Semarang, MINA – Keterampilan menulis dinilai bukan lagi sekadar kemampuan tambahan bagi kalangan santri, melainkan kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi digital.
Hal itu ditegaskan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maemoen, usai menerima audiensi penyelenggara Gerakan Santri Menulis (GSM) di Semarang, Senin (23/2/) malam.
Menurut pria yang akrab disapa Gus Yasin itu, pesantren memiliki fondasi kuat dalam tradisi literasi dan ketelitian ilmiah.
Ia mencontohkan, dalam kajian hadis dikenal verifikasi ketat terhadap matan dan sanad sebagai bentuk pertanggungjawaban keilmuan. Tradisi tersebut dinilai relevan untuk menjawab tantangan informasi di era digital.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
“Kalau pesantren diajak melaksanakan pelatihan menulis, itu sudah tepat. Di pesantren sudah ada pembelajaran tentang keabsahan tulisan yang sangat ketat,” ujarnya.
Gus Yasin menyoroti kemudahan masyarakat dalam menyebarkan informasi melalui berbagai platform media sosial.
Perkembangan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), diakui membawa manfaat, namun juga berpotensi disalahgunakan untuk memproduksi dan menyebarkan informasi yang menyesatkan.
Karena itu, pelatihan jurnalistik bagi santri dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat literasi digital sekaligus menjadi benteng terhadap hoaks.
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Dalam pelatihan tersebut, santri tidak hanya diajarkan teknik menulis berita dan opini, tetapi juga kode etik serta aturan jurnalistik yang harus dipatuhi.
Lebih lanjut, Gus Yasin menyampaikan bahwa Gerakan Santri Menulis akan mendukung program Gubernur Ahmad Luthfi bersama dirinya, yakni Pesantren Obah.
Program tersebut membuka peluang bagi santri untuk melanjutkan pendidikan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri melalui beasiswa.
Ia menegaskan, di jenjang pendidikan tinggi, kemampuan menulis menjadi syarat penting.
Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil
“Ketika menempuh pendidikan tinggi, mahasiswa harus bisa menulis dengan baik. Melalui pelatihan ini, santri akan terbiasa dengan penulisan,” katanya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Agus Toto Widyatmoko, menjelaskan bahwa GSM tahun ini akan diikuti oleh 17 pondok pesantren dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Dalam pelatihan tersebut, para santri dibekali keterampilan dasar jurnalistik, teknik menulis berita dan opini, strategi menyusun konten media yang menarik dan relevan, teknik public speaking, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah dan penyebaran pesan-pesan kebaikan.
Melalui penguatan keterampilan menulis, santri diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen konten yang akurat, beretika, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas. []
Baca Juga: Tenggelamnya KM Virgo, Polisi Tetapkan 4 Orang sebagai Tersangka
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic