ILMU adalah cahaya. Namun cahaya itu bisa berubah menjadi api yang membakar jika tidak dibingkai oleh akhlak mulia. Dalam Islam, ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berjalan beriringan dengan adab, ketundukan kepada Allah, dan kelembutan hati.
Para ulama salaf bahkan menegaskan bahwa adab didahulukan sebelum ilmu. Maka ketika seseorang memiliki ilmu tinggi namun akhlaknya rendah, di situlah bahaya besar mulai mengintai, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi umat.
Pertama, melahirkan kesombongan intelektual
Ilmu tanpa akhlak sering menumbuhkan rasa paling benar, paling pintar, dan paling layak didengar. Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim). Kesombongan intelektual membuat ilmu tidak lagi menjadi jalan menuju Allah, tetapi menjadi tangga untuk meninggikan ego. Orang seperti ini sulit menerima nasihat, alergi terhadap kritik, dan cenderung meremehkan orang lain yang dianggap “lebih rendah ilmunya”.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Kedua, menjadikan ilmu sebagai alat pembenaran hawa nafsu
Tanpa akhlak, ilmu bisa dipelintir untuk membenarkan keinginan pribadi. Ayat dan hadis dipilih sesuai selera, bukan sesuai kebenaran. Allah mengingatkan, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23). Ilmu yang seharusnya menundukkan hawa nafsu justru dijadikan tameng untuk mempertahankannya.
Ketiga, merusak ukhuwah dan memecah persatuan
Orang berilmu tanpa akhlak sering gemar menyalahkan, menghakimi, dan mempermalukan. Diskusi berubah menjadi arena pamer kepintaran. Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan. Padahal Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak, bukan memenangkan debat. Ilmu tanpa adab melahirkan luka, bukan hidayah.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Keempat, menjauhkan dari keberkahan ilmu itu sendiri
Ilmu yang berkah adalah ilmu yang mendekatkan pemiliknya kepada Allah dan membuatnya semakin tawadhu. Imam Malik رحمه الله berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Tanpa akhlak, ilmu menjadi kering, tidak menenangkan, dan tidak menghidupkan hati. Banyak tahu, tapi tidak menenteramkan. Banyak bicara, tapi sedikit hikmah.
Kelima, menimbulkan kerusakan social
Ketika orang berilmu tidak memiliki empati, ia bisa melukai dengan kata-kata, keputusan, dan sikapnya. Nasihat disampaikan dengan kasar, kebenaran dipukul tanpa kelembutan. Padahal Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Harun ketika menghadapi Fir’aun, “Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS. Thaha: 44). Jika kepada Fir’aun saja Allah perintahkan kelembutan, apalagi kepada sesama muslim.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Keenam, menjauhkan manusia dari agama
Banyak orang bukan membenci Islam, tetapi terluka oleh perilaku orang berilmu yang tidak berakhlak. Sikap kasar, merendahkan, dan tidak manusiawi justru membuat orang menjauh dari kebenaran. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.” (HR. Muslim). Ilmu tanpa akhlak membuat dakwah kehilangan keindahannya.
Ketujuh, menjadi sebab kebinasaan di akhirat
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Ilmu adalah hujjah. Bisa menjadi pembela, bisa menjadi penuntut. Rasulullah SAW bersabda bahwa salah satu golongan pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang berilmu yang mengajarkan ilmu bukan karena Allah, melainkan demi pujian manusia (HR. Muslim). Ilmu yang tidak melahirkan ketundukan justru akan memberatkan hisab.
Pada akhirnya, Islam tidak pernah memisahkan kecerdasan dan kemuliaan akhlak. Ilmu yang sejati adalah yang membuat seseorang semakin takut kepada Allah, semakin rendah hati, semakin lembut kepada sesama. Allah berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).
Maka marilah kita bermuhasabah. Jangan hanya bertanya, “Seberapa tinggi ilmuku?” tetapi tanyakan pula, “Seberapa lembut akhlakku?” Sebab di hadapan Allah, bukan kepintaran yang paling bernilai, melainkan hati yang tunduk dan akhlak yang mulia.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic