Brussel, MINA – Uni Eropa (UE) untuk pertama kalinya menerima delegasi Taliban Afghanistan dalam pertemuan tertutup di Brussel, Belgia, guna membahas mekanisme pemulangan migran Afghanistan yang ditolak suakanya atau dianggap bermasalah secara hukum di negara-negara Eropa.
Pertemuan tersebut menandai kontak langsung pertama antara kedua pihak di wilayah Eropa sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021. MEMO melaporkan, Selasa (23/6).
Delegasi Taliban yang dipimpin juru bicara Kementerian Luar Negeri Afghanistan, Abdul Qahar Balkhi, menyebut pertemuan itu sebagai langkah bersejarah.
Selain isu deportasi, kedua pihak juga membahas pembangunan kepercayaan, kemungkinan kehadiran layanan diplomatik Afghanistan di Eropa, serta pengaturan proses pemulangan warga Afghanistan yang disebut berlangsung secara “bermartabat”.
Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya
Komisi Eropa menegaskan bahwa dialog tersebut bersifat teknis dan tidak berarti pengakuan resmi terhadap pemerintahan Taliban.
Pertemuan yang dipimpin bersama oleh Komisi Eropa dan Swedia itu dihadiri perwakilan dari 15 negara anggota UE sebagai tindak lanjut pembicaraan serupa yang sebelumnya berlangsung di Kabul pada Januari lalu.
Langkah UE membuka jalur komunikasi dengan Taliban memicu kritik dari organisasi hak asasi manusia dan sejumlah tokoh internasional.
Mereka menilai pertemuan itu berpotensi memberikan legitimasi politik kepada Taliban, yang hingga kini masih mendapat sorotan dunia atas berbagai pembatasan terhadap hak-hak perempuan dan anak perempuan di Afghanistan.
Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa
Di sisi lain, sejumlah negara Eropa tengah menghadapi tekanan domestik untuk memperketat kebijakan migrasi dan mempercepat pemulangan pencari suaka yang permohonannya ditolak.
Afghanistan sendiri merupakan salah satu negara asal pencari suaka terbesar di Eropa. Namun, proses deportasi selama ini terkendala minimnya hubungan diplomatik antara negara-negara Eropa dan otoritas Taliban.
Pembahasan deportasi tersebut berlangsung di tengah krisis kemanusiaan yang masih melanda Afghanistan. Data lembaga internasional menunjukkan lebih dari 17 juta warga Afghanistan menghadapi kerawanan pangan, sementara negara itu juga menerima gelombang warga yang kembali dari Iran dan Pakistan.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pemulangan paksa migran dapat memperburuk situasi kemanusiaan dan menimbulkan risiko baru bagi para deportan. []
Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic