Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rajab Bulan Menanam, Sya’ban Menyiram, Ramadhan Memanen

Ali Farkhan Tsani Editor : Rudi Hendrik - Jumat, 26 Desember 2025 - 21:34 WIB

Jumat, 26 Desember 2025 - 21:34 WIB

18 Views ㅤ

Ilustrasi

WAKTU berjalan tanpa pernah menunggu kesiapan kita. Hari-hari berlalu, pekan berganti, bulan baru muncul, tahun pun bertambah. Sementara jatah usia terus berkurang.

Dalam perjalanan itu, bagi ruhani seorang mukmin, Allah menghadirkan tiga bulan agung sebagai madrasah jiwa, yaitu bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan.

Para ulama salaf menggambarkannya dengan indah, “Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.”

Rajab adalah saat menanam niat dan tekad. Benih-benih taubat ditanam di tanah hati yang lama mengeras oleh kelalaian.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Di bulan Rajab ini, seorang hamba mulai bertanya pada dirinya: ke mana arah hidupku? Ia membersihkan ladang hatinya dari gulma dosa, mulai memperbaiki shalat, menjaga lisan, dan menata kembali hubungan dengan Allah dan sesame manusia.

Benih itu mungkin belum tampak hasilnya. Namun tanpa menanam, mustahil berharap panen.

Ketika benih telah ditanam, Sya’ban datang sebagai bulan penyiraman. Tanpa air yang cukup, benih akan mengering dan mati. Maka Sya’ban adalah waktu latihan, pembiasaan, dan penguatan amal sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Rasulullah ﷺ memberi teladan yang sangat jelas. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa dalam satu bulan lebih banyak daripada di bulan Sya’ban.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Puasa sunnah, tilawah Al-Qur’an, shalat malam, sedekah, dan istighfar diperbanyak. Bukan karena Ramadhan belum cukup mulia, tetapi karena jiwa perlu dipersiapkan agar mampu menyambut kemuliaannya.

Sya’ban juga bulan ketika amal-amal diangkat kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (H.R. An-Nasa’i).

Maka Sya’ban bukan bulan biasa. Ia adalah jembatan menuju Ramadhan, sekaligus cermin kejujuran iman. Maka, siapa yang bersungguh-sungguh pada bulan Sya’ban, insya Allah akan dikuatkan pada Ramadhan.

Maka, Ramadhan bukan bulan untuk memulai segalanya dari nol, tetapi bulan panen. Panen dari benih taubat Rajab dan siraman amal Sya’ban. Mereka yang mempersiapkan diri akan merasakan Ramadhan sebagai bulan yang ringan, nikmat, dan penuh keberkahan.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Sebaliknya, tanpa persiapan, Ramadhan sering terasa berat, berlalu cepat tanpa bekas, dan pergi tanpa perubahan signifikan.

Karena itu, bulan Sya’ban adalah bulan latihan menahan lapar sebelum puasa wajib, latihan memperpanjang sujud sebelum tarawih, latihan dekat dengan Al-Qur’an sebelum khatam pada bulan Ramadhan, serta latihan ikhlas sebelum malam Lailatul Qadar datang. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Tausiyah
Tausiyah
Artikel
Artikel
Kolom