Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tahun Ajaran Baru Gaza Lahir dari Bawah Reruntuhan

Redaksi Editor : Arif R - Ahad, 20 September 2026 - 08:29 WIB

Ahad, 20 September 2026 - 08:29 WIB

22 Views ㅤ

Sabtu, 19 September 2026, tahun ajaran baru 2026/2027 resmi dimulai di Gaza. (FOTO: Hani Asyaa'ir)

Gaza, MINA — Biasanya, awal tahun ajaran adalah waktu yang dinanti anak-anak. Seragam baru disiapkan. Buku-buku dimasukkan ke dalam tas. Sepatu dibersihkan. Orang tua mengantar anak menuju sekolah. Di halaman sekolah, suara riang anak-anak kembali memenuhi udara setelah libur panjang.

Namun, pemandangan itu terasa asing di Jalur Gaza. Pada Sabtu, 19 September 2026, tahun ajaran baru 2026/2027 resmi dimulai di Gaza. Tetapi anak-anak yang kembali belajar tidak menemukan sekolah seperti yang dikenal sebelum perang. Sebagian harus belajar di ruang-ruang sementara, termasuk tenda dan pusat pembelajaran darurat, sementara banyak gedung sekolah rusak atau hancur.

Di tempat yang sebagian besar infrastrukturnya telah porak-poranda, memulai kembali sekolah bukan sekadar membuka pintu ruang kelas.  Ini adalah upaya menghidupkan kembali sebuah rutinitas yang hampir hilang.

Tiga Tahun yang Hilang

Bagi sebagian besar anak di Gaza, kalender sekolah tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya sejak Oktober 2023. UNICEF memperkirakan sekitar 700.000 anak usia 4–17 tahun telah kehilangan pembelajaran tatap muka formal selama hampir tiga tahun ajaran berturut-turut. Hingga April 2026, sekitar 420.000 anak—tiga dari lima anak—belum mendapatkan pembelajaran tatap muka sama sekali.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Tahun ajaran 2023/2024 hilang.

Tahun ajaran 2024/2025 berlalu tanpa kehidupan sekolah yang normal.

Tahun ajaran 2025/2026 juga berlangsung dalam kondisi darurat.

Kini, tahun ajaran baru kembali dibuka. Tetapi bagi anak-anak Gaza, ini bukan sekadar kembali ke sekolah. Ini adalah usaha mengejar waktu yang telah hilang.

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

UNICEF menyebut pendidikan anak-anak Gaza mengalami gangguan berkepanjangan dengan konsekuensi jangka panjang terhadap perkembangan, kesejahteraan, dan kesempatan mereka di masa depan. Dalam sebuah asesmen terhadap rumah tangga dengan anak-anak di Gaza, UNICEF menemukan banyak anak hanya mendapatkan pembelajaran dalam waktu sangat terbatas.

Sekolah yang Berubah Menjadi Tenda

Sekolah dalam bayangan seorang anak biasanya memiliki papan tulis, meja, kursi, perpustakaan, halaman bermain, dan guru yang berdiri di depan kelas.

Di Gaza, sebagian fasilitas belajar kini harus dibangun kembali dari apa yang tersisa.

Kerusakan infrastruktur pendidikan begitu luas. UNICEF mencatat hampir 98 persen bangunan sekolah di Gaza mengalami kerusakan, sementara lebih dari 93 persen membutuhkan rehabilitasi besar atau pembangunan kembali. Sekitar 81 persen bangunan sekolah tercatat mengalami kerusakan langsung.

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

Karena itu, ruang belajar sementara menjadi bagian penting dari upaya mengembalikan pendidikan.

OCHA mencatat bahwa pada 2026 ratusan ruang pembelajaran sementara telah digunakan di berbagai wilayah Gaza. Hingga pertengahan Juli, Education Cluster mendukung pembelajaran bagi sekitar 435.000 anak usia prasekolah dan sekolah melalui 610 ruang pembelajaran sementara.

Ada ruang belajar yang dibangun dari tenda.

Ada tempat belajar yang harus berbagi ruang dengan kondisi pengungsian.

Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza

Ada pula anak-anak yang harus berjalan melewati kawasan yang masih menyimpan bahaya.

Bagi mereka, perjalanan menuju sekolah pun tidak lagi sesederhana berjalan menyusuri jalan kampung.

UNICEF memperkirakan sekitar 60 juta ton puing menutupi jalan-jalan di Gaza dan sebagian di antaranya menyembunyikan benda-benda berbahaya, sehingga perjalanan menuju ruang belajar tetap menghadirkan risiko.

Ketika Buku Menjadi Barang Mewah

Tahun ajaran baru biasanya identik dengan buku baru.

Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza

Tetapi di Gaza, buku, pensil, penggaris, buku tulis dan perlengkapan belajar lainnya pernah menjadi barang yang sulit diperoleh.

UNICEF melaporkan bahwa selama lebih dari dua tahun, perlengkapan dasar seperti pensil dan buku tulis sulit tersedia bagi anak-anak Gaza. Perlengkapan pendidikan melalui program School-in-a-Carton baru mulai masuk pada Januari 2026.

OCHA juga melaporkan bahwa masuknya perlengkapan pendidikan masih menghadapi pembatasan dan kesenjangan kebutuhan tetap besar.

Karena itu, sebuah tas sekolah di Gaza hari ini memiliki makna yang jauh lebih besar. Di dalamnya mungkin tidak banyak buku. Tidak ada perlengkapan yang lengkap. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting:, yaitu kesempatan untuk kembali belajar.

Baca Juga: Survei Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Kalah dari Oposisi

Anak-Anak yang Dipaksa Tumbuh Terlalu Cepat

Kehilangan sekolah bukan hanya soal kehilangan pelajaran matematika, bahasa atau ilmu pengetahuan.

Sekolah adalah tempat anak bertemu teman. Tempat mereka bermain. Tempat mereka belajar bermimpi.

Tempat seorang anak perlahan membayangkan akan menjadi apa dirinya kelak. Ketika ruang itu hilang selama bertahun-tahun, yang hilang bukan hanya jam pelajaran. Yang terputus adalah rutinitas masa kanak-kanak.

Dalam asesmen UNICEF terhadap Gaza, gangguan pendidikan berlangsung bersamaan dengan perpindahan berulang, kerusakan sekolah, ketidakamanan dan tekanan ekonomi keluarga. UNICEF juga mencatat bahwa pada 2025 semakin banyak anak, termasuk yang masih sangat muda, terlibat dalam pekerjaan berbahaya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Baca Juga: Gencatan Senjata Terus Dilanggar, Empat Warga Gaza Gugur Akibat Israel

Kembali Belajar, Kembali Menjadi Anak-Anak

Namun, di balik semua kehancuran itu, ada sesuatu yang tetap bertahan: keinginan anak-anak untuk belajar.

UNICEF pada awal 2026 meluncurkan perluasan program Back to Learning untuk membantu ratusan ribu anak Gaza kembali mendapatkan pembelajaran. Program tersebut mencakup matematika, membaca, menulis, sains, sekaligus dukungan psikososial.

Beberapa anak belajar di ruang sementara. Sebagian membawa buku seadanya. Sebagian duduk di bawah naungan tenda. Tetapi mereka kembali mendengar suara guru. Kembali memegang pensil. Kembali menulis nama mereka di atas kertas.

Hal-hal kecil yang bagi anak-anak di tempat lain mungkin terlihat biasa, di Gaza menjadi sebuah bentuk keteguhan.

Baca Juga: Insiden FlyDubai Picu Kritik, Oposisi Israel Soroti Kegagalan Netanyahu

Tahun ajaran baru akhirnya datang pada 19 September 2026. Bukan dengan sekolah-sekolah yang telah sepenuhnya pulih. Bukan dengan meja dan kursi yang lengkap. Bukan pula dengan buku yang memenuhi rak perpustakaan.

Ia datang dari ruang-ruang belajar sementara, dari antara reruntuhan, dari tenda-tenda, dan dari upaya para guru serta lembaga kemanusiaan untuk mengembalikan hak anak-anak atas pendidikan.

Sebuah Tahun Ajaran yang Menyimpan Harapan

Di banyak tempat di dunia, hari pertama sekolah mungkin hanya berarti satu hal: kembali belajar setelah liburan. Di Gaza, maknanya berbeda.

Hari pertama tahun ajaran adalah pengingat bahwa setelah hampir tiga tahun kehilangan sekolah secara normal, masih ada anak-anak yang ingin membuka buku.

Baca Juga: Partai Hijau Inggris Ambil Sikap Anti-Zionis, Sebut Zionisme Bentuk Rasisme

Masih ada guru yang ingin mengajar. Masih ada orang tua yang ingin melihat anaknya tumbuh melalui pendidikan, bukan melalui pengalaman perang. Dan masih ada generasi yang menunggu kesempatan untuk mengejar masa depan yang tertunda.

Tahun ajaran baru Gaza karena itu bukan sekadar tentang sekolah. Ia tentang sebuah generasi yang berusaha merebut kembali masa kanak-kanaknya.

Dari bawah reruntuhan, mereka kembali belajar mengeja masa depan. Di situlah harapan masih hidup… []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Tiga Warga Gaza Syahid Termasuk Anak dalam Serangan Terbaru Israel Ahad Ini

Rekomendasi untuk Anda