Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terapi Menangis: Melepaskan Sesuatu yang Mengganjal

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Rabu, 10 Desember 2025 - 11:52 WIB

Rabu, 10 Desember 2025 - 11:52 WIB

20 Views ㅤ

Ilustrasi AI: seorang pemuda menangis. (Gambar: Dreamina)

MENANGIS sering dianggap sebagai tanda kelemahan, padahal penelitian ilmiah menunjukkan bahwa menangis adalah salah satu mekanisme paling alami dan sehat untuk meredakan stres. Banyak orang merasakan sensasi lega luar biasa setelah menangis—seolah ada beban besar yang terangkat dari dada. Hal ini bukan sekadar perasaan, tetapi reaksi biologis dan psikologis yang nyata. Air mata bukan hanya ekspresi emosi; ia adalah “terapi alami” yang diciptakan tubuh untuk menjaga keseimbangan mental.

Dalam ranah medis, air mata dibagi menjadi tiga jenis: air mata basal yang menjaga kelembaban mata, air mata refleks akibat iritasi, dan air mata emosional yang keluar saat kita sedang sedih, tertekan, atau tersentuh secara mendalam. Yang menarik, air mata emosional mengandung hormon stres seperti prolaktin dan mangan.

Dr. William Frey, seorang ahli biokimia dari Amerika Serikat, menemukan bahwa air mata emosional membantu tubuh membuang zat kimia berlebih yang muncul saat seseorang mengalami tekanan mental. Karena itu, menangis sebenarnya adalah cara tubuh “detoksifikasi emosional”.

Ketika kita menangis, tubuh juga mengaktifkan sistem saraf parasimpatis—bagian dari sistem saraf yang bertugas membawa kita kembali pada keadaan tenang setelah mengalami stres. Aktivasi sistem ini menurunkan detak jantung, merilekskan otot, dan menurunkan tekanan darah. Itulah sebabnya setelah menangis, kita sering merasa hangat, tenang, dan lebih mudah bernapas. Secara fisiologis, menangis adalah proses pemulihan alami yang membantu kita keluar dari kondisi “fight or flight”.

Baca Juga: Sehat di Usia Senja: 9 Tips Santai Menjaga Kesehatan Lansia

Dari sudut pandang psikologi, rasa lega setelah menangis dikenal sebagai catharsis, yaitu pelepasan emosi yang tertahan. Penelitian dari Tilburg University menunjukkan bahwa orang yang menangis dalam suasana yang aman dan didukung akan mengalami peningkatan mood secara signifikan dalam waktu 20–30 menit setelahnya.

Namun, efek lega ini lebih kuat bila seseorang merasa didengarkan atau ditemani oleh orang yang dipercaya. Artinya, menangis bukan hanya proses internal, tetapi juga pengalaman relasional—kita merasa lebih tenang ketika tahu bahwa seseorang memahami luka kita.

Menangis juga berkaitan dengan perbaikan kondisi fisik. Tubuh mengeluarkan endorfin—hormon yang memberikan sensasi nyaman dan secara alami dapat mengurangi rasa sakit. Itulah mengapa setelah menangis, tubuh terasa lebih ringan dan beberapa ketegangan fisik mereda. Penelitian lain menunjukkan bahwa setelah menangis, ambang rasa sakit seseorang meningkat, menandakan bahwa tubuh secara aktif berusaha mengembalikan diri pada keadaan stabil.

Yang tidak kalah menarik, menangis memainkan peran penting dalam membangun koneksi sosial. Secara neurologis, melihat seseorang menangis mengaktifkan anterior cingulate cortex, wilayah otak yang bertanggung jawab pada empati. Air mata menjadi sinyal kejujuran emosional yang membuat orang lain lebih peka, lebih peduli, dan lebih siap memberi dukungan. Karena itu, momen menangis bersama orang terdekat sering memperkuat hubungan.

Baca Juga: Kasus Influenza di Indonesia Meningkat, Ini Subtipe Dominan dan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Banyak orang memilih menahan tangis karena takut dianggap lemah. Padahal, menahan emosi justru dapat meningkatkan stres kronis. Stres berkepanjangan dapat mengacaukan hormon, mengganggu kualitas tidur, hingga melemahkan sistem imun. Penelitian dari St. Paul–Ramsey Medical Center menegaskan bahwa menangis pada waktu yang tepat dapat menurunkan stres fisiologis secara signifikan. Bahkan, beberapa terapis memasukkan sesi “emotional release” sebagai bagian dari terapi trauma.

Menerima bahwa kita sedang terluka adalah bentuk keberanian, bukan kelemahan. Menangis menunjukkan bahwa kita manusia biasa yang memiliki batas emosi. Saat kita menolak menangis, kita menolak komunikasi tubuh yang sedang mengatakan, “Ada yang perlu dilepaskan.”

Untuk menjalani terapi menangis secara sehat, seseorang tidak perlu teknik rumit. Temukan tempat yang aman dan tenang—kamar, sudut rumah, atau tempat ibadah. Beri izin kepada diri sendiri untuk tidak baik-baik saja. Perhatikan napas, biarkan air mata mengalir tanpa dipaksa.

Setelah itu, banyak orang merasa terbantu dengan menuliskan apa yang mereka rasakan dalam jurnal singkat. Ada pula yang memilih berdoa atau meditasi, karena setelah menangis, otak lebih siap menerima ketenangan spiritual. Terakhir, lakukan perawatan diri sederhana seperti minum air hangat atau beristirahat sejenak.

Baca Juga: Dinkes Jabar Catat 65 Kasus Flu Babi Terdeteksi di Bandung, Warga Diminta Waspada

Pada dasarnya, menangis adalah bagian dari kesehatan mental yang normal dan penting. Tubuh memiliki caranya sendiri untuk meredakan beban yang tidak terlihat. Air mata membawa keluar hormon stres, meredakan ketegangan saraf, dan membuka ruang bagi ketenangan baru. Yang salah bukanlah menangis, tetapi memaksa diri untuk selalu terlihat kuat meski hati sedang penuh.

Ketika kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk menangis, kita sedang membuka pintu penyembuhan. Terapi menangis bukanlah kelemahan—ia adalah langkah lembut namun kuat untuk melepaskan sesuatu yang selama ini mengganjal.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Rasil dan Komunitas Terapis Al-Fatah Kembali Gelar Baksos Thibbun Nabawi

Rekomendasi untuk Anda

MINA Health
MINA Edu
Seminar Pra Nikah bertajuk “Nikah Bukan Sekadar Cinta: Siapkan Ilmu, Mental, Finansial & Fisik” di Ballroom Metropolitan Mall Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (11/10),
Indonesia