Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Qurban dan Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Senin, 11 Mei 2026 - 03:53 WIB

Senin, 11 Mei 2026 - 03:53 WIB

62 Views ㅤ

ilustrasi seorang anak yang mengantar hewan qurban (foto: Fpik)

PELAKSANAAN ibadah qurban tidak pernah lepas dari keteladanan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam beserta keluarganya. Ia adalah gambaran keluarga yang taat lagi berbakti kepada Allah. Keluarga yang saling menguatkan, saling melengkapi, saling mengingatkan, saling menasihati, dan saling menjaga agar senantiasa menjadi hamba-hamba-Nya yang setia.

Sebuah keluarga yang sabar, tabah, dan kuat menghadapi berbagai ujian kehidupan. Sekaligus keluarga yang mampu melawan godaan setan dengan penuh tawakal kepada Allah.

Lihatlah kisah Siti Hajar, isteri Nabi Ibrahim, saat ditinggalkan bersama puteranya yang masih bayi, Ismail ‘Alaihis Salam, di tengah padang pasir yang tandus di dekat Baitullah kala itu. Hanya dengan bekal sedikit kurma dan air.

Saat Nabi Ibrahim hendak berangkat kembali ke wilayah Baitul Maqdis, Siti Hajar mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah engkau wahai Nabiyullah Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada seorang pun dan tiada apa pun?”

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Ia mengulangi pertanyaannya berkali-kali. Namun Nabi Ibrahim hanya diam, tak kuasa menjawab. Betapa hatinya yang lembut dan penuh kasih itu tak tega melihat kedua manusia yang dicintainya, tetapi ia harus memenuhi amanah dan perintah Allah.

Lalu, dengan penuh keimanan yang kokoh, Siti Hajar bertanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?”

“Benar,” jawab Ibrahim.

Maka Siti Hajar pun berkata dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan: “Jika demikian, Allah pasti tidak akan menelantarkan kami.”

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Inilah puncak ketawakalan. Inilah hasbunallah wani’mal wakil (cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung).

حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ – نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِير

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung… Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 173; Q.S. Al-Anfal [8]: 40).

Penghormatan Abadi untuk Hajar

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Beberapa hari kemudian, bekal habis. Siti Hajar kehausan, dan bayinya pun menangis. Dengan penuh cinta, ia beranjak mendaki Bukit Shafa, mencari pertolongan. Tak menemukan apa pun, ia berlari menuju Bukit Marwah. Tujuh kali ia bolak-balik, sebuah perjuangan yang tak kenal lelah, digerakkan oleh cinta seorang ibu dan keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang bertawakal.

Hingga akhirnya, pertolongan datang. Air Zam-Zam memancar dari bawah kaki Ismail yang mungil.

Hingga hari ini, umat Islam dari seluruh penjuru dunia, dalam ibadah umrah dan haji, menapaktilasi perjuangan Siti Hajar. Sa’i antara Shafa dan Marwah, sepanjang 450 meter bolak-balik sebanyak tujuh kali (total 3,15 km), adalah penghormatan abadi yang Allah abadikan untuk seorang ibu yang sabar, tabah, dan tak pernah putus asa.

Siti Hajar bukan hanya patut diteladani karena usahanya mencari air, tetapi karena kesabaran jiwanya, ketabahan hatinya, keteguhan imannya, ketaatan amalnya, dan ketawakalannya yang sempurna kepada Allah.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Nabi Ismail, Anak Shalih yang Sabar

Puncak dari semua keteladanan ini adalah ketika perintah suci turun kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail ‘Alaihis Salam.

Allah berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

“Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai pada usia sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi (wahyu) bahwa aku menyembelihmu…'” (Q.S. Ash-Shaffat [37]: 102).

Bayangkanlah betapa beratnya ujian ini. Tetapi lihatlah jawaban Nabi Ismail, seorang anak yang masih belia, namun imannya begitu matang:

قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ

“Ia menjawab: ‘Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (Q.S. Ash-Shaffat [37]: 102).

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Subhanallah. Sebuah keluarga yang dibangun di atas fondasi tauhid, di atas ketaatan, di atas pengorbanan, dan di atas rasa saling percaya kepada Allah.

Begitulah, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah kepala keluarga yang taat. Siti Hajar adalah isteri shalihah yang patuh kepada suami sekaligus kepada Allah. Dan Ismail ‘Alaihis Salam adalah anak shalih yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan kepada Tuhannya.

Merekalah keluarga sakinah, mawaddah, wa Rahmah, keluarga yang penuh ketenangan, cinta, dan kasih saying, yang dicontohkan oleh Allah untuk kita teladani.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari keteladanan mereka. Semoga ibadah qurban dan shalat kita diterima di sisi-Nya. Dan semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa, yang senantiasa bersyukur, dan yang tidak pernah putus asa dari rahmat Allah.

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Aamiin, ya Rabbal ‘alamin. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Rekomendasi untuk Anda

Dunia Islam
Tausiyah
Palestina
Khutbah Jumat