Kathmandu, MINA – Banjir bandang dan longsor dahsyat di kawasan perbatasan Nepal-Tiongkok menewaskan sedikitnya 543 orang dan menyebabkan lebih dari 1.200 lainnya masih hilang.
Bencana yang terjadi setelah runtuhnya es dan batuan di kawasan Himalaya itu menyapu permukiman, jalan, jembatan, hingga fasilitas perbatasan.
Data tersebut mencakup korban di Nepal dan wilayah Tibet. Di Nepal, sebagian besar korban berada di sejumlah distrik yang dilalui aliran banjir, sementara di Tibet juga dilaporkan terdapat korban jiwa dan ratusan orang hilang.
Angka tersebut masih dapat berubah karena tim penyelamat terus melakukan pencarian di wilayah yang terdampak parah. Ariananews melaporkan, Sabtu (29/8).
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Banjir terjadi pada Rabu (26/8) setelah longsoran es dan batu dalam jumlah besar jatuh ke aliran sungai di kawasan Himalaya.
Material tersebut kemudian memicu aliran air, lumpur dan bebatuan dengan kekuatan besar hingga menghancurkan kawasan di sepanjang sungai. Sejumlah desa bahkan disebut mengalami kerusakan sangat parah.
Upaya pencarian korban menghadapi medan yang sulit. Infrastruktur penting seperti jalan dan jembatan rusak, sementara ancaman banjir susulan masih membayangi. Di wilayah Tibet, otoritas juga memantau danau yang terbentuk akibat material longsoran karena peningkatan volume air berpotensi menimbulkan bahaya baru.
Bencana tersebut juga berdampak terhadap warga negara asing yang berada di kawasan perbatasan, termasuk peziarah dan wisatawan yang melakukan perjalanan menuju kawasan suci Kailash Mansarovar.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Laporan menyebut puluhan hingga ratusan warga dari berbagai negara masih belum ditemukan. Kondisi ini membuat sejumlah pemerintah asing berupaya memastikan keselamatan warganya.
Pemerintah Nepal mengerahkan ribuan personel keamanan untuk operasi pencarian dan penyelamatan, dibantu helikopter serta berbagai peralatan darurat.
Sejumlah negara telah menawarkan bantuan, namun Kathmandu menyatakan operasi pencarian utama masih dapat ditangani aparat dalam negeri. Di tengah situasi tersebut, kebutuhan kemanusiaan terus meningkat karena lebih dari 90.000 orang diperkirakan membutuhkan bantuan mendesak. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
















Mina Indonesia
Mina Arabic