Sultan Banten: Isra Mi’raj Tularkan Semangat Perjuangan dan Pengorbanan

Wawancara Sultan Banten.(Foto: Rana/MINA)

(Wawancara Eksklusif Sultan Banten ke-18 dengan Wartawan MINA)

Sultan Banten ke-18, Sultan Syarif Muhammad Ash-Shafiuddin (Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja) mengatakan, makna Isra Mi’raj tahun 1439 kali ini baginya merupakan pengobaran semangat perjuangan untuk dapat menjadi Muslim yang lebih baik dan pengorbanan untuk membantu saudara di Palestina yang teraniaya.

Berikut adalah wawancara eksklusif Wartawan MINA, Widi Kusnadi dengan Sultan di sela-sela acara tablig akbar yang diselenggarakan Jamaah Muslimin (Hizbullah) di Masjid Jami Darussalam Sindangsari, Kabupaten Tangerang, Banten, Ahad(1/4). Berikut petikan wawancaranya;

MINA: Apa makna Isra Mi’raj tahun ini bagi Sultan?

Sultan: Isra Miraj bagi kami adalah semangat perjuangan. Berjuang di sini adalah terus memperbaiki akidah dan akhlaq diri sendiri dan masyarakat Banten. Isra Mi’raj juga merupakan peningkatan semangat pengorbanan kepada saudara-saudara kita yang ada di Palestina. Saat ini, mereka teraniaya oleh Zionis Israel. Maka, kita umat Islam Indonesia harus peduli dan rela berkorban untuk mereka.

MINA: Apa hubungan akhlaq dengan perjuangan dan pengorbanan?

Sultan: Semakin baik akhlaq seseorang, maka akan semakin besar perjuangan dan pengorbanan yang ia lakukan untuk saudaranya. Sebaliknya, jika akhlaqnya buruk, ia akan cinta dunia dan semakin kecil perjuangan serta pengorbanannya untuk Islam dan saudara Muslimnya.

Nabi Muhammad SAW menjadi contoh yang tepat bagaimana keluhuran akhlaq Beliau dan tingginya pengorbanan yang dilakukan untuk umatnya. Sudah seharusnya kita mencontoh segala tindak-tanduk dan perilaku Nabi kita.

Di Palestina saat ini, para pengungsi sedang berjuang untuk kembali ke tanah kelahirannya. Ada beberapa yang syahid dan ratusan lainnya luka-luka. Kita dukung terus perjuangan mereka, kita doakan semoga apa yang mereka perjuangkan mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan. Semoga Allah mencatat yang gugur sebagai syuhada.

MINA: Program apa yang akan Sultan lakukan untuk merubah akhlak Masyarakat Banten?

Sultan: Masalah akhlaq menjadi perhatian utama bagi kami. Masyarakat Banten dari sejarahnya merupakan masyarakat yang religius. Para sultan Banten telah memberikan contoh nyata bagaimana mereka menolak penjajah dan tidak mau tunduk pada perintah penjajah.

Saat ini, tidak bisa kita pungkiri bahwa akhlaq ini menjadi masalah utama bagi rakyat Banten. Maka yang harus kita lakukan saat ini adalah melakukan program-program langkah nyata untuk memberikan pengajaran nilai-nilai agama kepada masyarakat.

MINA: Bagaimana langkah riilnya?

Sultan: Kita berdayakan masjid, sekolah-sekolah Islam, pesantren, majelis taklim dan lembaga pendidikan lainnya untuk secara intensif memberi edukasi kepada masyarakat tentang keluhuran akhlaq mulia.

Kami akan memaksimalkan peran lembaga-lembaga di atas untuk menjadi motor penggerak utama dalam merubah akhlaq masyarakat Banten hingga kita mendapat hasil yang maksimal yaitu masyarakat Banten yang memiliki akidah kuat, berakhlaq mulia dan hidup sejahtera.

Contoh utamanya adalah, ketika mendengar azan, maka segala bentuk kegiatan dan pekerjaan harus dihentikan sementara untuk mendengar seruan Allah itu. Semua pekerjaan berhenti, yang sedang berkendara berhenti, yang jualan berhenti sejenak, niscaya hal itu akan secara simultan dapat merubah akhlaq masyarakat.

Masalah agama inilah yang harus diperhatikan terlebih dulu sebelum memberdayakan ekonomi. Jika agamanya sudah bagus, niscaya semangat bekerja akan meningkat, kedisiplinannya akan semakin baik dan ekonominya akan lebih baik pula.

MINA: Apa pesan Sultan untuk para pemimpin di Banten?

Sultan: Para pemimpin menjadi contoh bagi rakyatnya. Jika mereka memberikan contoh akhlaq yang mulia, masyarakatnya akan mengikutinya. Maka, yang terbaik adalah para pemimipin Banten ini menampilkan akhlaq yang terpuji dalam melayani masyarakat.

Jika saat ini kita saksikan ada pemimpin atau takmir masjid yang tidak melaporkan penerimaan dan pengeluaran dananya kepada para jemaah, maka itu harus kita tegur supaya bekerja dengan benar.

Pemeliharaan situs-situs sejarah Banten juga harus diperhatikan oleh para pemimpin. Hal itu akan menjadi tolak ukur sejauh mana pemimpin memperhatikan dan menghormati sejarah. Jika situs-situs itu tidak terjaga dengan baik, tidak dianggarkan pemeliharaanya dengan baik, maka itu menunjukkan mereka kurang peduli dan kurang menghormati sejarah dan para leluhur kita.

Perilaku curang, korupsi, malam mengurusi urusan umat, ini harus diperhatikan dan dihindarkan oleh para pemimpin.

MINA: Jika masyarakat Banten mempercayakan amanah kepemimpinan kepada Sultan, hal apa yang pertama akan Sultan lakukan?

Sultan: Ya itu, akidah dan akhlaq yang pertama. Kita harus perhatikan itu.

Selanjutnya adalah agar masyarakat Banten ini bisa terbebas dari segala bentuk kemaksiatan. Narkoba jelas menjadi ancaman utama generasi muda Banten. Ini juga harus menjadi perhatian utama.

Jika masyarakat kita beriman dan bertaqwa, maka barakah akan turun dari langit. Allah akan ridha dengan kita dan kemudahan demi kemudahan akan kita dapatkan.

Contoh nyata sudah bisa kita baca pada masa kejayaan Islam saat Rasul dan para sahabatnya. Dilanjutkan pada ulama-ulama setelahnya.

MINA: Seruan Sultan untuk warga Banten?

Sultan: Untuk warga Banten, mari kita hidupkan syariat Islam, kita hidupkan pesan-pesan para leluhur kita dalam urusan akhlaq. Kita contoh keteguhan para sultan Banten yang gigih berjuang melawan penjajah.

Perhatikan urusan agama, ibadah, saling peduli dan tolong menolong antar sesama Muslim. Jaga lingkungan agar tetap bersih, asri dan nyaman.

Jika kita perhatikan hal itu, Allah akan perhatikan urusan kita, akan permudah urusan kita. Penuhi perintah Allah, niscaya kebutuhanmu akan dipenuhi, urusanmu akan dimudahkan, kesusahan, kesulitan akan mendapat solusi dan keberkahan akan turun.

Jangan abai dengan peringatan Allah, niscaya Allah juga tidak akan mengabaikan kesulitan dan masalah yang kita hadapi. Begitu. (W/P2/R01)

Mi’raj News Agency (MINA)