Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Bulan-bulan Haram sebagai Momentum Perbaikan Personal dan Sosial.
Imam Ath-Thabari Rahimahullah menjelaskan, memuliakan bulan-bulan haram berarti menjaga kehormatan waktu tersebut dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah , meninggalkan segala bentuk maksiat, serta menjaga diri dari segala bentuk permusuhan, pertikaian dan peperangan.
Sementara Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan bahwa makna فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ (jangan mendzalimi dirimu sendiri di dalamnya) adalah larangan terhadap segala bentuk dosa dan maksiat. Ini mencakup dosa kepada Allah , kepada sesama manusia, dan kepada diri sendiri, karena setiap maksiat pada hakikatnya adalah kezaliman.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Pembukaan Kembali Masjidil Aqsa Tanda Kemenangan
Namun perlu dipahami, para ulama menegaskan bahwa larangan berbuat dzalim tidak hanya berlaku di bulan-bulan haram saja, tetapi sepanjang waktu, tanpa kecuali.
Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Khutbah ke-1:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Bersegera Memenuhi Panggilan Allah dan Rasul-Nya
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di antara bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia menjadikan waktu-waktu tertentu yang memiliki keutamaan yang lebih dibanding waktu lainnya.
Ada waktu-waktu mulia, hari-hari mulia, dan ada pula bulan-bulan yang dimuliakan. Bulan- bulan tersebut dinamakan Asyhurul Hurum, yaitu bulan-bulan haram yang memiliki kedudukan yang agung dalam syariat Islam.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Meraih Kesempurnaan Kebaikan di Bulan Syawal
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Pada kesempatan Jum’at yang berbahagia ini, marilah kita merenungkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah QS. At-Taubah [9] ayat ke-36, yang berbunyi:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (التوبة [٩]: ٣٦)
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya; dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolak Hukuman Mati Tahanan Palestina
Dalam tafsir Kementerian Agama RI dijelaskan bahwa Allah telah menetapkan jumlah bulan sebanyak dua belas. Bulan yang dimaksud dalam ayat ini adalah bulan dalam kalender Qamariah karena dengan itulah Allah menetapkan waktu untuk menunaikan ibadah-ibadah, seperti haji, puasa, masa ‘iddah wanita dan lainnya.
Di antara bulan-bulan yang dua belas itu, ada empat bulan yang ditetapkan sebagai bulan haram (dimuliakan) yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharam dan Rajab. Satu atau dua hari lagi, kita akan masuk ke bulan Dhulqo’dah. Keempat bulan itu harus dihormati dan dimuliakan, yakni dengan tidak melakukan peperangan, pembunuhan dan kemaksiatan.
Ketetapan itu telah berlaku pula dalam syariat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihima Salam, sampai kepada syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.
Buya Hamka menambahkan, salah satu hikmah diberlakukannya bulan-bulan haram ini, terutama bulan Dzulqa’dah, Dzulhijah, dan Muharam adalah agar pelaksanaan haji bisa berlangsung dengan tenang dan damai.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Keistiqamahan Nilai-nilai Shaum Ramadhan
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Imam Ath-Thabari Rahimahullah menjelaskan, memuliakan bulan-bulan haram berarti menjaga kehormatan waktu tersebut dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah , meninggalkan segala bentuk maksiat, serta menjaga diri dari segala bentuk permusuhan, pertikaian dan peperangan.
Sementara Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan bahwa makna فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ (jangan mendzalimi dirimu sendiri di dalamnya) adalah larangan terhadap segala bentuk dosa dan maksiat. Ini mencakup dosa kepada Allah , kepada sesama manusia, dan kepada diri sendiri, karena setiap maksiat pada hakikatnya adalah kezaliman.
Namun perlu dipahami, para ulama menegaskan bahwa larangan berbuat dzalim tidak hanya berlaku di bulan-bulan haram saja, tetapi sepanjang waktu, tanpa kecuali.
Baca Juga: Khutbah Idul Fitri Puitis: Dari Puasa Ramadhan Menuju Keistiqamahan dalam Kehidupan
Segala bentuk kedzaliman tetap haram di semua bulan. Akan tetapi, di bulan haram, dosa tersebut menjadi lebih berat karena kemuliaan waktu yang dilanggar.
Imam Al-Qurtubi menjelaskan, pengkhususan dalam bulan-bulan haram merupakan bentuk pendidikan spiritual. Allah ingin manusia belajar menghormati waktu-waktu suci, sebagaimana kita juga diminta menghormati tempat-tempat suci. Maka seorang mukmin sejati adalah mereka yang menjaga dirinya dari dosa dan maksiat di setiap waktu, terlebih lagi di bulan-bulan mulia.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Bentuk kedzaliman yang paling besar adalah kezaliman terhadap Allah , yaitu syirik. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa syirik adalah ظُلْمٌ عَظِيْمٌ (kedzaliman yang sangat besar), karena ia menempatkan makhluk pada kedudukan yang hanya layak bagi Sang Pencipta. Inilah dosa yang paling berat, bahkan tidak akan diampuni jika tidak disertai taubat nasuha.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Hikmah Puasa untuk Kehidupan Pasca Ramadhan
Selain syirik, Imam Al-Ghazali Rahimahullah menjelaskan bahwa kedzaliman juga bisa terjadi pada diri sendiri. Setiap kelalaian dalam ketaatan, seperti: menunda shalat, meremehkan puasa, atau terus-menerus melakukan dosa kecil pada hakikatnya adalah bentuk menyakiti diri sendiri, karena menjauhkan hati dari rahmat dan keberkahan Allah.
Kedzaliman juga sering lahir dari lisan yang tidak terjaga. Ghibah, fitnah, dusta, dan ucapan yang menyakiti orang lain bukan hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi sebab kehancuran amal kebaikan.
Adapun kedzaliman terhadap sesama manusia dalam bentuk perbuatan seperti: korupsi, penipuan, kecurangan dalam transaksi, dan merampas hak orang lain, termasuk dosa besar.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menggapai Lailatul Qodar Dengan I’tikaf
(مَنْ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ اللَّهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ رواه مسلم
“Barang siapa merampas hak seorang Muslim dengan sumpahnya, maka Allah wajibkan baginya neraka dan haramkan baginya surga.” (HR. Muslim).
Islam memandang kezaliman jenis ini sangat berbahaya, karena merusak tatanan kehidupan sosial dan menimbulkan penderitaan manusia secara luas. Hal itu tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menghancurkan kepercayaan dan keadilan dalam masyarakat.
Adapun kezaliman yang dilakukan oleh orang kafir, para ulama menjelaskan bahwa mereka tetap akan diadili dengan seadil-adilnya. Karena pada prinsipnya, setiap kedzaliman pasti akan mendapatkan balasan setimpal.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Ramadhan dan Persatuan Umat untuk Pembebasan Al-Aqsa
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Adapun makna kalimat: وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّة (Dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya) Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini tidak berdiri secara mutlak, melainkan berkaitan dengan situasi peperangan yang dihadapi umat Islam pada masa itu.
Kalimat di atas bermakna perintah agar kaum Muslimin bersatu dan tidak tercerai-berai dalam menghadapi musuh yang juga memerangi mereka secara kolektif. Ini bukan sekadar perintah fisik, tetapi juga seruan untuk membangun kekuatan umat secara bersama-sama (berjamaah).
Ketika musuh Islam menyerang kaum Muslimin secara masif, seperti yang saat ini terjadi di Palestina, maka kaum Muslimin pun diperintahkan untuk menghadapi mereka dengan kesatuan dan kekuatan yang sepadan.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Ramadhan dan Al-Qur’an, Cahaya yang Menyinari Jiwa
Karena itu, umat Islam tidak boleh terpecah-belah, terutama ketika menghadapi ancaman, baik berupa ancaman fisik, pemikiran, maupun militer.
Ayat tersebut sekaligus menjadi ibrah bagi kaum Muslimin agar memiliki keberanian dan keteguhan hati. Perjuangan yang dilakukan harus dilandasi keimanan, bukan sekadar dorongan emosi atau kepentingan duniawi.
Penutup ayat di atas, وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa) mengandung pesan mendalam bahwa kemenangan sejati bukan terletak pada jumlah atau kekuatan materi, tetapi pada ketakwaan.
Imam As-Sa’di menjelaskan bahwa takwa mencakup ketaatan dalam segala aspek, termasuk dalam peperangan: tidak melampaui batas, tidak berbuat zalim, dan tetap menjaga nilai keadilan. Inilah yang membedakan peperangan dalam Islam dengan peperangan yang dilakukan kaum tidak beretika.
Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari segala bentuk kedzaliman, serta menjadikan bulan mulia ini sebagai momentum memperbaiki diri dan umat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.
Khutbah ke-2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic