Tel Aviv, MINA – Sekitar 1,159 juta warga Arab di Israel tercatat berhak memilih dalam pemilu parlemen Knesset ke-26 pada 27 Oktober 2026. Media Israel Channel 12 melaporkan, Ahad (25/10).
Dari total 7,3 juta pemilih yang memenuhi syarat, sebanyak 6,5 juta berdomisili tetap di Israel dan sisanya tinggal di luar negeri. Di antara pemilih yang berdomisili di Israel, warga Yahudi mencakup 77 persen, termasuk 13,6 persen dari kelompok ultra-Ortodoks, sedangkan warga Arab 18 persen dan kelompok lainnya 5 persen.
Meski jumlahnya besar, suara warga Arab menghadapi dilema serius. Survei konsisten menunjukkan koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun blok oposisi Yahudi pimpinan Gadi Eisenkot dari Yashar! sama-sama sulit meraih mayoritas sendiri.
Secara hitungan, partai-partai Arab berpeluang menjadi penentu pembentukan pemerintahan. Namun hampir semua partai oposisi Yahudi menolak bergabung, bahkan sebagian menolak menerima dukungan dari luar pemerintahan, menurut analisis International Crisis Group (ICG) melalui analis seniornya, Amjad Iraqi.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan
Eisenkot menyatakan ingin membangun koalisi mayoritas Zionis dan menilai tidak ada daftar partai Arab yang memenuhi kriterianya. Syaratnya antara lain dukungan terhadap wajib militer, pengakuan Israel sebagai negara Yahudi dan demokratis, serta penyebutan Hamas sebagai organisasi teroris.
Pemimpin Together, Naftali Bennett, disebut khawatir kehilangan pemilih Yahudi yang masih terguncang serangan Hamas 7 Oktober 2023, sedangkan pemimpin Yesh Atid, Yair Lapid, enggan terikat tuntutan partai-partai Arab, dan pemimpin Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, terang-terangan memusuhi warga Palestina.
Di tengah penolakan itu, koalisi Joint List menegaskan tetap siap berperan menentukan pemerintahan berikutnya.
Berdasarkan survei Channel 12, Joint List diproyeksikan meraih delapan kursi dan United Arab List lima kursi dari 120 kursi parlemen. Joint List meyakini mandat baru bagi sayap kanan ekstrem menjadi ancaman eksistensial bagi komunitas Arab, sehingga mereka merasa berkewajiban mencegah kembalinya Netanyahu lewat jalur politik.
Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic