Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump Sebut Keterlibatan Pasukan AS di Irak Sebagai Keputusan yang Buruk

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:47 WIB

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:47 WIB

30 Views ㅤ

Presiden AS Donald Trump. (Foto: The White House)

Washington, MINA —Presiden AS Donald Trump mengatakan, keterlibatan AS di Irak berawal dari pengambilan keputusan yang sangat buruk dan menggambarkan konflik tersebut sebagai situasi sulit yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Amerika Serikat (AS) resmi menyelesaikan penarikan seluruh pasukannya dari Irak setelah menjalankan misi kontra-ISIS selama 12 tahun. Pasukan terakhir meninggalkan Pangkalan Udara Erbil, Irak utara, pada Rabu (30/9), menandai berakhirnya Operation Inherent Resolve di negara tersebut. INA melaporkan.

Pentagon menyebut penarikan itu sebagai transisi dari misi koalisi masa perang menuju hubungan pertahanan bilateral antara Washington dan Baghdad. Tanggung jawab utama menghadapi ancaman keamanan yang tersisa, termasuk sisa-sisa ISIS dan kelompok milisi yang berafiliasi dengan Iran, kini berada di tangan pemerintah Irak.

Operasi Inherent Resolve dibentuk pada 2014 untuk memerangi ISIS setelah kelompok tersebut menguasai wilayah luas di Irak dan Suriah.

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Pemerintah Irak menyatakan kemenangan teritorial atas ISIS pada 2017, tetapi misi militer AS dan koalisi berlanjut untuk membantu pasukan Irak mencegah kebangkitan kembali kelompok tersebut.

Meski pasukan AS telah meninggalkan Irak, Washington tidak sepenuhnya menghentikan kerja sama keamanan dengan Baghdad.

Misi kontra-ISIS tetap berjalan dari Yordania, sementara AS menyatakan akan melanjutkan dukungan berupa pelatihan dan berbagi intelijen untuk membantu Irak menghadapi ancaman terorisme.

Penarikan tersebut sekaligus mengakhiri babak penting keterlibatan militer AS di Irak yang bermula dari invasi 2003 untuk menggulingkan Saddam Hussein.

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Sejumlah pengamat memperingatkan adanya tantangan keamanan baru, termasuk kemungkinan bangkitnya kembali sel ISIS dan meningkatnya pengaruh kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran.

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Internasional
Internasional
Amerika
Amerika