Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yahudi Anti-Zionis, Suara Keadilan di Tengah Genosida

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 30 Juli 2026 - 15:11 WIB

Kamis, 30 Juli 2026 - 15:11 WIB

21 Views ㅤ

Yahudi anti-Zionis. (Mondoweiss)

SELAMA ini, banyak dari kita mungkin beranggapan bahwa semua orang Yahudi mendukung Zionid Israel dan menyetujui kebijakan pemerintahannya. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar.

Faktanya, ada gerakan yang cukup signifikan dari kalangan Yahudi sendiri yang menentang keras Zionisme dan aksi genosida Israel di Gaza. Mereka adalah Yahudi Anti-Zionis. Mereka berteriak lantang, “Not in our name!” Tidak atas nama kami.

Siapa Itu Yahudi Anti-Zionis?

Yahudi anti-Zionis adalah individu atau kelompok yang menolak ideologi Zionisme, yaitu gerakan politik yang mendirikan negara Israel sebagai negara bangsa Yahudi.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Mereka menolak, bukan karena membenci agama Yahudi, tetapi karena mereka meyakini bahwa Zionisme justru mengkhianati ajaran agama Yahudi yang sejati. Mereka berpendapat bahwa Israel sama sekali tidak mewakili seluruh umat Yahudi di dunia.

Penolakan ini datang dari berbagai latar belakang: ada yang sangat religius (ortodoks), ada pula yang sekuler dan humanis. Mereka bersatu dalam satu keyakinan bahwa penjajahan dan genosida terhadap rakyat Palestina adalah kejahatan, apa pun agamanya.

Gerakan “Jews Against Zionism”

Dua gerakan utama yang menonjol dalam perlawanan ini adalah Neturei Karta dan Jewish Voice for Peace (JVP).

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Neturei Karta, dari bahasa Aram, artinya Penjaga Kota, adalah kelompok Yahudi ultra-Ortodoks yang paling vokal menentang Zionisme. Mereka didirikan pada tahun 1938 di Yerusalem, berdasarkan keyakinan bahwa pembentukan negara Israel hanya diperbolehkan setelah kedatangan juru selamat (Messiah). Karena itu, mereka menganggap negara Israel yang berdiri sekarang adalah ilegal dan bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Anggota Neturei Karta sering terlihat dalam demonstrasi pro-Palestina di seluruh dunia. Mereka mengibarkan bendera Palestina, meneriakkan slogan “From the River to the Sea, Palestine Will Be Free”, dan bahkan ditemukan di depan Gedung Putih saat kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Juli 2026.

Kelompok lainnya, Jewish Voice for Peace (JVP), yang merupakan kelompok progresif dan sekuler. Mereka dibentuk pada tahun 1996 dan menjadi salah satu organisasi Yahudi anti-Zionis terbesar di Amerika Serikat. JVP secara terang-terangan menyerukan penghentian genosida di Gaza dan pembebasan Palestina.

Gerakan ini sangat aktif di kampus-kampus Amerika. Bahkan, terjadi perpecahan internal di mana sebuah faksi baru yang lebih radikal bernama Anti-Zionist Jewish Student Front terbentuk untuk mengeskalasi perlawanan terhadap Zionisme di universitas, menuntut divestasi dan mengkriminalisasi Zionisme sebagai “senjata perang supremasi kulit putih”.

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

Mengapa Mereka Menolak Zionisme?

Alasan penolakan mereka terhadap Zionisme sangat beragam, di antaranya dari kelompok Teologis (Relegius) yang berprinsip bahwa Zionisme dianggap sebagai pengkhianatan terhadap ajaran agama Yahudi yang menunggu kedatangan Messiah. Mereka meyakini bahwa upaya mendirikan negara secara paksa, apalagi memalalui perang, adalah “dosa besar”.

Ada juga kelompok Yahudi aktivis kemanusiaan. Mereka melihat kebijakan Israel terhadap Palestina, seperti genosida di Gaza, pembangunan pemukiman ilegal, dan sistem apartheid, sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia dan bertentangan dengan nilai-nilai etika Yahudi.

Para Rabbi dari Neturei Karta menyebut tindakan Netanyahu sebagai tindakan yang melanggar setiap prinsip moral dan agama.

Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza

Bahkan kelompok Yahudi Sekuler, berargumen bahwa Zionisme adalah proyek kolonial dan militeristik yang tidak sesuai dengan keadilan sosial. Mereka justru mendukung solusi satu negara dengan hak yang sama bagi semua warga, baik Yahudi, Muslim, maupun Kristen.

Keberadaan kelompok-kelompok Yahudi anti-Zionisme tersebut bukan hanya sekadar “suara sumbang.” Mereka memiliki pengaruh nyata, melalui berbagai upaya:

  1. Memecah Narasi. Mereka menghancurkan klaim bahwa Israel mewakili semua orang Yahudi. Ini membuat demonstran pro-Palestina lebih berani, karena tuduhan anti-Semitisme kini tidak lagi menjadi “senjata pamungkas” yang menakutkan.
  2. Mengguncang Internal Zionis. Seorang analis dari Jerusalem Postmengakui bahwa pemberontakan orang-orang Yahudi melawan Zionisme adalah “faktor internal” yang berbahaya, yang dapat mengikis fondasi gerakan Zionis itu sendiri.
  3. Aksi di Panggung Dunia. Kelompok ini aktif dalam kampanye BDS (Boikot, Divestasi, Sanksi) dan melakukan protes di gedung-gedung pemerintah. Di Inggris, sebuah koalisi yang mewakili lebih dari 1.000 orang Yahudi bahkan mengkritik polisi Inggris yang dianggap terlalu represif terhadap demonstrasi pro-Palestina.

Begitulah, Solidaritas untuk Palestina bukan hanya milik umat Islam. Ada bagian dari orang-orang Yahudi yang juga merasakan sakit atas penderitaan yang menimpa rakyat Gaza.

Mereka adalah saudara kita dalam kemanusiaan, yang tidak setuju bahwa kekejaman harus dilakukan atas nama agama mereka. Merekalah yang berani mengatakan “Tidak” kepada penjajahan dan genosida, mengingatkan dunia bahwa keadilan tidak mengenal batas agama dan suku. []

Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda