni adalah jalan pintas untuk menyampaikan pesan kemanusiaan,” pungkasnya.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Marinir AS Ditangkap, Kemarahan Jepang Kembali Membara di Okinawa
















Mina Indonesia
Mina Arabic