DI SUDUT dunia ini, di mana waktu terasa berjalan sangat lambat, guru di Jalur Gaza memilih untuk tidak menunggu akhir. Mereka memutuskan untuk menciptakan awal yang baru, membentuk harapan dengan tangan sendiri.
Sebuah kiriman cerita dari Lamia Hatem Othman, seorang akhwat, guru sukarelawan yang berjuang di ranah pendidikan, di Gaza yang terblokade.
Baginya, pendidikan bukanlah sekadar gelar universitas yang tergantung di dinding. Perjuangan mendidik generasi bagi Lamia, adalah misi hidup yang tertulis setiap hari.
“Ketika kami tiba di sini, di antara tenda-tenda yang menampung keluarga pengungsi, pemandangan itu cukup untuk menghancurkan semangat siapa pun. Anak-anak mulai melupakan huruf-huruf mereka, bahkan bahasa mereka sendiri, di bawah raungan tembakan dan pecahan peluru yang meledak,” ujarnya mengawali kisahnya, yang ia kirimkan kepada Palestine Chronicle, beberapa hari lalu.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
“Namun, tekad kami terbukti lebih kuat daripada keputusasaan. Saya mengambil selembar kanvas, mengikatnya ke tanah, dan cerita kami dimulai dengan satu kata, “Sumud”. Bahasa Arab yang bermakna keteguhan di tengah kesulitan yang luar biasa.
Melalui tekad kolektif dan ketekunan yang tak tergoyahkan, tenda sederhana itu berangsur-angsur berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Hari itu, apa yang dimulai sebagai inisiatif sederhana telah tumbuh menjadi “Sekolah Sumud untuk Anak-anak Syuhada dan Yatim Piatu.” Sebuah lembaga pendidikan mandiri yang melayani ratusan anak laki-laki dan perempuan.
Ruang kelas yang apa adanya, meja kayu seadanya, dan suara belajar yang meriah telah menggantikan ketidakpastian pengungsian, membantu membangun kembali masa depan generasi yang berisiko hilang akibat perang dan buta huruf.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
“Di Sekolah Sumud ini, misi kami jauh melampaui literasi atau pendidikan konvensional,” lanjut Lamia, dengan haru, namun tetap penuh semangat.
“Kami percaya bahwa anak-anak Gaza berhak mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama seperti anak-anak di tempat lain di dunia. Di antara anak-anak yatim dan terlantar ini, terdapat pikiran-pikiran muda yang brilian yang mampu mengubah masa depan. Tanggung jawab kami adalah memelihara potensi itu sejak tahun-tahun awal,” imbuhnya.
Lamia telah memperkenalkan siswa-siswanya pada teknologi masa depan. Mereka mempelajari dasar-dasar kecerdasan buatan (AI), inovasi, pemrograman, dan pemikiran digital.
“Kami tidak ingin mereka tumbuh hanya menjadi pengguna teknologi, kami ingin mereka menjadi penciptanya,” tekadnya.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Dia juga merancang program yang memperkenalkan anak-anak pada profesi masa depan jauh sebelum mereka mencapai universitas.
“Calon insinyur muda kami mempelajari dasar-dasar teknik, perencanaan, desain, dan pemikiran structural, mempersiapkan mereka untuk suatu hari membangun kembali apa yang telah hancur akibat perang, dengan pengetahuan, kreativitas, dan keterampilan,” lanjutnya.
Pada saat yang sama, dia juga mengidentifikasi bakat dan hasrat masing-masing anak, baik dalam kedokteran, media, teknik, administrasi bisnis, atau seni. Sekaligus dia membantu mengembangkan kemampuan tersebut selangkah demi selangkah.
“Pada saat mereka masuk universitas, kami ingin mereka melakukannya dengan percaya diri, tujuan, dan pemahaman yang jelas tentang jalan yang ingin mereka tempuh,” ia bersemangat melanjtkan kisahnya.
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
Kegembiraan Tetap Bertahan
Lamia Hatem Othman berprinsip, belajar saja tidak cukup. Anak-anak juga membutuhkan sukacita.
Maka, dia mencoba mengubah sumber daya yang paling sederhana menjadi peluang untuk kreativitas dan kebahagiaan. Melalui menggambar, melukis, kerajinan tangan, permainan edukasi, dan bahan ajar yang terbuat dari apa pun yang bisa ditemukan, anak-anak menemukan kembali imajinasi mereka.
“Kami juga memberikan dukungan psikososial dan kegiatan rekreasi yang membantu memulihkan masa kecil yang telah diganggu oleh perang dengan kejam. Kami berbagi momen kebahagiaan sama seperti kami berbagi harapan, dan membuktikan dengan setiap aktivitas bahwa anak-anak ini masih memiliki kapasitas luar biasa untuk keindahan, kreativitas, dan kehidupan,” tuturnya lagi.
Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza
Sementara Lamia menghabiskan hari-hari memimpin Sekolah Sumud tersebut, dia dengan disiplin membimbing setiap detail dan merawat siswa. Ia bertindak sebagai guru dan sosok ibu, sepanjang menemani anak-anak.
Jika listrik padam, dia terus belajar untuk meraih gelar Master di bidang Manajemen, hanya diterangi oleh cahaya lilin, sementara ledakan jauh bergema sepanjang malam.
“Saya terus belajar karena saya percaya bahwa membangun institusi masa depan dan belajar bagaimana memimpin melalui krisis tidak dapat menunggu sampai perang berakhir. Ini harus dimulai sekarang, agar kami tetap layak menerima kepercayaan yang telah diberikan anak-anak ini dan para ibu mereka kepada kami,” ujarnya.
Mengubah Gaza dari Dalam
Baca Juga: Survei Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Kalah dari Oposisi
Dia menegaskan, perjuangan terbesarnya bukanlah hanya melawan kehancuran. Akan tetapi adalah perjuangan untuk pengetahuan, pembangunan, dan transformasi abadi di Gaza itu sendiri.
Dia mencoba untuk tidak membesarkan generasi yang menunggu bantuan atau belas kasihan pihak luar.
“Kami harus mempersiapkan calon-calon pemimpin, insinyur, dokter, inovator, seniman, dan pendidik masa depan. Mereka suatu hari nanti akan memikul tanggung jawab membangun kembali masyarakat mereka,” tekadnya.
“Ketika saya mendengar anak-anak memanggil saya Guru Lamia, saat saya berjalan melalui sekolah, saya teringat mengapa perjalanan ini dimulai. Kata-kata sederhana itu telah menjadi bahan bakar yang membuat mimpi ini tetap hidup,” kisahnya.
Baca Juga: Gencatan Senjata Terus Dilanggar, Empat Warga Gaza Gugur Akibat Israel
Apa yang dimulai di bawah selembar kanvas telah menjadi tempat di mana harapan diajarkan bersama matematika, imajinasi dipelihara bersama literasi, dan anak-anak didorong untuk percaya bahwa masa depan mereka lebih besar dari perang di sekitar mereka.
Itulah “Sekolah Sumud” yang berdiri hari ini sebagai bukti hidup bahwa pendidikan itu sendiri adalah tindakan perlawanan, bahwa cinta dapat mengalahkan ketidaktahuan, dan bahwa di tengah kehancuran, pikiran yang luar biasa masih dapat berkembang.
Dalam setiap senyuman anak-anak, dalam setiap coretan di papan tulis, dalam setiap mimpi yang ditanam, di sanalah masa depan Gaza dibangun. Satu kata, satu anak, satu harapan pada satu waktu. Ia mengakhiri kisah pengalamannya yang mengesankan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Insiden FlyDubai Picu Kritik, Oposisi Israel Soroti Kegagalan Netanyahu
















Mina Indonesia
Mina Arabic