Riyadh, MINA – Arab Saudi kembali menegaskan, tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel tanpa terciptanya negara Palestina yang merdeka dalam perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Seperti dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (27/8), pernyataan tersebut muncul di tengah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump berupaya mengaitkan perjanjian nuklir sipil dengan Riyadh dengan normalisasi Saudi-Israel.
Menurut laporan The Wall Street Journal, Trump telah merujuk perjanjian kerja sama nuklir sipil AS-Saudi ke Kongres untuk ditinjau, tetapi menetapkan bahwa perjanjian itu tidak akan berlaku kecuali Arab Saudi bergabung dengan Abraham Accords.
“Posisi presiden tidak berubah, dan perjanjian itu tidak akan bergerak maju kecuali Arab Saudi bergabung dengan Abraham Accords,” kutip surat kabar itu dari sumber administrasi AS.
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
Syarat yang dilaporkan ini menyusul penandatanganan perjanjian nuklir bulan lalu oleh Menteri Energi AS Chris Wright dan Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman.
Sumber Saudi yang dikutip oleh Channel 12 Israel menolak mengaitkan perjanjian nuklir dengan normalisasi, dengan mengatakan posisi Riyadh tentang hubungan dengan Israel tetap tidak berubah.
“Posisi Saudi jelas, tegas dan tidak berubah,” kata sumber itu.
Sumber tersebut menegaskan bahwa program nuklir sipil Arab Saudi merupakan bagian dari kemitraan strategis yang lebih luas dengan Washington dan tidak boleh dikaitkan dengan pembentukan hubungan dengan Israel.[]
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic