Beirut, MINA — Serangan udara oleh militer Israel di selatan Lebanon pada Senin(2/2) kembali mengakibatkan tewasnya satu warga sipil dan melukai beberapa lainnya, kendati gencatan senjata masih berlaku antara Israel dengan Hezbollah.
Insiden ini menjadi bagian dari pelanggaran berulang terhadap perjanjian gencatan senjata yang seharusnya menahan eskalasi konflik di perbatasan kedua negara. Al-Mayadeen melaporkan.
Kementerian Kesehatan Lebanon dalam pernyataannya menyebutkan bahwa serangan itu berlangsung di wilayah Ansarieh di distrik Sidon, yang menewaskan satu warga dan melukai setidaknya empat lainnya, termasuk anggota dalam satu keluarga yang sedang mengemudi.
Sementara srangan lain di Qlayleh di dekat Tyre juga menyebabkan korban luka.
Baca Juga: Türkiye dan Pakistan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Saudi
Pihak berwenang Lebanon mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata yang disepakati pada akhir November 2024 dan seharusnya menjadi landasan meredanya konflik antara militer Israel dan kelompok milisi Hezbollah.
Negara tersebut telah berulang kali menyerukan agar Israel menghormati kesepakatan dan menghentikan serangan lintas batas yang mengancam stabilitas.
Sementara itu, militer Israel menyatakan bahwa serangan-serangan semacam itu menargetkan posisi yang mereka klaim terkait Hezbollah atau elemen bersenjata lainnya.
Namun, banyak serangan yang juga mengenai area pemukiman sipil, memperburuk situasi kemanusiaan di Lebanon selatan dan memicu gelombang kecaman domestik maupun internasional.
Baca Juga: Berakhirnya Misi Militer AS, Irak Hadapi Tekanan Fragmentasi Internal
Kelompok Hezbollah melalui media nasionalnya kembali menegaskan komitmennya terhadap gencatan senjata, namun menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah yang telah mereka duduki sejak konflik berkepanjangan.
Gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah mulai berlaku sejak November 2024 setelah perang yang memakan korban ribuan jiwa dan melukai puluhan ribu lainnya di kedua sisi perbatasan.
Kesepakatan tersebut mensyaratkan pengurangan serangan dan penarikan pasukan, tetapi berbagai pelanggaran terus terjadi, termasuk serangan udara dan drone, yang menunjukkan kerentanan perjanjian itu dalam menahan dinamika kekerasan di kawasan.
Pelanggaran semacam ini sering menjadi pemicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah jika diplomasi tidak segera mengatasi ketegangan yang ada. []
Baca Juga: Pakta Pertahanan Mekah Siap Kerahkan Pasukan Hadapi Houthi
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic