Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

24 Maskapai Global Kompak Hentikan Penerbangan ke Timur Tengah

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 25 Maret 2026 - 21:16 WIB

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:16 WIB

15 Views ㅤ

ilustrasi maskapai KLM (foto: AI)

Abu Dhabi, MINA – Gelombang pembatalan penerbangan internasional ke kawasan Timur Tengah terus meluas seiring dengan meningkatnya ketegangan militer yang mengancam keselamatan ruang udara sipil. Sedikitnya 24 maskapai global secara resmi telah menangguhkan operasional mereka ke beberapa kota utama di kawasan tersebut guna menghindari risiko terjebak dalam zona konflik yang kian tidak menentu.

Keputusan kolektif ini diambil setelah otoritas penerbangan internasional mengeluarkan peringatan terkait potensi bahaya rudal dan aktivitas militer udara yang sulit diprediksi. Al-Jazeera melaporkan, Rabu (25/3).

Langkah tersebut mengakibatkan ribuan jadwal penerbangan terganggu, yang secara langsung mengisolasi akses udara bagi warga sipil dan menghambat distribusi bantuan kemanusiaan di wilayah-wilayah terdampak perang.

Beberapa maskapai raksasa dari Eropa, Amerika, dan Asia menyatakan bahwa keselamatan penumpang adalah prioritas utama yang tidak dapat dikompromikan di tengah agresi yang terus berlanjut.

Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya

Penangguhan ini tidak hanya menyasar wilayah konflik langsung, tetapi juga berdampak pada negara-negara tetangga yang ruang udaranya kini dianggap sebagai zona berisiko tinggi bagi penerbangan komersial.

Gangguan itu diprediksi akan memicu kenaikan harga tiket pesawat secara global akibat perubahan rute penerbangan yang lebih jauh demi menghindari zona bahaya.

Selain itu, sektor pariwisata dan ekonomi di negara-negara Muslim kawasan Timur Tengah kini menghadapi ancaman kerugian besar di tengah upaya mereka untuk tetap menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Situasi ini semakin memperparah isolasi terhadap rakyat Palestina dan warga di Lebanon yang sangat bergantung pada konektivitas udara untuk komunikasi internasional dan akses medis.

Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa

Pengamat penerbangan menilai bahwa normalisasi jalur udara hanya akan terjadi jika ada gencatan senjata permanen dan jaminan keamanan nyata dari pihak-pihak yang terlibat dalam pertikaian bersenjata tersebut.

Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan layanan penerbangan akan kembali dibuka secara normal, karena otoritas keamanan terus melakukan evaluasi harian terhadap dinamika di lapangan.

Masyarakat internasional terus mendesak agar ruang udara sipil tetap dihormati dan tidak dijadikan sasaran maupun instrumen dalam konflik militer demi menjaga nilai-nilai kemanusiaan global. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik

Rekomendasi untuk Anda