Washington, MINA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menolak proposal Iran yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian pertempuran di kawasan Timur Tengah dalam waktu tujuh hari.
Laporan tersebut disampaikan The Wall Street Journal, Sabtu (26/9) dengan mengutip pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya.
Proposal Iran disampaikan melalui mediator Qatar di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, kesepakatan tersebut akan memulai hitungan tujuh hari menuju pembukaan Selat Hormuz sekaligus penghentian pertempuran di berbagai front.
Sebagai imbalannya, Iran meminta Amerika Serikat menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran, membebaskan dana Iran yang dibekukan, serta mencabut sanksi terhadap ekspor minyak negara tersebut.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Kesepakatan itu juga membuka kemungkinan dilanjutkannya pembicaraan mengenai sejumlah persoalan, termasuk program nuklir Iran.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik penting dalam konflik karena merupakan jalur utama perdagangan energi dunia. Upaya diplomatik sebelumnya juga telah membahas skema pembukaan selat tersebut secara bertahap dengan imbalan Washington mencabut blokade ekonomi terhadap Iran.
Namun, kedua pihak masih berbeda mengenai siapa yang harus lebih dahulu mengurangi tekanan dan melepaskan posisi tawarnya.
Trump secara pribadi masih meragukan Iran akan memenuhi tuntutan Amerika Serikat dan menyampaikan kepada para pembantunya bahwa kampanye serangan baru kemungkinan kembali dilakukan.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Sementara itu, Iran masih menunggu respons resmi Washington terhadap proposal tersebut. Perkembangan ini terjadi ketika konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan terus mengganggu arus perdagangan minyak melalui Selat Hormuz dan menambah tekanan terhadap perekonomian kawasan maupun pasar energi global. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic