Teheran, MINA – Pemerintah Iran dilaporkan memberikan izin terbatas bagi sejumlah negara untuk melintasi Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan konflik kawasan. Kebijakan ini menjadi sorotan karena jalur tersebut merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia. Farsnews melaporkan, Kamis (19/3).
Dalam kebijakan terbaru, Iran disebut tetap membuka Selat Hormuz, namun dengan pembatasan tertentu terhadap negara-negara yang dianggap berseberangan secara politik. Kapal dari negara-negara yang tidak berafiliasi dengan musuh Iran diizinkan melintas, sementara kapal dari Amerika Serikat dan Israel serta sekutunya dibatasi.
Sejumlah laporan menyebut negara seperti China, India, Pakistan, Turkiye dan sejumlah negara Eropa tetap dapat melintasi jalur tersebut, mengingat hubungan ekonomi dan energi yang kuat dengan Iran. Bahkan, kapal dari negara-negara tertentu juga diberi syarat khusus, seperti penggunaan mata uang tertentu dalam transaksi energi.
Adapun sebagian negara-negara Eropa lainnya seperti Prancis, Italia dan sejumlah negara lainnya yang tergabung dalam Uni Eropa masih dalam proses negosiasi.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Kebijakan ini berdampak langsung terhadap aktivitas pelayaran global. Beberapa kapal tanker dari berbagai negara sempat tertahan atau menghadapi risiko serangan di kawasan tersebut, terutama yang terkait dengan negara-negara Barat.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia setiap harinya. Ketegangan di wilayah ini berdampak signifikan terhadap stabilitas harga energi global serta keamanan rantai pasok internasional.
Para analis menilai pembatasan akses oleh Iran merupakan bagian dari strategi geopolitik dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat dan sekutunya. Kebijakan ini sekaligus meningkatkan risiko krisis energi global jika konflik terus berlanjut dan jalur distribusi utama tersebut terganggu. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Militer Yaman Klaim Lumpuhkan 1.747 Personel Houthi
















Mina Indonesia
Mina Arabic