Washington, MINA — Setelah memimpin operasi militer yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, Presiden Donald Trump kembali menimbulkan ketegangan geopolitik dengan mengancam Iran.
Trump menyatakan Washington siap “menghantam sangat keras” Tehran jika situasi keamanan di negara itu makin memburuk seiring bentrokan mematikan antara demonstran dan aparat. Anadolu melaporkan, Senin (5/1).
Trump mengaitkan potensi tindakan militer terhadap Iran dengan perkembangan dalam negeri Republik Islam tersebut, termasuk protes dan konflik yang terjadi di berbagai provinsi. Pernyataan ini disampaikan di tengah kekhawatiran eskalasi lebih luas di Timur Tengah dan respons keras dari pejabat Iran terhadap tekanan eksternal.
Ancaman Trump terhadap Iran muncul tidak lama setelah serangan besar yang dilakukan AS di Venezuela, yang memicu kecaman dari sejumlah negara dan organisasi internasional sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Hal ini menunjukkan perubahan arah kebijakan luar negeri AS yang semakin konfrontatif dalam beberapa pekan terakhir.
Pernyataan Trump juga mendapat tanggapan dari Tehran. Pejabat Iran memperingatkan bahwa setiap agresi militer terhadap mereka akan menerima respons keras dan Republik Islam siap mempertahankan kedaulatannya jika diserang. Ketegangan semakin meningkat di tengah retorika militer dari kedua belah pihak.
Selain itu, komentar Trump yang menggabungkan isu keamanan di Iran dengan operasi AS baru-baru ini di Amerika Latin menimbulkan tanda tanya di kalangan analis apakah kebijakan luar negeri Washington kini bergerak menuju pendekatan yang lebih luas dan agresif, termasuk terhadap Tehran.
Ancaman militer terbaru Trump terhadap Iran dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk protes domestik di Iran tahun 2025-2026 yang memicu respon keras aparat serta tekanan AS terhadap program nuklir dan militer Iran.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Ketegangan AS-Iran sendiri telah berlangsung lama, dengan serangkaian sanksi, ancaman, dan langkah militer berkepanjangan yang memperumit stabilitas kawasan Timur Tengah.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
















Mina Indonesia
Mina Arabic