Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perbankan Yaman Krisis, Impor Gandum Dihentikan

Redaksi MINA - Sabtu, 17 Desember 2016 - 11:34 WIB

Sabtu, 17 Desember 2016 - 11:34 WIB

372 Views

Abu Dhabi, 17 Rabi’ul Awal 146/ 17 Desember 2016 (MINA) – Pedagang di Yaman telah berhenti impor gandum, ini pukulan lain terhadap negara yang dilanda perang ini jutaan orang menderita kekurangan gizi akut karena krisis di sentral bank.

Menurut PBB, hampir 2 tahun perang antara koalisi Arab Saudi dan gerakan sekutu Houthi di Iran meninggalkan 28 juta orang di Yaman dan 7 juta orang kelaparan dengan makanan yang tidak aman.

Pedagang dan sumber bantuan mengatakan, situasi itu diperparah bulan September ketika Yaman diasingkan oleh Presiden Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi. Beliau memerintahkan, kantor pusat sentral bank dipindahkan dari ibukota Sana’a, Yaman dan dikendalikan oleh pemberontak Houthi di utara ke pelabuhan selatan Aden.

Gerakan itu terjadi setelah bank sentral kehilangan uang 5 miliar dolar AS yang saat itu ada dalam kendali Houthi. Sebuah surat dari Fahem Group untuk Kementrian Perdagangan Yaman di Sana’a menyebutkan, “kami ingin memberitahu Anda bahwa kami telah mampu membuat kontrak baru untuk gandum, karena bank lokal tidak dapat mentransfer nilai dolar untuk setiap kargo gandum.”

Baca Juga: 47 Tahun Perang Ekonomi AS, Aset Beku Iran Capai Rp1.700 Triliun

Fahem Group ditaksir telah mengimpor 1,2 juta ton gandum ke pelabuhan Laut Merah Saleef antara April 2015-2016 dan menurut perkiraan kementerian perdagangan menyumbang 30-40 persen dari total impor gandum Yaman.

Hadi juga menambahkan, Houthi telah menyia-nyiakan 4 miliar dolar AS untuk cadangan perang dari bank sentral padahal perlu dana untuk  mengimpor makanan dan obat-obatan.

Perusahaan itu mengatakan ingin terus mengimpor gandum untuk menutup kebutuhan penduduk tetapi tidak mampu. Roti merupakan makanan utama bagi pangan orang Yaman di mana mayoritas penduduk disana lebih sering berpantang makan untuk  menurunkan berat badan.

Bank sentral bank bermaksud menopang mata uang asing yang terus berkurang akan tetapi kini telah berhenti memberikan jaminan bagi importir serta mereka membebankan biaya pengiriman kepada mereka sendiri. (T/anj/R01)

Baca Juga: Iran Alami Kerugian Rp4.625 Triliun Akibat Agresi AS-Israel

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Lebanon dan Israel Sepakat Gelar Negosiasi Langsung Usai Pertemuan di AS

Rekomendasi untuk Anda

Timur Tengah
Palestina
Timur Tengah
Internasional
Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin (foto: BPMI Setpres)
Indonesia