Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sharif Abu Shammala: Makna Al-Aqsa Menuntut Usaha Maksimal Umat untuk Pembebasannya

Arief Rahman Editor : Rudi Hendrik - Ahad, 30 Agustus 2026 - 00:32 WIB

Ahad, 30 Agustus 2026 - 00:32 WIB

21 Views ㅤ

Ketua Pegawai Eksekutif (CEO) Yayasan Al Quds Malaysia (QFM), Sharif Abu Shammala, menyampaikan pidato khusus dalam acara Malam Gala Alam Palestin dan Al Aqsa 29/8, (Foto : Arief MINA)

Ipoh, MINA – Ketua Pegawai Eksekutif (CEO) Yayasan Al Quds Malaysia (QFM), Sharif Abu Shammala, menyampaikan pidato khusus dalam Malam Gala Amal Palestin dan  Al Aqsa, rangkaian Persidangan Masjid Serantau 2026, di Casuarina Convention Centre, Hotel Casuarina @ Meru, Ipoh, Perak, Malaysia, Sabtu malam (29/8/2026). Dalam pidatonya, ia mengurai makna mendalam kata “Al Aqsa” serta sejarah panjang perjuangan pembebasannya.

Dua makna Al Aqsa: yang terjauh dan yang maksimal

Sharif menjelaskan, dalam bahasa Arab, kata “Al Aqsa” bukan sekadar nama, melainkan juga memiliki makna tersendiri. Menurutnya, Al Aqsa memiliki dua makna: pertama, tempat yang paling jauh; dan kedua, yang maksimal.

“Jika kita memahami dengan baik makna Al Aqsa, kita harus melakukan yang terbaik dan usaha maksimal kita untuk membebaskan Al Masjid Al Aqsa Al Mubarak. Al Masjid Al Aqsa Al Mubarak bukanlah sesuatu yang sederhana, ia membutuhkan usaha maksimal untuk dibebaskan,” ujarnya.

Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya

Kisah Sahabiyah Maimunah binti Sa’d dan hadis tentang Baitul Maqdis

Sharif mengingatkan kisah Maimunah binti Sa’d, seorang sahabiyah Rasulullah SAW yang dahulu berstatus budak sebelum akhirnya dimerdekakan. Ia menceritakan, Maimunah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang keutamaan Baitul Maqdis atau Al Masjid Al Aqsa.

Rasulullah SAW, menurut riwayat yang disampaikan Sharif, menjawab bahwa Baitul Maqdis adalah tanah tempat manusia dikumpulkan dan dibangkitkan kelak pada hari kiamat, serta setiap shalat yang dilakukan di Al Masjid Al Aqsa bernilai seribu kali lipat shalat di tempat lain.

Ketika Maimunah bertanya bagaimana jika tidak mampu mengunjungi Al Masjid Al Aqsa, Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengirimkan minyak sebagai sumbangan bagi penerangan lampu-lampu Al Masjid Al Aqsa, sebagai bentuk agar umat tidak membiarkan Al Aqsa sendirian.

Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa

Sharif menegaskan, Al Masjid Al Aqsa bukan sekadar tempat shalat semata, melainkan tempat Isra Rasulullah SAW, sehingga umat wajib bergerak dan mengerahkan usaha maksimal untuk membebaskannya. Ia turut menyebut, terdapat sedikitnya 40 hadis sahih yang berbicara tentang keutamaan dan adab memuliakan Al Masjid Al Aqsa serta Baitul Maqdis.

Kisah Mimbar Salahuddin Al Ayyubi

Dalam bagian lain pidatonya, Sharif mengisahkan sejarah mimbar bersejarah yang dikenal dengan nama Mimbar Salahuddin. Ia menceritakan, mimbar tersebut awalnya dipesan oleh Nuruddin Zengi, pemimpin yang memulai gerakan jihad pembebasan Al Masjid Al Aqsa dari pendudukan Tentara Salib. Meski Allah SWT belum menakdirkan pembebasan terjadi pada masa kepemimpinannya, perjuangan itu dilanjutkan oleh Salahuddin Al Ayyubi hingga akhirnya berhasil membebaskan Al Masjid Al Aqsa dan Baitul Maqdis.

Mimbar buatan Nuruddin Zengi itu kemudian dibawa Salahuddin ke Al Masjid Al Aqsa dan digunakan untuk khutbah pertama setelah pembebasan. Sharif menyebut, mimbar bersejarah tersebut kemudian dibakar pada 1969 oleh seorang ekstremis Zionis asal Australia yang juga merupakan pemukim ilegal di Israel, sebagai upaya menghancurkan simbol perjuangan pembebasan Al Aqsa.

Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik

Ancaman pembagian Al Aqsa oleh Israel

Sharif menyampaikan keprihatinannya atas situasi Al Masjid Al Aqsa yang menurutnya kini menghadapi ancaman paling berbahaya. Ia menjelaskan, Israel tengah berupaya membagi Al Masjid Al Aqsa, baik secara waktu—dengan membatasi akses umat Islam pada waktu-waktu tertentu sembari mengizinkan pemukim ilegal memasuki kompleks Al Aqsa—maupun secara fisik, dengan memotong sebagian area Al Aqsa untuk pembangunan sinagoge di sisi timur kompleks.

Ia turut menyoroti kondisi warga Palestina yang menurutnya membayar mahal harga mempertahankan Al Aqsa dengan darah, rumah, dan kebebasan mereka, di tengah pembunuhan, penahanan, dan pembatasan akses yang terus dilakukan otoritas Israel terhadap warga Palestina yang hendak memasuki Al Quds.

Seruan usaha maksimal untuk pembebasan Al Aqsa

Baca Juga: Saudi Koordinasi dengan NATO dan Eropa Bahas Perkembangan Kawasan

Menutup pidatonya, Sharif mengajak seluruh peserta untuk tidak memberi ruang bagi upaya-upaya tersebut dan menjadi mujahidin yang sungguh-sungguh dalam perjuangan membebaskan Al Masjid Al Aqsa Al Mubarak, melalui usaha, pemikiran, dan kerja secara maksimal.

Malam Gala Amal Palestin dan  Al Aqsa yang menjadi rangkaian Persidangan Masjid Serantau 2026 ini turut dihadiri oleh pengurus masjid dari seluruh Malaysia, tokoh agama, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam se-Asia Tenggara. Sejumlah delegasi dari Indonesia turut hadir dalam acara ini, di antaranya Abdullah Hehamahua, mantan Penasihat KPK, perwakilan Jamaah Muslimin (Hizbullah) Agus Sudarmaji, perwakilan Aqsa Working Group Biro Malaysia Dudin Shobarudin, dan Pemimpin Umum Kantor Berita MINA Arief Rahman.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Qatar Bantah Campur Tangan di Pemilu Israel: “Tuduhan Konyol dan Berbahaya!”

Rekomendasi untuk Anda