DI BALIK tembok kota tua Acre yang megah, tersimpan kisah seorang putri Palestina yang tidak pernah menyerah pada takdir. Dr. Mariam Merhi, lahir dua tahun sebelum Pengungsian Besar (Nakba) 1948, adalah bukti hidup bahwa perempuan dapat menjadi arsitek perubahan, bahkan ketika segala sesuatu di sekitarnya runtuh.
Mariam lahir di kota tembok Acre, Palestina. Namun kebahagiaan masa kecilnya tidak berlangsung lama. Tragedi Nakba memisahkan keluarganya. Dalam kepanikan pengungsian paksa, akta kelahirannya hilang, sebuah simbol awal dari hilangnya banyak hal dalam hidupnya.
Keluarganya mengungsi ke kota Ba’ana di Galilea, kemudian ke kamp Burj al-Barajneh di Lebanon.
Di pengasingan, Mariam hidup bertahun-tahun jauh dari sang ayah, yang bersikeras bertahan di Acre. Begitu jauhnya jarak, sehingga Mariam kecil sempat mengira kakak laki-lakinya adalah ayahnya, sebuah luka psikologis yang mendalam.
Baca Juga: Abdullah bin Umar: Pribadi Tangguh Banyak Meriwayatkan Hadits
Setelah melalui prosedur reunifikasi yang rumit, keluarga akhirnya kembali ke Acre. Namun yang mereka temukan bukanlah rumah lama yang telah disita. Mereka tinggal di rumah sempit yang jauh dari memori masa lalu. Mariam mengenang masa itu sebagai periode ketika ibunya terdiam dalam kesedihan—=, sebuah gejala stres pasca-trauma yang nyata. Ibunya terus-menerus menyerukan reunifikasi bagi anak-anak yang masih tertinggal di diaspora.
Dari Mimpi Buruk ke Sekolah Bergengsi
Mariam memulai pendidikan di sekolah umum Acre. Namun ia menggambarkannya sebagai “mimpi buruk” karena kepadatan kelas dan kekejaman yang ia rasakan. Hidupnya berubah ketika atas desakan saudara perempuannya, ia pindah ke Sekolah Sisters of Nazareth, sebuah institusi yang memberinya pendidikan berkualitas.
Di sana, ia menikmati kurikulum modern yang dipadukan dengan pendidikan agama yang mendalam. Sementara itu, ayahnya melengkapi pendidikannya di rumah dengan pengajaran bahasa Arab yang kokoh. Kombinasi inilah yang membentuk fondasi intelektualnya.
Baca Juga: Bilal bin Rabah: Kisah Teguh Sahabat Nabi yang Tetap Mengucapkan “Ahad…Ahad” Saat Disiksa
Saudara laki-lakinya, Abdullah, yang tinggal di Lebanon, menjadi motivator utama. Dalam sepucuk surat kepada ayahnya, Abdullah menulis, “Bendera adalah senjata terpenting bagi Palestina.”
Pesan ini meyakinkan sang ayah untuk mengatasi keraguan sosialnya dan mengizinkan Mariam melanjutkan pendidikan ke Haifa. Pada tahun 1967, Mariam pindah ke Universitas Haifa, mengambil spesialisasi dalam pendidikan, psikologi, dan seni.
Di kampus inilah ia bertemu dengan Dr. Sami Merhi, yang kemudian menjadi suaminya. Bersama, mereka menempuh perjalanan akademik ke Amerika Serikat dan Brasil, meraih subspesialisasi yang kemudian mereka abdikan untuk melayani komunitas Palestina.
Kepergian Sang Suami
Baca Juga: Abu Dzar al-Ghifari Sahabat Nabi yang Memilih Hidup Sederhana
Keluarga itu kembali ke tanah air Palestina pada tahun 1980-an. Namun takdir berkata lain. Pada tahun 1986, di Yerusalem, Dr. Sami Merhi meninggal mendadak saat menjalani pemeriksaan kesehatan rutin. Mariam menyebut kepergian ini sebagai “trauma seumur hidup” terutama karena saat itu mereka sedang bersiap merayakan seratus tahun ayahnya.
Tapi Mariam tidak membiarkan duka melumpuhkannya. “Ketika perempuan berkumpul, mimpi itu mulai menjadi kenyataan. Sains adalah senjata terpenting kita yang akan mengubah jalannya Nakba jika kita memilikinya saat itu,” prinsipnya.
Ia terjun ke dunia akademik sebagai dosen di Universitas Haifa selama sepuluh tahun. Namun kontribusinya tidak berhenti di ruang kuliah.
Mariam mendirikan asosiasi ‘Akkayat Women’, sebuah lembaga yang bertujuan memberdayakan perempuan Palestina di wilayah pendudukan dan meningkatkan peran sosial mereka. Ia juga mendirikan Rumah Anak Arab, sebuah lembaga yang mengkhususkan diri dalam mempersiapkan pengasuh anak usia dini.
Baca Juga: Salman al-Farisi: Sang Pencari Kebenaran dari Persia
Prinsip yang ia pegang teguh, bahasa ibu tidak boleh dikorbankan, meskipun anak-anak belajar bahasa asing. Karena identitas berawal dari bahasa, dan bahasa berawal dari rumah.
Mimpi Mulai Menjadi Kenyataan
Buku terbarunya, When Women Came Together, Begins to Come True (Ketika Perempuan Berkumpul, Mimpi Mulai Menjadi Kenyataan), mendokumentasikan perjuangan perempuan Palestina di kota Acre dan kisah sukses organisasi masyarakat sipil yang ia dirikan.
Buku ini menjadi tambahan penting bagi perpustakaan Palestina, karena memadukan pengalaman pribadi dengan dokumentasi sejarah karya feminis di bawah pendudukan.
Baca Juga: Miahan Khan: Serdadu India yang Memilih Indonesia Setelah Mendengar Takbir
Secara keseluruhan, Dr. Mariam telah menerbitkan sembilan buku dalam bahasa Arab dan Inggris, mencakup topik pendidikan dan sastra. Ia juga melestarikan warisan mendiang suaminya, Sami Merhi, melalui tulisan-tulisannya.
Setelah bertahun-tahun menjanda, Mariam menikah dengan pengusaha Amerika John Ryan. Pria ini bukan sekadar suami, tetapi juga mitra dalam kemanusiaan. John terlibat aktif dalam kampanye medis kemanusiaan untuk merawat yang terluka di Tepi Barat. Mariam mengakui bahwa pernikahan keduanya memberinya stabilitas dan kehidupan yang Bahagia, tanpa pernah melepaskan ikatan mendalamnya dengan akar Palestina.
Kembali ke Acre
Sekitar setahun lalu, Mariam memutuskan kembali ke Acre untuk selamanya. Banyak yang bertanya, mengapa ia meninggalkan “tanah peluang” di Amerika?
Baca Juga: Mush’ab bin Umair, Duta Islam Pertama Pembuka Jalan ke Madinah
Jawabannya sederhana: optimisme dan keterikatannya dengan tanah air. Ia kembali untuk memulai proyek buku baru yang berhubungan dengan sejarah dan biografi kota Acre. Baginya, tanah kelahirannya adalah tempat peluang yang sesungguhnya.
Saat ini, Dr. Mariam Merhi sedang mengerjakan biografinya dalam bahasa Inggris berjudul Sixty Years in One Day (Enam Puluh Tahun dalam Satu Hari). Melalui karya ini, ia ingin menyampaikan narasi Palestina kepada dunia, sebuah narasi yang sering terdistorsi atau sengaja dihapus.
Ia menegaskan bahwa mimpi mulai menjadi kenyataan ketika kehendak perempuan bertemu dengan kesadaran nasional. Dan ia adalah bukti hidup dari mimpi itu.
Begitulah, Dr. Mariam Merhi bukan sekadar akademisi, bukan sekadar aktivis, bukan sekadar penulis. Ia adalah arsitek harapan. Dari kamp pengungsian di Lebanon hingga ruang kuliah di Haifa; dari duka kehilangan suami hingga kebangkitan memberdayakan ribuan perempuan; dari buku pertama hingga buku kesembilan—ia telah membuktikan bahwa perempuan Palestina adalah kekuatan yang tak terbendung.
Baca Juga: Hudzaifah bin Yaman: Pemegang Rahasia Nabi dan Sahabat yang Mengetahui Jejak Kemunafikan
Kisahnya adalah cermin bagi setiap perempuan yang pernah merasa kehilangan arah. Ia mengajarkan bahwa sains adalah senjata, pendidikan adalah perlawanan, dan kebersamaan perempuan adalah awal dari perubahan sejati.
Semoga kisah Dr. Mariam Merhi menjadi inspirasi bagi generasi penerus, bahwa Nakba tidak akan pernah memadamkan semangat Palestina. []
Sumber: Jaridah al-Quds
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Mengharukan, Ini Kisah Nadia Mohamed hingga Menjadi Wali Kota di Amerika Serikat
















Mina Indonesia
Mina Arabic