Tel Aviv, MINA — Kelahiran sapi merah dalam kepercayaan Yahudi kembali menjadi perhatian setelah ritual tersebut diyakini berkaitan erat dengan agenda pembangunan Kuil Ketiga yang disebut-sebut akan berdampak pada keberadaan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.
Dilaporkan Al Jazeera pada Kamis (18/6/), seorang pakar urusan Yerusalem mengungkapkan melalui unggahan di platform X bahwa sapi merah Yahudi yang baru lahir tersebut memiliki posisi berbeda dibanding lima sapi merah sebelumnya yang didatangkan dari negara bagian Texas, Amerika Serikat.
Menurutnya, kelahiran sapi merah terbaru ini dianggap lebih signifikan karena lahir langsung di wilayah Palestina yang diduduki Israel. Kondisi ini sekaligus menjawab keberatan sejumlah rabi Yahudi yang sebelumnya menilai sapi merah dari Texas tidak sepenuhnya memenuhi syarat keagamaan atau ketentuan ritual dalam tradisi mereka.
Dalam tradisi keagamaan Yahudi tertentu, ritual penyembelihan sapi merah dianggap sebagai bagian penting dari proses penyucian sebelum dimulainya pembangunan kembali kuil suci yang diyakini berdiri di lokasi kompleks Masjid Al-Aqsa saat ini.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Kepercayaan mengenai sapi merah atau Parah Adumah menjadi salah satu doktrin penting yang berkembang di kalangan kelompok Yahudi ultra-Ortodoks, khususnya kelompok yang mendorong percepatan pembangunan Kuil Ketiga di wilayah Yerusalem Timur yang diduduki.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa kemunculan sapi merah dianggap sebagai tanda dimulainya fase persiapan ritual besar yang memiliki kaitan erat dengan agenda perubahan status kawasan suci Al-Aqsa.
Dalam keyakinan tersebut, abu hasil pembakaran sapi merah dibutuhkan sebagai sarana penyucian ritual bagi para pendeta Yahudi sebelum memasuki tahap pembangunan kuil yang mereka yakini sebagai bagian dari nubuat akhir zaman.
Isu ini kembali memicu kekhawatiran luas di kalangan umat Islam dunia karena pembangunan Kuil Ketiga diyakini oleh sebagian kelompok ekstrem Yahudi akan dilakukan di lokasi yang saat ini menjadi tempat berdirinya Masjid Al-Aqsa, situs suci ketiga umat Islam.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Menurut sejumlah pengamat Timur Tengah, ritual sapi merah bukan sekadar simbol keagamaan, tetapi memiliki dimensi politik dan ideologis yang berkaitan dengan konflik berkepanjangan di wilayah Palestina yang diduduki.
Lembaga seperti Temple Institute di Israel selama beberapa tahun terakhir diketahui aktif mempersiapkan berbagai kebutuhan ritual yang berkaitan dengan pembangunan kuil tersebut, termasuk pengembangbiakan sapi merah yang memenuhi syarat sesuai tradisi Taurat.
Di tengah meningkatnya ketegangan di Yerusalem, isu ritual sapi merah terus menjadi perhatian karena dianggap dapat memperburuk konflik di kawasan suci yang selama ini menjadi titik sensitif antara Palestina dan Israel.
Masjid Al-Aqsa sendiri memiliki posisi sangat penting bagi umat Islam dunia sebagai kiblat pertama sekaligus salah satu situs paling sakral dalam sejarah peradaban Islam.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Karena itu, perkembangan terkait ritual sapi merah Yahudi terus dipantau berbagai pihak mengingat implikasinya yang dinilai dapat memicu eskalasi baru di kawasan Yerusalem dan memperbesar ancaman terhadap keberadaan Masjid Al-Aqsa. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic