Washington, MINA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghentikan sementara operasi militer “Project Freedom” di Selat Hormuz guna memberi ruang bagi proses negosiasi dengan Iran yang disebut menunjukkan kemajuan signifikan.
Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya tekanan internasional agar konflik segera diakhiri melalui jalur diplomasi. Al-Jazeera melaporkan, Rabu (5/5).
Trump menyatakan penghentian sementara tersebut dilakukan atas permintaan sejumlah negara, termasuk Pakistan, serta didorong oleh klaim keberhasilan militer AS dalam operasi sebelumnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa blokade laut terhadap Iran tetap diberlakukan penuh sambil menunggu kemungkinan tercapainya kesepakatan final.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
“Project Freedom” sendiri baru diluncurkan awal Mei 2026 sebagai upaya AS mengawal kapal-kapal komersial melintasi Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang sempat terganggu akibat konflik bersenjata antara AS dan Iran.
Operasi ini bertujuan memastikan keamanan pelayaran di tengah meningkatnya ancaman militer di kawasan tersebut.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak pecahnya konflik pada Februari 2026, ketika Iran menutup akses Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS dan sekutunya.
Situasi ini berdampak besar terhadap distribusi minyak dunia, mengingat sekitar 20 persen pasokan energi global melewati jalur tersebut.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa meskipun gencatan senjata telah diumumkan, bentrokan sporadis masih terjadi, termasuk serangan drone dan rudal yang memperlihatkan rapuhnya situasi keamanan di kawasan Teluk.
Di sisi lain, upaya diplomasi terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Penghentian sementara operasi ini juga berdampak pada pasar global, di mana harga minyak dilaporkan mengalami penurunan sebagai respons atas harapan tercapainya perdamaian. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic