TREN “morning routine” ala pengusaha dan atlet dunia, bangun sebelum subuh, berjemur di bawah cahaya matahari, lalu bekerja sebelum jam sibuk, belakangan digandrungi banyak orang yang ingin lebih produktif dan sehat.
Padahal 14 abad silam, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mencontohkan rutinitas pagi yang jauh lebih terstruktur: bangun sebelum Subuh, shalat berjamaah, lalu duduk berdzikir dan membaca Al-Qur’an hingga matahari benar-benar terbit.
Dua Rakaat yang Lebih Berharga dari Dunia
Di antara amalan pagi yang paling ditekankan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah dua rakaat sunnah sebelum Subuh. Beliau tidak pernah meninggalkannya, bahkan ketika sedang bepergian jauh, berbeda dengan sebagian sunnah rawatib lain yang boleh ditinggalkan saat safar.
Baca Juga: Kasus Influenza di Indonesia Meningkat, Ini Subtipe Dominan dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
“Dua rakaat (sebelum) Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim).
Ritme Tubuh yang “Disetel Ulang” Setiap Pagi
Ilmu kedokteran modern menemukan bahwa jam biologis tubuh manusia (ritme sirkadian) sangat bergantung pada paparan cahaya di pagi hari.
Menurut Harvard Health Publishing, cahaya yang masuk ke mata menstimulasi hipotalamus, bagian otak yang mengatur jam biologis tubuh. Paparan cahaya pagi yang cukup akan menekan produksi hormon melatonin (hormon tidur) secara tepat waktu dan meningkatkan serotonin, sehingga tubuh lebih waspada dan suasana hati lebih stabil sepanjang hari.
Baca Juga: Dinkes Jabar Catat 65 Kasus Flu Babi Terdeteksi di Bandung, Warga Diminta Waspada
Sebaliknya, kurangnya cahaya pagi membuat tubuh “tertinggal” dalam mode tidur meski sudah terjaga. Harvard menyarankan paparan cahaya pagi dilakukan sesegera mungkin setelah bangun, idealnya sebelum pukul 10 pagi, selama kurang lebih 30 menit.
Seorang Muslim yang bangun untuk shalat Subuh berjamaah, apalagi jika dilanjutkan duduk berdzikir hingga syuruq (matahari terbit sempurna), secara alami sudah memenuhi anjuran ilmiah ini, jauh sebelum istilah “ritme sirkadian” dikenal dunia medis.
Berkah yang Diminta Langsung oleh Rasulullah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahkan secara khusus mendoakan keberkahan waktu pagi bagi umatnya:
Baca Juga: Rasil dan Komunitas Terapis Al-Fatah Kembali Gelar Baksos Thibbun Nabawi
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud, dinilai shahih oleh Al-Albani; juga diriwayatkan Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).
Hadits ini diriwayatkan bersama kisah sahabat Sakhr Al-Ghamidi, seorang pedagang yang mengamalkan doa tersebut dengan mengirim barang dagangannya pagi-pagi sekali — hasilnya, hartanya bertambah dan usahanya berkembang pesat.
Catatan untuk Pembaca
Bangun pagi untuk shalat Subuh adalah ibadah dengan pahala yang jelas dan tidak bergantung pada manfaat kesehatannya. Namun sejalan dengan itu, memanfaatkan waktu setelah Subuh untuk mendapatkan cahaya matahari alami, berjemur sebentar di teras, berjalan kaki, atau sekadar membuka jendela lebar-lebar, bisa menjadi kebiasaan tambahan yang selaras antara tuntunan agama dan temuan sains modern.
Baca Juga: Pakai Masker: Menjaga Amanah Tubuh Titipan Allah
Yang perlu dihindari justru kebiasaan yang kini umum terjadi: tidur lagi setelah Subuh hingga siang. Kebiasaan ini bukan hanya menghilangkan keberkahan waktu pagi yang didoakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Menurut penjelasan Harvard Health Publishing juga membuat ritme sirkadian tubuh justru semakin kacau, karena jam biologis kehilangan “sinyal pagi” yang seharusnya diterima tepat waktu. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Qailulah Tidur Siang Singkat Sunnah Rasulullah yang Kini Ditiru NASA
















Mina Indonesia
Mina Arabic