SIMPOSISUM INTERNASIONAL “MENULIS DALAM SEJARAH SENI DAN BUDAYA ISLAM”

Para pembicara pada Simposium Universitas Hamad Bin Khalifa tentang Seni Islam memberikan perspektif mereka tentang seni dan sejarah Islam. Ajang bergengsi dua tahunan yang keenam itu diselenggerakan di Doha, Qatar (Foto: Gulf Times)
Para pakar di bidang seni dan sejarah memberikan perspektif mereka pada Simposium Universitas Hamad Bin Khalifa tentang Seni Islam. Ajang bergengsi dua tahunan yang keenam itu diselenggerakan di Doha, Qatar (Foto: Gulf Times)

Doha, 1 Safar 1437/13 November 2015 (MINA) – Para sarjana terkemuka dari seluruh dunia berkumpul di Qatar, mengeksplorasi peran menulis dalam seni dan budaya Islam selama perhelatan Simposium Universitas Hamad Bin Khalifa tentang Seni Islam (Hamad Bin Khalifa University Symposium on Islamic Art).

Simposium akbar dua tahunan ini adalah yang keenam dan diselenggarakan di Doha, Qatar, dari 7-9 November. Tahun ini mengusung tema “By the Pen and What They Write: Writing in Islamic Art and Culture”. Setidaknya ada 12 pembicara, semuanya sarjana terkemuka di dunia seni dan sejarah, dihadirkan untuk memberikan perspektif mereka terkait seni Islam.

Seperti diberitakan The Peninsula, Jumat (13/11), dan dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), para pembicara dan peserta membahas beberapa nasakah atau aksara Arab paling awal ditemukan pada batuan di gurun sebelum masa Islam dan pentingnya kertas untuk memfasilitasi penyebaran pesan kitab suci Al-Quran.

Sejarawan seni Islam Dr Sheila Blair menyampaikan pidato utama di ajang bergengsi itu tentang “Writing as Signifier of Islam”.

“Tulisan-tulisan dalam seni Islam sangat menarik untuk masyarakat di kawasan ini dan di seluruh dunia dan itu fantastis untuk menjadi bagian dari tonggak 10 tahun simposium ini. Kami berharap memiliki lebih banyak waktu utnuk membawa para sarjana seni terkenal ke simposium,” kata Blair.

Sementara itu, Dekan Universitas Virginia Commonwealth di Qatar (VCU-Qatar) Dr Akel Kahera menekankan tentang kontribusi simposium yang selama bertahun-tahun telah membahas sejarah seni Islam, arsitektur, dan budaya, termasuk peran cairan, warna, cahaya, dan menulis.

Pada sesi “The Birth of Arabic Writing in Stone” yang disajikan oleh Robert Hoyland, para pembicara dan peserta mengulas tulisan Arab awal yang ditemukan di bebatuan di pinggiran gurun Levant dan Arabia pada abad-abad sebelum Islam.

Selain itu, saat mengulas Al-Quran berkaitan dengan seni dan sejarah Islam, Angelika Neuwirth menyoroti bahwa sesungguhnya Al-Qur’an-lah yang menubuhkan dan membudayakan kembali spirit menulis dalam aksara Arab dan menjadi sumber pengetahuan yang sangat berarti.

“Bahwa sesungguhnya Islam telah bertahan melampaui kehidupan para nabi dan menyebar ke berbagai benua,” tegas Neuwirth.

Simposium tersebut juga membahas tipografi sebagai sebuah blok bangunan komunikasi tertulis dan bentuk penting dalam mengekspresikan identitas budaya dan ideology. Hal itu diulas dalam makalah Huda Smitshuijzen Abifares berjudul “Arabic Typography and the Shaping of a Modern Design Culture’”.

Penulis seni Islam dan Asia Profesor Jonathan Bloom, pada simposium itu, berbicara mengenai “How Paper Changed Islamic Literary and Visual Culture”, sementara Kristine Rose Beers mengetengahkan topik “Reading with Conservators: The Language of Book Archaeology”.

Massumeh Farhad juga ikut memberikan perspektifnya di ajang tersebut. Kepala Kurator dan Kurator Seni Islam pada Freer Gallery of Art, Smithsonian Institution, ini menganalisis seluk-beluk kata-kata tertulis dengan gambar.

Pakar sejarah seni islam lulusan Harvard University itu membawahkan kuliah bertema “Reading between the Lines: Text and Image in Sixteenth-Century Iran”.

Simposium ini ditutup dengan ulasan Nasser Al Salem, pegiat seni kaligrafi kenamaan kelahiran Makka, bertemakan “Calligraphy Presentation”. Di sesi ini para peserta simposium mengeksplorasi bentuk media campuran nonkonvensional kaligrafi Arab tradisional. (P022/P2)

 Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

 

Comments: 0