Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden MAPIM: Kiblat yang Hilang, Refleksi Kesatuan, Rujukan, dan Kedaulatan Umat

Arief Rahman Editor : Rudi Hendrik - Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:56 WIB

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:56 WIB

13 Views ㅤ

Persidangan Masjid Serantau diselenggarakan oleh Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM), Sabtu hingga Ahad, 30 Agustus 2026. (FOTO: ARIEF RAHMAN/MINA)

Ipoh, MINA – Presiden Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM), Mohd Azmi Abd Hamid, atau akrab disapa Cikgu Azmi, menyampaikan ucapan utama (keynote) dalam sesi pembukaan Persidangan Masjid Serantau 2026 di Casuarina Convention Centre, Hotel Casuarina @ Meru, Ipoh, Perak, Malaysia (29/8).

Dalam ucapannya, ia mengurai makna mendalam “kiblat” yang menurutnya telah lama hilang dari kehidupan umat Islam, sekaligus mengaitkannya dengan kondisi Masjid Al-Aqsa hari ini.

Al-Aqsa, Kakbah, dan kepemimpinan umat yang runtuh

Cikgu Azmi mengawali ucapannya dengan menegaskan keterkaitan erat antara Masjid Al-Aqsa dengan Kakbah, kepemimpinan umat, serta sejarah kiblat pertama umat Islam. Ia menyebut, seluruh keterkaitan itu kini “hancur luluh” seiring hilangnya pemahaman umat terhadap makna sesungguhnya dari kiblat.

Baca Juga: Türkiye dan Pakistan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Saudi

Tiga makna kiblat yang mulai luntur

Menurut Cikgu Azmi, kiblat memiliki tiga makna mendasar yang menurutnya kini telah luntur dari kehidupan umat Islam.

Pertama, katanya, kiblat bermakna kesatuan atau unity. “Arti kiblat ialah kesatuan, kesatuan fokus umat,” ujarnya. Ia menilai kesatuan itu telah patah, tercermin dari berbagai perpecahan yang melanda umat—mulai dari friksi Sunni-Syiah, perbedaan pemahaman di kalangan sesama Sunni, perpecahan antarulama, cendekiawan, institusi, partai politik, hingga antarnegara Muslim.

Kedua, kiblat bermakna rujukan (a reference), yakni Allah dan Sunnah Rasul sebagai asas rujukan umat. Cikgu Azmi menyoroti bahwa rujukan tersebut kini telah bergeser. “Makkah tidak lagi menjadi rujukan kita, Madinah tidak lagi menjadi rujukan kita. Rujukan kita adalah New York, Washington, London, Beijing, Moscow,” ungkapnya. Ia menyayangkan pergeseran ini turut membuat Makkah, yang seharusnya menjadi pusat kekuatan spiritual umat, kini lebih banyak difungsikan sebagai pusat pariwisata ketimbang pusat pembebasan semangat perjuangan umat.

Baca Juga: Berakhirnya Misi Militer AS, Irak Hadapi Tekanan Fragmentasi Internal

Ketiga, kiblat bermakna kedaulatan (sovereignty)—yaitu tidak bergantung pada pihak lain, baik dalam hal pangan, pertahanan, maupun ekonomi. Cikgu Azmi mencontohkan ketergantungan umat pada teknologi, pangan, dan sistem pertahanan asing, serta menyinggung posisi Iran yang menurutnya “berdiri sendirian” menghadapi tekanan internasional. Ia juga mengkritik ketergantungan negara-negara Muslim pada dolar Amerika Serikat dalam perdagangan minyak, yang menurutnya menjadi bentuk hegemoni ekonomi yang melemahkan kedaulatan umat.

Seruan agar masjid tak lagi netral

Di bagian akhir ucapannya, Cikgu Azmi menyoroti kecenderungan yang menuntut masjid-masjid di seluruh dunia bersikap netral dan tidak berpihak terhadap berbagai persoalan umat, termasuk isu Al-Aqsa dan Palestina. Ia menilai sikap netral tersebut sebagai kekeliruan besar, karena ketiadaan keberpihakan pada dasarnya justru menjadikan pihak yang diam turut bersekongkol dengan ketidakadilan yang terjadi.

Ia mengingatkan bahwa populasi umat Islam yang mencapai 1,8 miliar jiwa di seluruh dunia saat ini belum menjadi kekuatan yang mampu dimobilisasi untuk kebangkitan bersama.

Baca Juga: Pakta Pertahanan Mekah Siap Kerahkan Pasukan Hadapi Houthi

Menutup dengan seruan kebangkitan

Mengakhiri ucapannya, Cikgu Azmi menegaskan bahwa umat Islam hari ini tidak memiliki pilihan lain selain bangkit, melawan, dan berjuang, atau tunduk dan menjadi bangsa yang terjajah. Ia berharap forum Persidangan Masjid Serantau 2026 dapat menjadi ruang refleksi mendalam bagi seluruh peserta untuk memikirkan langkah nyata mengembalikan kekuatan dan daya tahan (resilience) masjid sebagai representasi daya tahan umat secara keseluruhan.

Pesan tersebut turut ditegaskan kembali sebelum sesi persidangan berlanjut ke panel kedua, bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak semata diukur dari kemajuan ekonomi, melainkan juga dari keutuhan dan keharmonisan institusi keluarga serta kepedulian terhadap masyarakat sekitar. Potensi masjid pun ditegaskan tidak boleh dibatasi sekadar sebagai tempat menunaikan ibadah, sejalan dengan pesan utama Cikgu Azmi bahwa masjid harus kembali menjadi pusat kekuatan dan daya tahan umat secara menyeluruh.

Selain dihadiri oleh perwakilan pengurus masjid dari seluruh Malaysia, sesi pembukaan ini turut dihadiri sejumlah delegasi dari Indonesia, di antaranya Abdullah Hehamahua, mantan Penasihat KPK, perwakilan Jamaah Muslimin (Hizbullah) Agus Sudarmaji, perwakilan Aqsa Working Group Biro Malaysia Dudin Shobarudin, dan Pemimpin Umum Kantor Berita MINA Arief Rahman. Konferensi akan berakhir pada Ahad 30/8 dengan agenda pembacaan deklarasi. []

Baca Juga: Arab Saudi akan Regularkan Status Tinggal Warga Negara Ilegal Yaman

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda