Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pesan Keislaman R.A. Kartini dalam Surat-Suratnya

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 21 April 2026 - 04:28 WIB

Selasa, 21 April 2026 - 04:28 WIB

87 Views ㅤ

Ilustrasi: RA Kartini (ist)

SETIAP tanggal 21 April, bangsa Indonesia mengenang Raden Adjeng Kartini. Namanya harum sebagai pahlawan emansipasi wanita yang memperjuangkan hak perempuan untuk meraih pendidikan dan derajat yang setara.

Namun, di balik semangat kemajuannya, ada sisi lain yang tak kalah penting, yaitu perjalanan batin Kartini mencari cahaya Islam. Dari kegelisahan karena tak memahami kitab sucinya, hingga akhirnya menemukan pencerahan spiritual melalui seorang kiai besar. Inilah kisahnya, yang tersurat dalam surat-suratnya yang terkenal.

Kartini Kecil: Dipingit, Tapi Haus Baca

R.A. Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879, dari keluarga priyayi Jawa. Ayahnya, R.M.A.A. Sosroningrat, adalah seorang bupati.

Baca Juga: Ketulusan Cinta Indonesia-Palestina, Makna Ciuman Kening Dubes Palestina kepada Imaam Yakhsyallah Mansur

Sebagai anak bangsawan, Kartini kecil beruntung bisa bersekolah di ELS (Europese Lagere School) hingga usia 12 tahun. Di sana ia belajar bahasa Belanda dan menyerap banyak pengetahuan. Namun, setelah itu, masa kecilnya berakhir. Seperti gadis pribumi pada zamannya, ia harus menjalani pingitan (tinggal di rumah), menunggu waktu dinikahkan. Ia tak diizinkan melanjutkan sekolah.

Kartini kecil sedih. Ia ingin melawan, tetapi takut disebut durhaka. Untuk menghibur hati, ia membaca. Segala buku pelajaran, surat kabar, dan bacaan lain ia lahap. Jika ada yang tak ia pahami, ia bertanya pada ayahnya. Dari sinilah, ia mulai tertarik pada kemajuan perempuan Eropa yang saat itu sedang menjajah bangsanya sendiri.

Namun, ketertarikannya itu bukan untuk menjadi “kebarat-baratan”. Ia justru ingin memajukan perempuan bangsanya. Ia pun mulai mengajari teman-teman perempuannya membaca, menulis, dan ilmu pengetahuan.

Surat-Surat yang Menggugah

Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?

Di tengah kesibukan mengajar, Kartini rajin berkirim surat dengan sahabat-sahabatnya di Belanda. Salah satunya adalah Mr. J.H. Abendanon, seorang pejabat kolonial yang kemudian menjadi kolektor surat-suratnya.

Kartini sempat bermimpi mendapat beasiswa belajar ke Belanda. Namun, mimpi itu tak sempat terwujud. Ia dinikahkan dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang. Beruntung, suaminya mendukung cita-citanya. Bersama, mereka mendirikan Sekolah Wanita di berbagai kota seperti Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan Malang. Sekolah itu dikenal dengan nama “Sekolah Kartini”.

Setelah Kartini wafat pada 17 September 1904, di usia muda 25 tahun, Abendanon mengumpulkan surat-suratnya dan membukukannya dengan judul “Door Duisternis tot Licht” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Namun, tahukah Anda? Sebelum terang itu benar-benar ia rasakan, Kartini sempat berada dalam kegelapan pemahaman agama.

Baca Juga: Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan

Kegelisahan Seorang Muslimah

Dalam suratnya kepada sahabatnya, Stella Zihandelaar, tertanggal 6 November 1899, Kartini meluapkan keresahannya yang mendalam. Ia menulis:

“Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?”

Kartini juga menyoroti praktik pembelajaran Al-Qur’an saat itu yang hanya sekadar membaca tanpa makna. “Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.”

Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban

Ia melanjutkan, “Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Aku pikir, tidak jadi orang saleh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu, Stella?”

Hatinya semakin terasa perih. Dalam surat lain kepada Ny. Abendanon, 15 Agustus 1902, ia kembali mengeluh:

“Aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Kitab ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.”

Inilah kegelapan yang dirasakan Kartini. Gelap karena tak memahami wahyu Tuhannya sendiri.

Baca Juga: Ketika Warga Eropa Berdemo, Apa Tuntutan Mereka?

Berguru ke Kiai Sholeh Darat

Kegelapan itu mulai sirna ketika Kartini bertemu dengan seorang ulama besar, Kiai Sholeh bin Umar, atau yang lebih dikenal sebagai Kiai Sholeh Darat dari Semarang.

Kisah pertemuan ini diceritakan oleh Fadhila Sholeh, cucu sang kiai. Suatu hari, Kartini menghadiri pengajian di rumah pamannya, Bupati Demak. Saat itu, Kiai Sholeh Darat sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah. Sepanjang pengajian, Kartini terpana. Kata demi kata dari sang kiai menusuk kalbunya. Untuk pertama kalinya, ia memahami makna surat yang setiap hari ia baca.

Setelah pengajian, Kartini meminta pamannya mengantarnya menemui sang kiai. Maka terjadilah dialog yang menggetarkan.

Baca Juga: Perang Digital atas Masjid Al-Aqsa

Kartini membuka suara, “Kiai, perkenankan saya bertanya. Bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?”

Kiai Sholeh tertegun sejenak. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”

“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” jawab Kartini.

Ia melanjutkan dengan nada heran, “Namun, mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa? Bukankah Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Baca Juga: Rekam Jejak pada Penjajah Israel: Ketika Panggung Borobudur dan Jakarta Dipertaruhkan demi Bocelli

Pernyataan Kartini itu seperti cambukan. Kiai Sholeh Darat tersadar. Ia pun memulai pekerjaan besarnya: menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Tantangannya berat. Penjajah Belanda saat itu secara resmi melarang penerjemahan Al-Qur’an. Namun dengan cerdik, Kiai Sholeh melanggar larangan itu. Ia menulis terjemahannya dalam huruf Arab gundul (Arab Melayu), sehingga tidak dicurigai penjajah.

Kartini pun sangat terkesan. Ia berkomentar:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikit pun maknanya. Namun sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Kitab terjemahan dan tafsir itu diberi nama Faidhur-Rohman. Ini adalah tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab itulah yang dihadiahkan Kiai Sholeh kepada Kartini.

Baca Juga: Muhammad adalah Nama Mulia

Melalui terjemahan itulah Kartini menemukan ayat yang sangat menyentuh hatinya: “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.” (Q.S. Al-Baqarah: 257)

Perubahan Pandangan, Menuju Hamba Allah

Pertemuan dengan Kiai Sholeh Darat mengubah cara pandang Kartini secara fundamental. Ia tidak lagi buta memuja peradaban Barat.

Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902, ia menulis:

Baca Juga: Tiga Tahun Thufan Al-Aqsa: Gaza Bertahan, Perlawanan Berlanjut, Solidaritas Dunia Berpihak

“Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban? Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.”

Kartini kini memiliki misi baru. Dalam suratnya kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902, ia bertekad:

“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai.”

Dan puncaknya, dalam surat terakhirnya kepada Abendanon, 1 Agustus 1903, Kartini menulis kalimat yang mengharukan, “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.”

Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia

Lebih dari Sekadar Emansipasi

Hari Kartini bukan sekadar mengenang perjuangan seorang perempuan yang memerdekakan kaumnya dari kebodohan. Lebih dari itu, Kartini mewariskan semangat spiritual yang luar biasa: semangat untuk terus menggali ilmu, tidak menerima dogma secara buta, dan berusaha memahami firman Allah dengan akal dan hati yang jernih.

Kartini berhasil keluar dari kegelapan karena ia tidak berhenti bertanya. Dan cahaya itu akhirnya ia temukan dari Al-Qur’an yang ia pahami.

Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu “Ibu Kita Kartini”, pun ikut mengabadikan semangatnya: “Ibu Kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya. Ibu kita Kartini, pendekar bangsa, pendekar kaumnya, untuk merdeka…”

Kini, mari kita teladani Kartini dengan semangat belajarnya yang tak pernah padam dan kecintaannya pada Al-Qur’an yang ia perjuangkan untuk dapat dipahami. Karena sebagaimana Kartini, kita pun ingin keluar dari kegelapan menuju cahaya. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda