Regina, MINA – Masjid Jamia di pusat kota Regina, Saskatchewan, Kanada, melaporkan telah menerima ancaman setelah memulai siaran azan dari pengeras suara di atapnya.
Direktur masjid, M. Anisur Rahaman, menyatakan beberapa pesan ancaman muncul akibat kesalahpahaman tentang frekuensi dan lokasi adzan. Radio Kanada CBC melaporkan, Rabu (24/6).
Banyak warga mengira azan akan dikumandangkan lima kali sehari, padahal hanya dilakukan sekali dalam sepekan, yaitu pada hari Jumat sebelum Jumatan.
Dinas Kepolisian Regina telah mengeluarkan izin amplifikasi suara kepada masjid tersebut, yang berlaku hingga 10 Juli 2026.
Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya
Polisi menyatakan ancaman akan ditanggapi dengan serius dan diselidiki berdasarkan undang-undang kejahatan kebencian Kanada yang baru saja diperkuat.
Sebagai langkah antisipasi, peningkatan kehadiran polisi akan terlihat di sekitar tempat-tempat ibadah Muslim pada hari Jumat mendatang.
Ajakan Dialog dan Edukasi
Rahaman mendesak masyarakat untuk maju dan belajar lebih banyak tentang tradisi adzan, serta membuka diri untuk berdialog dengan mereka yang memiliki pertanyaan.
Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa
“Kami lebih dari bersedia untuk berdiskusi dengan mereka, untuk memberi tahu mereka apa sebenarnya seruan azan itu. Kami juga ingin berbicara dan mendapatkan pengalaman tentang agama lain, apa yang mereka pikirkan dan bagaimana kita dapat bekerja sama,” ujarnya.
Ia menegaskan, masjid terbuka bagi siapa pun yang ingin bertanya, termasuk non-Muslim, dan menolak gagasan bahwa azan tidak boleh disiarkan.
“Tanpa dialog, saya tidak melihat ada solusi. Kami di sini bukan untuk berdebat dengan siapa pun. Kami di sini untuk berbagi pengetahuan,” imbuhnya.
Amin Asfari, Ketua Studi Kepolisian Yayasan Hukum Saskatchewan di Universitas Regina, menyebut ancaman terhadap masjid “tidak dapat diterima.” Namun ia menilai keputusan menyiarkan azan tanpa sosialisasi yang cukup dengan komunitas lebih luas adalah sebuah kesalahan.
Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik
Menurutnya, praktik keagamaan yang tiba-tiba menjadi lebih terlihat tanpa landasan dialog yang memadai dapat memperkuat prasangka yang sudah ada.
“Ketika orang tidak tahu siapa Anda, belum melihat Anda terlibat dalam komunitas, belum melihat Anda berkontribusi pada solusi masalah sosial, saya pikir itu bermasalah,” ujarnya.
Ia juga memperingatkan bahwa penyiaran azan dapat memperburuk wacana Islamofobia di media sosial dan membuat anak-anak Muslim merasa lebih terisolasi serta terpinggirkan.
Direktur masjid, Rahaman mengatakan azan Jumat pertama adalah momen positif bagi masjid, dan ia berharap hal itu dapat terus berlanjut jika proses peninjauan izin berjalan dengan baik.
Baca Juga: Saudi Koordinasi dengan NATO dan Eropa Bahas Perkembangan Kawasan
“Kami di sini bukan untuk mengganggu siapa pun. Kami di sini untuk bertemu dan menyapa dan berbagi pengetahuan,” pesannya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Qatar Bantah Campur Tangan di Pemilu Israel: “Tuduhan Konyol dan Berbahaya!”
















Mina Indonesia
Mina Arabic