Muslimin VS Kafirin: Kompetisi Berebut Pengaruh Dunia

Ustadz Amin Nuroni, Wakil Amir Majelis Dakwah Pusat Jama'ah Muslimin (Hizbullah). Photo By : Hadis/MINA

Oleh: M. Amin Nuroni, S.Sos., Sekjen Majelis Dakwah Pusat (MDP) Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

Disadari atau tidak, panggung sejarah dunia sepanjang masa diisi dengan kompetisi antara kebenaran dan kebatilan, kebenaran diperankan oleh muslimin sedangkan kebathilan diperankan oleh kafirin. Mereka berebut pengaruh, tarik menarik saling berkompetisi memperbanyak pengikut untuk menjadi sang pemenang.

Ada yang menarik di mana Allah Subahanhu Wa Ta’ala telah menetapkan bahwa kebenaranlah yang berhak menjadi sang juara, hal ini dijelaskan dalam firman-Nya:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (QS. Al-Isra’: 81)

Kebenaran pada hakikatnya laksana air jernih yang abadi dan dibutuhkan manusia sepanjang zaman, Allah Subahanhu Wa Ta’ala menegaskan:

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”. (QS. Ar Road: 17)

Namun proses terjadinya kompetisi ini patut kita pahami dari informasi Al-Qur’an, khususnya dalam perspektif Al-Qur’an Surat Al-Anfal ayat 73. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”.

Ayat di atas merupakan bagian akhir dari surat Al-Anfal yang terkait dengan kisah perang Badar yang terjadi pada tahun ke-2 hijriyah. Hal itu sejalan dengan riwayat Sa’id bin Zubair yang bertanya kepada Ibnu Abbas tentang surat Al-Anfal. Maka Ibnu Abbas menjawab surat ini turun tentang perang Badar (Ibnu Katsir dalam tafsirnya). Adapun kandungan ayat tersebut adalah:

I. Ketetapan tentang kondisi orang-orang kafir

1. Menggalang Kekuatan

Bahwa mereka akan selalu bekerjasama dan terus berusaha untuk menggalang kekuatan di kalangan mereka untuk menolak (mendustakan) Islam dan menghalang-halangi manusia dari kebenaran, untuk melecehkan (istihza) terhadap nilai-nlai Islam, untuk mengancam dan menakut-nakuti (tahdid) kepada semua pejuang-pejuang Islam, bahkan untuk menyiksa dan menyakiti (ta’dzib) semua orang muslim yang istiqomah dalam memperjuangkan syariat Islam, hingga upaya melenyapkan dan membunuh para tokoh dan ulama di kalangan muslimin.

Semua itu dengan tujuan utamannya adalah melenyapkan Islam dari muka bumi, informasi ini Allah jelaskan dalam firman-Nya:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ.هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci”. (QS. Ash Shof: 8-9)

2. Menggalang dan Menghimpun Dana

Bahwa orang-orang kafir dalam mewujudkan tujuannya telah banyak mengorbankan dana yang tidak sedikit. Jika kita mau menghitung tentang dana yang mesti dikeluarkan oleh musyrikin Quraisy dengan 1.000 personil pasukan untuk memerangi kaum muslimin Madinah, tentu akan kita peroleh sejumlah dana cukup besar yang mereka keluarkan untuk perang itu.

Begitu pula peperangan yang mereka lancarkan kepada kaum muslimin hari ini dengan ghazwatul fikrinya, perang melalui budaya dan fahamnya seperti materialism, hedonism, sekulerisme, pembodohan hingga adu domba dan perpecahan di antara kaum muslimin. Untuk semua ini tentu tidak mungkin mereka dapat melakukannya tanpa perencanaan yang matang, tanpa pengorganisasian yang solid, tanpa konsistensi yang terus menerus dan juga tanpa pendanaan yang besar.

Dalam hal ini Allah telah menerangkan dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. (QS. Al-Anfal: 36)

3. Sikap Permusuhan Abadi

Bahwa mereka tidak akan pernah senang, rela, dan ridho jika melihat muslimin hidup damai, bersatu dan maju dalam berbagai bidang, untuk itu mereka akan selalu berusaha melemahkan posisi muslimin di mana pun dan dalam bidang apa pun dengan cara melemahkan mereka melalui adu domba dan perpecahan.

Mereka tidak akan peduli terhadap kelompok mana saja di kalangan muslimin yang saling bertikai, sebab siapapun yang menang dari pertikaian itu maka mereka akan segera mengadu-dombanya lagi dengan kelompok muslimin yang lainnya. Hal ini sejalan dengan Firman Allah:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqoroh : 120)

II. Ketetapan Tentang Umat Islam

Ketetapan di sini terkait dengan arahan Allah kepada umat Islam agar dapat mencegah terjadinya fitnah dan kerusakan, dengan perintah:

1.Membangun Ukhuwah Islamiyah

Pada hakikatnya muslimin itu adalah umat yang satu (QS. Al Mukminun: 52) dan hendaklah mereka saling berkasih sayang, saling membantu dan bekerjasama dan saling melindungi dan menjaga kehormatan di kalangan mereka, dilarang saling berlaku hasad, berlaku curang, saling membenci, saling menghianati, bahkan mereka pun dilarang saling membiarkan apalagi merendahkan. Mengapa? Karena mereka adalah bersaudara.

Hal itu sejalan dengan firman Allah,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS Al-Hujurat: 10)

2. Mewujudkan Kesatuan dan Persatuan

Sangat jelas, jika kita lihat sejarah umat Islam di masa Rasulullah Shalallahu A’laihi Wasalam. Bagaimana beliau membangun pribadi muslim yang berkarakter di awali dengan membangun masjid setelah berhijrah sebagai sarana pendidikan (shuffah) Dinul Islam, juga bagaimana mempersaudarakan Muhajirin (orang-orang yang berhijrah dari Makkah) dengan Anshor (muslimin Madinah) sebagai upaya menggalang persatuan dan kesatuan, sehingga tercipta masyarakat Islam dengan budaya kasih sayang dan saling menghormati dan menghargai, jauh dari kesan permusuhan dan pertikaian.

Kesatuan dan persatuan ini pula yang Allah Subahanhu Wa Ta’ala perintahkan kepada muslimin untuk mewujudkannya kapanpun dan di manapun mereka berada. Sebagaimana firman Allah:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali Imran: 103)

3. Muslimin Tidak Berpecah-belah

Dalam rangka menguatkan perintah agar muslimin bersatu, Allah Subahanahu Wa Ta’ala melarang mereka berfirkoh-firkoh dan saling berselisih, yang dapat menimbulkan kedengkian, kebencian, permusuhan hingga peperangan, larangan Allah ini pun disertai dengan tandzir (peringatan) bahwa berfirqoh-firqoh dalam beragama itu dapat mengundang datangnya azab Allah, di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman Allah:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. (QS. Ali-Imran : 105)

Takhtim

Untuk itu Al-Qur’an surat Al-Anfal : 73 di atas mengarahkan umat Islam kapan dan di manapun mereka berada, agar kembali kepada pengamalan Islam yang kaffah (menyeluruh), dan kembali pada khithoh yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasalam sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 208.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 208).(AK/R01/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)