Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PM Al-Zaidi Tegaskan Sudah Tak Ada Lagi Militer AS di Irak

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:06 WIB

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:06 WIB

17 Views ㅤ

PM Irak Ali Zaidi (foto: (foto: INA)

Baghdad, MINA – Perdana Menteri Irak Ali Faleh Al-Zaidi menyatakan tidak ada lagi personel militer Amerika Serikat (AS) di negaranya, termasuk yang bertugas sebagai penasihat.

Dalam wawancara dengan Iraq News Agency (INA) pada Jumat (23/10), ia juga menegaskan seluruh senjata harus berada di bawah kendali negara paling lambat 30 Juni 2027.

Al-Zaidi menyebut ketiadaan pasukan asing menghilangkan alasan yang selama ini dipakai sejumlah faksi bersenjata untuk mempertahankan persenjataan mereka.

Ia mengklaim pemerintah telah mencapai kesepakatan soal senjata dengan tiga faksi dan masih bernegosiasi dengan empat faksi lainnya. Keputusan membatasi kepemilikan senjata pada institusi negara, katanya, bersifat final.

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Baghdad dan Washington menyepakati penarikan bertahap pasukan koalisi pimpinan AS pada September 2024. Irak mengumumkan berakhirnya misi militer koalisi pada 30 September 2026, dan Pentagon mengonfirmasi penarikan personel serta peralatan dari Pangkalan Udara Erbil.

Hubungan kedua negara kini beralih ke kerja sama keamanan berupa pelatihan dan berbagi intelijen, dan Al-Zaidi menyatakan Irak tetap memperkuat kemitraan strategis dengan AS.

Di tengah perang regional, Al-Zaidi menegaskan Irak tidak akan terlibat dalam konflik mana pun. Ia menolak penutupan perbatasan dengan Iran karena dinilai akan memukul ekonomi Irak sendiri.

Ia juga menyebut gangguan di Selat Hormuz menghalangi Irak menikmati kenaikan harga minyak. Karena itu, pemerintah berupaya mengaktifkan kembali jalur ekspor lewat Pelabuhan Ceyhan di Turkiye dan menargetkan kapasitas produksi 10 juta barel per hari pada 2032.

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Upaya perlucutan senjata masih menghadapi tantangan. Sejumlah faksi yang didukung Iran, seperti Kataib Hezbollah dan Harakat al-Nujaba, sebelumnya menyatakan menolak menyerahkan senjata.

Sementara itu, faksi besar lain seperti Saraya al-Salam pimpinan Muqtada al-Sadr, Asaib Ahl al-Haq, dan Kataib Imam Ali dilaporkan telah menyerahkan senjata dan beralih ke kegiatan sipil. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Internasional
Internasional
Dunia Islam