Gaza, MINA – Sejumlah 60% lahan pertanian di Jalur Gaza mengalami kehancuran yang mengancam akan runtuh sepenuhnya.
Laporan Jaridah al-Quds, pada Kamis (16/4) menyebutkan, kehancuran itu di samping lahannya yang rusak akibat pengeboman, juga karena pembatasan ketat akses benih dan bahan produksi dasar.
Data lapangan menunjukkan, pendudukan Zionis Israel juga menguasai lebih dari 60% wilayah Jalur Gaza, dan berdampak pada penurunan area pertanian yang tersisa.
Ruang terbatas ini tidak lagi hanya untuk pertanian, tetapi sekarang digunakan untuk kamp bagi para pengungsi, menciptakan dilema antara kebutuhan akan tempat tinggal dan kebutuhan untuk mengamankan makanan.
Baca Juga: Kawanan Lebah Serbu Kota Netivot, Ganggu Operasi Militer Israel
Penghancuran lahan pertanian yang meluas selama operasi militer juga telah menyebabkan pengurangan kapasitas produktif lokal yang belum pernah terjadi sebelumnya, menempatkan ketahanan pangan penduduk dalam bahaya.
Mustafa Al-Astal, salah satu petani setenpat mengatakan, lebih dari 100 pembibitan tanaman miliknya hancur tak tersisa.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum bisa mengelola lahan pertanian, mengingat blokade berkelanjutan telah menghentikan masuknya bahan baku dan pupuk yang diperlukan.
Menurutnya, produksi dua tahun terakhir adalah yang paling sulit dalami para petani, sebagai akibat dari perusakan jaringan lahan dan air.
Baca Juga: Tim Hukum Tahanan Palestina Adukan Israel ke ICC atas Kejahatannya
Sementara itu, petani Sami al-Faluji harus membagi tanah pertanian sayuran yang tersisa untuk tanaman pertanian yang sederhana dan untuk tenda pengungsian.
Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengatakan, setengah dari sumur pertanian di Jalur Gaza telah hancur atau tidak berfungsi, menyebabkan krisis air parah yang telah mengeringkan sebagian besar tanaman. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Hamas Kutuk Pernyataan Wapres AS soal Bantuan Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic