Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalender Hijriyah, Warisan Umar bin Khattab yang Terlupakan

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Senin, 15 Juni 2026 - 20:58 WIB

Senin, 15 Juni 2026 - 20:58 WIB

54 Views ㅤ

Ilustrasi: Kalender Islam. (ist)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat At-Taubah:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (Q.S. At-Taubah [9]: 36).

Dua belas bulan. Itulah ketetapan Allah sejak langit dan bumi diciptakan. Namun, sudahkah kita sebagai umat Islam benar-benar akrab dengan nama-nama bulan-bulan itu?

Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas

Tahukah kita bahwa Kalender Islam atau Hijriyah, warisan mulia dari Khalifah Umar bin Khattab, saat ini masih belum populer di kalangan umat Islam sendiri? Banyak dari kita yang sulit menyebutkan urutan dua belas bulan Hijriyah dengan lancar. Jangankan hafal di luar kepala, untuk sekadar memasang kalender Hijriyah di dinding rumah atau kantor pun masih jarang dilakukan.

Kalender yang terpampang di ruang tamu, ruang kantor, bahkan di ponsel pintar kita pada umumnya adalah Kalender Masehi. Padahal, sejarah perjuangan dan peradaban Islam telah mencatat dengan tinta emas bahwa penanggalan Hijriyah bukanlah sekadar angka, melainkan tonggak kebangkitan umat.

Penanggalan ini dihitung berdasarkan peristiwa agung Hijrah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Makkah ke Madinah, sebuah momentum yang mengubah arah sejarah, dari tekanan dan penganiayaan menuju kebebasan dan kemuliaan.

Nama-Nama Bulan Hijriyah

Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi

Marilah kita hafalkan dan sebarkan nama-nama dua belas bulan dalam Kalender Hijriyah ini:

(1) Muharram

(2) Shafar

(3) Rabi’ul Awwal

Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional

(4) Rabi’ul Akhir

(5) Jumadil Awwal

(6) Jumadil Akhir

(7) Rajab

Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata

(8) Sya’ban

(9) Ramadhan

(10) Syawal

(11) Dzulqa’dah

Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital

(12) Dzulhijjah.

Bagi kita kaum Muslimin, penggunaan Kalender Hijriyah ini bukan sekadar urusan administrasi. Ia terkait erat dengan ibadah kepada Allah.

Seperti penentuan 1 Ramadhan, 1 Syawal, 9 Dzulhijjah (wukuf dan puasa Arafah), 10 Dzulhijjah (Idul Adha dan Hari Raya Qurban), Tahun Baru Islam 1 Muharram, 10 Muharram puasa Asyura. Termasuk jika akan mengadakan peringatan Maulid Nabi dan Isra Mi’raj juga melekat pada kalender ini

Saatnya Berhijrah ke Kalender Hijriyah

Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa

Sudah saatnya kita berhijrah, bukan berpindah tempat tinggal, tetapi beralih dari kebiasaan lama yang lebih mengagung-agungkan budaya asing, menuju identitas kita sendiri.

Mulailah dari hal-hal sederhana, seperti Pasang kalender Hijriyah di dinding rumah, ruang kantor, atau tempat kerja, gunakan tanggal Hijriyah dalam catatan harian, undangan, atau surat-menyurat.

Jika menyebut tanggal Masehi, jangan lupa sertakan tanggal Hijriyahnya. Lebih utama lagi, dahulukan Hijriyah, kemudian sebutkan Masehi. Ajarkan nama-nama bulan Hijriyah kepada anak-anak kita sejak dini.

Dengan langkah-langkah kecil ini, lambat laun pemakaian kalender Hijriyah akan merata di tengah masyarakat. Kita tidak hanya menghargai warisan mulia Khalifah Umar bin Khattab, tetapi juga mentaati apa yang telah diputuskan oleh beliau dan para sahabat lainnya.

Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam

Hijrah, Kisah Spektakuler di Balik Tahun Baru

Setiap kali tahun baru Hijriyah tiba, kita diingatkan pada kisah spektakuler yang mengubah peradaban, yakni peristiwa Hijrah. Rasulullah 1 Muharram dan para sahabat meninggalkan tanah kelahiran mereka, Makkah, menuju Yatsrib (yang kemudian berganti nama menjadi Madinah). Bukan karena takut atau lemah, tetapi karena memenuhi panggilan Allah untuk menegakkan agama-Nya.

Allah menyebutkan perkataan hijrah atau pecahannya tidak kurang dari 30 kali di dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa pentingnya makna hijrah dalam syariat Islam.

Hijrah bukan sekadar berpindah tempat. Ia adalah perpindahan dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebodohan menuju ilmu, dari ketertindasan menuju kejayaan.

Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa

Harapan di Tahun Baru 1448

Tahun 1448 Hijriyah akan segera kita sambut. Marilah kita jadikan tahun ini sebagai momentum untuk berbenah. Jika tahun kemarin masih banyak kekurangan, semoga tahun ini lebih baik. Jika tahun ini sudah baik, semoga tahun berikutnya lebih baik lagi.

Selamat Tahun Baru 1448 Hijriyah. Mari kita hidupkan kembali kalender umat ini, bukan sekadar sebagai penghias dinding, tetapi sebagai pengingat bahwa waktu yang Allah berikan kepada kita adalah amanah. Dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. []

Aamiin, ya Rabbal ‘alamin.

Baca Juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Dunia Islam
Khutbah Jumat
Tausiyah
Kolom