Gaza, MINA – Dari jantung kehancuran akibat agresi di kamp pengungsi Bureij, Jalur Gaza tengah, muncul kisah artistik tentang keteguhan perempuan muda, Areej Al-Saafin.
Seniman visual yang belum genap berusia 26 tahun ini mendapati dirinya menghadapi kenyataan baru setelah serangan udara Israel merampas satu matanya. Hal itu mengubah jalan hidupnya dari kuas warna menjadi perjuangan untuk bertahan hidup dan berkarya di tengah reruntuhan.
Areej tidak menyerah pada kehilangan sebagian penglihatan atau minimnya alat seni. Ia justru menciptakan sarana ekspresi dari kerasnya keadaan, dengan sengaja mengubah potongan kayu terbakar menjadi “pena arang” primitif. Alat sederhana ini menjadi senjata utamanya untuk menulis pesan di dinding rumahnya yang bobrok, mengubah keheningan dan abu menjadi lukisan yang menceritakan detail penderitaan Palestina kontemporer.
Seperti diungkap media setempat Jaridah Al-Quds, Ahad (3/5), Areej menceritakan bagaimana di puncak blokade dan dingin, ia terpaksa mengorbankan karya seninya, membakar lukisan lamanya, untuk memberi kehangatan dan memasak bagi keluarganya. Tindakan kejam itu menjadi titik balik. Ia kemudian memutuskan menghidupkan kembali seni dari abu yang digunakan untuk bertahan hidup, membuktikan bahwa kreativitas tak bisa binasa di bawah beban api.
Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur
“Tragedi ini mengubur saya hidup-hidup, tetapi saya menciptakan dari abu seni yang melihat dunia dengan satu mata paling tajam di antara semuanya,” ujarnya.
Karya Areej mengambil pendekatan ekspresif yang intens pasca-cedera. Mata menjadi elemen dominan dan penting dalam semua muralnya. Areej menjelaskan bahwa fokus menggambar mata adalah caranya meluapkan trauma psikologis mendalam sekaligus mendokumentasikan momen ketika ia kehilangan pandangan terhadap dunia. Mata yang dilukisnya menjadi saksi bisu kejahatan terhadap warga sipil.
Kini, Areej berdiri di depan dindingnya yang terluka, memegang sepotong arang hitam, memberi tahu dunia bahwa kebenaran tidak dapat dibutakan, betapa pun sasarannya. Ini adalah pertempuran artistik yang ia perjuangkan dengan satu mata, namun dengan visi luas yang melampaui batas tempat. Seni yang lahir dari rahim penderitaan adalah yang paling mampu membakar kelupaan dunia dan mengabadikan tragedi Gaza dalam ingatan sejarah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
















Mina Indonesia
Mina Arabic