Jakarta, MINA – Rencana pertemuan tingkat tinggi negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi D-8 di Jakarta terpaksa ditunda menyusul meningkatnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Penundaan tersebut dilakukan setelah sejumlah negara peserta, termasuk Turki dan Iran, mempertimbangkan situasi keamanan yang belum stabil di kawasan.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyampaikan bahwa keputusan penundaan diambil setelah berkonsultasi dengan negara anggota D-8 serta Sekretariat organisasi tersebut.
Pemerintah Indonesia telah mengirimkan surat resmi kepada para menteri luar negeri negara anggota untuk memberitahukan bahwa pelaksanaan pertemuan akan dijadwalkan ulang hingga situasi dinilai lebih kondusif.
Baca Juga: Menko Yusril: Kasus Penyadapan Presiden Belum Mengarah ke Makar
Pertemuan yang semula dijadwalkan berlangsung pada 13–15 April 2026 di Jakarta itu rencananya akan dihadiri para pemimpin negara anggota D-8. Namun, meningkatnya ketegangan geopolitik sejak akhir Februari membuat sebagian delegasi mempertimbangkan kembali kehadiran mereka, terutama karena konflik bersenjata di Timur Tengah terus berkembang tanpa tanda de-eskalasi.
Organisasi D-8 sendiri merupakan forum kerja sama ekonomi yang beranggotakan delapan negara berkembang mayoritas Muslim, yakni Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki.
Organisasi ini didirikan pada 1997 dengan tujuan meningkatkan kerja sama perdagangan, investasi, serta pembangunan ekonomi di antara negara-negara anggotanya.
Indonesia saat ini memegang ketua D-8 untuk periode 2026–2027 dengan agenda utama memperkuat solidaritas dan kerja sama ekonomi di tengah perubahan global.
Baca Juga: Listyo Sigit Ditahan di Mabes Polri, Kasus Penyadapan HP Presiden Prabowo
Pertemuan puncak di Jakarta sedianya menjadi momentum penting bagi negara anggota untuk membahas peningkatan perdagangan intra-anggota dan strategi menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia.
Para pengamat menilai konflik Timur Tengah yang semakin meluas tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga mengganggu agenda diplomasi internasional dan kerja sama ekonomi global.
Ketidakstabilan geopolitik tersebut bahkan mulai memengaruhi berbagai pertemuan multilateral, mobilitas pejabat negara, hingga stabilitas pasar energi dunia. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic