Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga Gaza Hadapi Musim Dingin di Tengah Krisis Tempat Tinggal

Hasanatun Aliyah Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 30 September 2026 - 06:59 WIB

Rabu, 30 September 2026 - 06:59 WIB

7 Views

Ilustrasi: Kondisi kamp pengungsi di Jalur Gaza. (Quds Press)

Gaza, MINA – Warga Gaza yang mengungsi di rumah-rumah rusak dan tenda-tenda usang menghadapi musim dingin lain tanpa perlindungan yang memadai. Ini terjadi di tengah pelanggaran gencatan senjata Israel yang terus berlangsung dan pembatasan ketat terhadap masuknya bantuan kemanusiaan serta pasokan musim dingin yang vital.

Kantor Media Pemerintah (GMO) memperingatkan pada Selasa (29/9), situasi di Gaza bisa berkembang menjadi bencana kemanusiaan. Lebih dari 1,5 juta pengungsi tinggal di tenda-tenda, dan ratusan bangunan berisiko runtuh.

GMO menyebut penjajah Israel menghindari kewajibannya berdasarkan kesepakatan dan mendokumentasikan 5.147 pelanggaran yang mengakibatkan tewasnya 1.421 warga Palestina, 4.983 lainnya terluka, dan 198 orang ditahan.

GMO mengatakan pelanggaran yang terus berlangsung ini, ditambah pembatasan pasokan dan perjalanan, telah memperdalam krisis kemanusiaan di berbagai sektor di Gaza.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Ada sekitar 270.000 tenda di seluruh Jalur Gaza. Sebanyak 162.000 tenda (60 persen) di antaranya benar-benar usang dan tidak layak pakai. Akibatnya, lebih dari 1,5 juta pengungsi hidup dengan perlindungan yang tidak memadai dari dingin dan hujan, menurut GMO.

Krisis tempat tinggal juga meluas ke ribuan warga yang tinggal di rumah rusak atau tidak aman secara struktural. GMO memperingatkan bahwa lebih dari 255 bangunan berisiko runtuh kapan saja. Hal ini mengancam korban jiwa lebih lanjut dan menimbulkan kekhawatiran akan bencana serupa dengan runtuhnya Gedung as-Saada di Kota Gaza baru-baru ini.

“Akibatnya, keluarga-keluarga terpaksa membuat pilihan yang mengerikan antara tetap tinggal di tenda-tenda rusak yang tidak layak huni atau berlindung di bangunan yang rapuh secara struktural dan rentan runtuh,” kata GMO.

GMO menyerukan komunitas internasional, PBB, dan organisasi internasional untuk segera campur tangan. Mereka juga diminta memberikan tekanan berarti pada Israel untuk menghentikan serangannya terhadap warga sipil, membuka kembali penyeberangan perbatasan sepenuhnya, mengizinkan masuknya pasokan penting dan bantuan musim dingin, serta memfasilitasi perjalanan pasien dan korban luka.[]

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda