Wawancara KH. Abu Muchtar Marsa’i, Amir Pusat Observasi Falak (POF) Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

Pada Ahad, 22 Jumadil Akhir 1441 H atau bertepatan dengan 16 Februari 2020, Pusat Observasi Falak Jama’ah Muslimin (Hizbullah) menggelar acara “Pentashihan Hisab Tahun 1442 H dan Pembuatan Kerangka Kalender Tahun 1442 H serta Pengarahan Rukyatul Hilal dari bulan Rajab-Dzul-Hijjah 1441 H” di Sindangsari, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten.

Hadir dalam acara itu, Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) KH Yakhsyallah Mansur untuk memberikan pembekalan ilmu kepada para peserta berasal dari jajaran pengurus Pusat Observasi Falak, baik dari bidang pengamalan hisab maupun tim korlap rukyatul hilal yang datang dari berbagai daerah antara lain Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Jabodetabek.

Pada Selasa (18/2) siang melalui pesan singkat, salah satu wartawan Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency) Sakuri berhasil mewawancari Ustaz KH. Abu Muchtar Marsai selaku Amir Pusat Observasi Falak Jama’ah Muslimin (Hizbullah).

MINA: Alhamdulillah dan sukses untuk Ustaz Abu Muchtar Marsa’i yang telah menyelenggarakan acara pentashihan kalender 1442 di Sindangsari, semoga Allah memberikan kemudahan untuk melaksanakan apa yang sudah menjadi keputusan musyawarah.

KH Abu Muchtar Marsa’i: Aamiin yaa Robbal Aalamiin.

MINA: Sebagai Amir POF Jama’ah Muslimin (Hizbullah), apakah program yang sudah dilaksanakan?

KH Abu Muchtar Marsa’i: Beberapa program POF Jama’ah Muslimin (Hizbullah) yang sudah dilaksanakan antara lain: Satu, pengamalan hisab yang 13 bulan dari Muharam-Muharam setiap tahun di ditashih untuk pembuatan kalender. Dua, mengadakan pelaksanaan rukyatul hilal akhir bulan dari tanggal 26 hingga 28 untuk menyesuaikan yang ditunjukkan oleh hisab dengan melihat jarak antara terbit bulan dan terbit matahari sehingga diketahui harkat/gerak perjalan bulan dan matahari perhari.

Tiga, rukyatul hilal awal bulan dilakukan ketika matahari terbenam tanggal 29 tiap bulan untuk mengetahui itsbat atau istikmal dan tanggal 30 jika istikmal untuk mengetahui ketinggian hilal dengan disesuaikan dengan hisab. Empat, mengadakan kunjungan silaturahmi ke pusat-pusat observasi Falak yang luar Jamaah Muslimin (Hizbullah) seperti kunjungan ke Pak Muji kepala Boscha di Lembang Bandung untuk mempermasalahkan persepsi dalam penetapan tanggal dan gerhana .

Lima, mengikuti seminar-seminar dan pelatihan rukyatul hilal seperti di Imah Noong Bandung bersama Pak Hendro Priyono. Enam, pembelian alat rukyat seperti teropong untuk memantau hilal dan gerhana, dan kepemilikan kita masih sangat minim karena kekurangan mal untuk membelinya.

Tujuh, mengadakan seminar dengan mengundang tokoh ahli Falak atau astronom untuk mempersamakan ilmu pengetahuan tentang perbintangan dan ruang angkasa seperti yg diadakan di Cileungsi dengan Pak Tomas Djamaluddin kepala Lapan dengan tema semua benda langit atau planet itu thawaf.

Delapan, mengadakan tadrib-tadrib ilmu hisab disetiap wilayah atau niyabah yang memerlukan dengan pelatihan rukyat hilalnya. Sembilan, mengikuti tentang informasi falakiyah bersama grup-grup jamiyah falakiyah didalam negeri seperti grup Aljauharotunnaqiyah Cilegon dan Lembaga Hisab Falakiyah NU Kabupaten  Gresik .

Dan di luar negeri seperti Markaz Falak dahulu di Abu Dabi, Jamiyah Falakiyah Jeddah, Jamiyah Falakiyah Suriyah, Jamiyah Falakiyah Urduniyah, Jamiyah Falakiyah Omaniyah, Jamiyah Falakiyah Filisthiniyah, Ma’had Al Qaumi lil Bugis Falakiyah wal Geografiyah Misriyah, Ma’had Al Wathoni lil Buhus Falakiyah Tunisiyah dan Al Mubadaratul Magribiyah lil Ilmu wal Fikr serta beberapa lainnya. Juga mengikuti Muktamar Tauhidus Syukur Hijriyah wat Taqwimim Ad Dauli di Istambul Turki, tidak bisa hadir hanya mengikuti di media sosial.

Dan, sepuluh, melaporkan hasil hisab dan rukyat kepada Imaamul Muslimin setiap bulan .

MINA: Adakah kendala yang dihadapi dalam melaksanakan program? Kalau ada mohon jelaskan?

KH Abu Muchtar Marsa’i: Ada beberapa kendala seperti, kendala yaitu kekurangan sumber daya manusianya di bidang hisab falakiyah yang memiliki bermacam-macam tharikat hisab falakiyah yang mau belajar ke tempat lain di luar Jama’ah. Kekurangan maliyahnya untuk biaya pengurusan ikhwan yang mempelajari ilmu-ilmu di bidang Falak.

Lalu, kekurangan alat meneropong dan pengukur kiblat dan jadwal waktu shalat karena kekurangan tenaga ahli dan maliyah. Dan juga belum punya quwwah dan sulthah untuk mengadakan perubahan tatanan dunia di bidang Falak, Astronom dan Geografi serta International Date Line (IDL). Dan masih banyak tantangan dari luar Islam untuk mengatur struktur bumi yang islami, karena bumi masih dikuasai oleh Iluminati dan Freemasonry (Ad Dajjaliyah).

MINA: Apakah Ustaz bisa menjelaskan sedikit tentang IDL?

KH Abu Muchtar Marsa’i: IDL adalah suatu garis khayal di permukaan bumi yang berfungsi untuk mengimbangi (offset) penambahan waktu ketika seseorang bepergian menuju arah timur melalui berbagai zona waktu. Sebagian besar garis ini berada pada bujur ±180 derajat, di bagian Bumi yang berhadapan dengan garis Bujur Utama (Prime Meridian). Garis ini berbentuk lurus kecuali saat melewati wilayah Rusia dan pulau-pulau di Samudra Pasifik.

MINA: Sejak awal Imaam mengamanatkan Ustaz sebagai Amir POF (dulu namanya dewan hisab rukyat) bukan tanpa alasan, karena Ustaz satu-satunya ‘alim dalam Jama’ah yang menguasai bidangnya. Mohon bisa disampaikan riwayat pendidikan Ustaz sehingga mempunyai pengetahuan yang mendalam soal ilmu ini?

KH Abu Muchtar Marsa’i: Dari semenjak saya diamanati pentashih hisab dan amirnya dulu Ustaz Abdullah Fadhil Ali Siraj dan setelah wafat beliau, datang Ustaz Yakhsyallah Mansur diutus Imam Muhyidin Muhyiddin Hamidy utuk memberi amanat menjadi Amir Falak dan rukyat juga sekaligus pentashih hisab.

Saya tidak punya gelar apa-apa di  bidang keilmuan hanya mungkin dapat dikatakan “ilmu ladunniy” artinya hanya ilmu anugrah dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena jenjang pendidikan saya hanya SR 2 tahun, MI Mathlaul Anwar 6 tahun dan Mts Mathlaul Anwar 3 tahun.

Tapi alhamdulillah, selain dari pada ilmu alat yang 12-an yaitu: Ilmu qiroatul Quran, Lugatul Arabiyah, Ilmu Nahwu, Ilmu shorof, Ilmu Balagoh, Ilmu Maani, Ilmu Bayan, Ilmu Badi’i, Ilmu Mantiq, Ilmu Arud, Ilmu Usulul Fiqh, dan Ilmu Musthalah Hadis. Dan ilmu-ilmu, Falak, Faroid, Aqidah, Fiqh, Adab/Tasawuf dan ilmu tarikh, juga ilmu umum Ipa, Ips dan Ilmu Tata Negara lain-lainnya .

MINA: Apakah Ustaz sudah mempunyai kader-kader yang dididik ilmu ini?

KH Abu Muchtar Marsa’i: Saya sudah mengamanatkan Ustaz Syamsudin dan H. Haerobi untuk mentadrib ikhwan-ikhwan yang ingin belajar hisab di setiap wilayah dan niyabah, tapi Syamsudin diamanati Naib di Lombok.

MINA: Sebagai seorang ahli Ilmu Falak, Hisab dan Rukyah, apakah Ustaz mempunyai jaringan atau komunitas internasional pada ilmu ini?

KH Abu Muchtar Marsa’i: Punya melalui media sosial seperti Twitter, Facebook dan WhatsApp. Seperti jam’iyah atau perkumpulan, kesatuan, organisasi, lembaga falakiyah yang telah saya sebut di atas.

MINA: Mengapa tariqat Syaikh Alauddin ibu Syatir Addimsiqi selalu menjadi rujukan Ustaz?

KH Abu Muchtar Marsa’i: Kami punya 2 tariqat falakiyah yaitu: Tariqat Ziju Nihayatil Qoyah li Ibni As-Syatir dan Ziju Sulthan Ulugbig As-Samarqandi, Almanshuriyah. Tapi ahli penghisabnya sudah tiada yaitu Ustaz H.M.Thobri yarhamuhullah. Makanya hanya hisab Ibnu Syathir saja atas amanat Imaamul Muslimin KH Muhyidin Hamidy dan itu adalah pilihan beliau.

MINA: Benarkah kitab-kitab rujukan Ilmu Falak semakin sulit dicari?

KH Abu Muchtar Marsa’i: Betul, dan itu sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa ilmu yang pertama langka di muka bumi itu adalah ilmu Faraidh dan ilmu Falak Islami.

MINA: Sekarang teknologi sudah maju, kenapa masih menggunakan rukyatul hilal?

KH Abu Muchtar Marsa’i: Teknologi hanya sebagai alat yang menggunakannya manusia dan tehnologi itu ada batas waktunya, ada pra tehnologi seperti zaman dulu dan pasca teknologi yaitu apabila magnet-magnet yang bersumber dari matahari sudah putus maka semua teknologi akan hilang kembali ke zaman dulu.

Selain dari pada itu, sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak boleh ditinggalkan yaitu rukyat pada matahari terbenam sekalipun sekarang ada alat canggih dapat melihat bulan di siang hari, umpamanya bulan sudah ijtima pada pukul  satu malam dan pukul delapan siang diteropong hilal sudah ada tapi tetap pada waktu magrib harus ruyat saja sebagai Sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

MINA: Bagaimana tingkat akurasi kalender yang dibuat POF dengan hasil pengamalan rukyat apakah sama atau berbeda?

Abu Muchtar Marsa’i: In Syaa Allah pada awal bulan Ramadhan 1441 H tepat hari Jumat dan Idul Fitri pada hari Ahad tidak akan berbeda antara hisab dan rukyat sudah pengalaman dua tahun yang lalu.

MINA: Menurut Thomas Djamaluddin, penyebab utama beda  penetapan Idul Fitri dan Idul Adha, bukan perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi pada perbedaan kriterianya. Kalau mau lebih spesifik merujuk akar masalah, sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan sudah positif di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih sekitar batas kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat, batas kemungkinan untuk diamati) atau lebih rendah lagi, dapat dipastikan terjadi perbedaan.

KH Abu Muchtar Marsa’i: Thomas Djamaluddin masih menggunakan metode perbedaan antara metode wujudul hilal dan imkanur rukyat wathoni dan imkanur rukyat alami. Sedangkan kita menggunakan metode rukyatul hailal alami. Dan sudah saya sampaikan ke Din Syamsudin dan Pak Maman ketua Persis di Gedung Pusat Muhamadiyah bahwa kita harus menggunakan metode imkanur rukyat alami, mereka mengiyakan nanti kita adakan musyawarah tapi sampai sekarang belum ada musyawarah.

MINA: Apakah ada usaha penyatuan kalender internasional bagi umat Islam seluruh dunia (kalender) hijrah?

KH Abu Muchtar Marsa’i: Setelah diadakan di Istambul Turki tahun 2015 lalu yang tidak ditaati keputusannya, sampai sekarang belum ada lagi, walaupun ada lagi tetap tidak akan ditataati selama belum ada janji setia untuk ta’at kepada Imaam atau Khalifah. (W/RS5/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)