SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - 8 jam yang lalu

8 jam yang lalu

16 Views ㅤ

Ilustrasi: Suasana pagi. (Dok MINA/bungahiasz)

ADA jeda yang tak terucapkan antara tidur dan terjaga. Di sanalah, di antara gelapnya malam dan terangnya fajar, Allah mengembalikan sesuatu yang amat berharga, yaitu nyawa.

Tidur, kata para bijak, adalah saudara kecil dari kematian. Maka siapa yang terbangun, sungguh ia telah diberi kesempatan kedua yang tidak semua orang miliki.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kita untuk menyambut anugerah itu dengan kalimat yang ringan di lisan namun berat di timbangan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kami dikembalikan.” (HR. Bukhari).

Perhatikanlah, saudaraku. Sebelum kaki menyentuh lantai, sebelum tangan meraih sandal, sebelum air menyentuh wajah, lisan kita telah dididik untuk memulai segalanya dengan pujian.

Bukan dengan keluhan tentang pekerjaan yang menanti, bukan dengan kegelisahan tentang rezeki yang belum tiba. Tetapi dengan alhamdulillah, sebuah pengakuan bahwa hidup ini bukan milik kita, melainkan titipan yang setiap pagi diperbarui.

“Wa ilaihin nusyur.” Dan kepada-Nya kita dikembalikan. Kalimat penutup itu bukan sekadar penutup, melainkan pengingat akan arah pulang.

Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa

Pagi ini kita bangun, tetapi suatu hari nanti kita akan dibangunkan untuk perjalanan yang tak kembali. Maka setiap alhamdulillah di pagi hari adalah persiapan menuju hari itu.

Al-Fatihah: Dialog dengan Allah

Lalu datanglah wudhu. Air menyapu tangan, wajah, dan kaki, membasuh debu dunia, sekaligus mengingatkan bahwa kita datang kepada Allah dalam keadaan bersih, atau setidaknya berusaha untuk itu. Dan setelah itu, kita berdiri. Menghadap kiblat. Mengangkat takbir.

Di dalam shalat itulah, kita membuka dengan Al-Fatihah, induk kitab, tujuh ayat yang menjadi inti dari seluruh dialog antara hamba dan Rabb-nya.

Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam

Di sanalah alhamdulillah hadir lagi, tetapi kali ini bukan sebagai ucapan syukur atas bangun tidur. Kali ini ia adalah pembuka pintu langit:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”

Para ulama meriwayatkan bahwa Allah berfirman: “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Ketika hamba mengucapkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Allah menjawab: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.”

Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa

Subhanallah. Bayangkanlah, saudaraku. Ketika lisan kita yang kecil dan lemah ini mengucapkan pujian, Allah, Yang Maha Besar, Yang tidak butuh pujian siapa pun, menjawab.

Bukan karena Dia memerlukan kita, tetapi karena Dia Maha Pengasih kepada hamba-Nya. Setiap alhamdulillah dalam shalat adalah dialog, bukan monolog.

Kita berbicara, dan Allah mendengar. Kita memuji, dan Allah merespons.

Maka janganlah terburu-buru dalam shalat. Janganlah menjadikan Al-Fatihah sekadar bacaan wajib yang harus diselesaikan. Ia adalah perjumpaan. Setiap ayatnya adalah tangan yang terulur, dan setiap alhamdulillah-nya adalah genggaman yang erat antara hamba dan Tuhannya.

Baca Juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup

Alhamdulillah 33x juga menjadi salah satu dzikir utama setelah shalat fardhu didirikan.

Doa Pagi: Ketika Langit Masih Sepi Saksi

Setelah shalat, setelah dzikir, datanglah waktu yang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebut sebagai salah satu waktu terbaik untuk memohon, pagi hari.

Di saat langit masih kelabu, saat embun masih setia di dedaunan, dan saat manusia belum ramai dengan urusannya, kita dianjurkan untuk memanjatkan doa-doa pagi.

Baca Juga: Doa Menyambut Turunnya Hujan yang Membasahi Bumi

Ada doa yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk dibaca di pagi hari, sebuah doa yang merangkum seluruh kebutuhan seorang hamba. Di antara doa pagi itu, setelah lagilai kta mengucap tahmid “Alhamdulillah” dan shalawat:

اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُورُ

“Ya Allah, dengan-Mu kami memasuki pagi, dengan-Mu kami memasuki petang, dengan-Mu kami hidup, dengan-Mu kami mati, dan kepada-Mu kami dikembalikan.” (HR. Tirmidzi).

Lihatlah bagaimana doa ini mengalirkan kesadaran tauhid ke dalam setiap detik kehidupan. Pagi bukan milik kita, ia milik Allah. Hidup bukan kuasa kita, ia karunia Allah. Kematian pun bukan wewenang kita, ia ketetapan Allah.

Baca Juga: Ketika Bulan Sabit dan Venus Berdampingan di Ufuk Barat

Maka alhamdulillah di pagi hari bukanlah sekadar ucapan terima kasih, tetapi penyerahan diri yang utuh.

Ada pula doa yang diajarkan untuk memohon keselamatan dan perlindungan sepanjang hari:

اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, sehatkanlah badanku, ya Allah sehatkanlah pendengaranku, ya Allah sehatkanlah penglihatanku. Tiada Tuhan selain Engkau.” (HR. Thabrani)

Baca Juga: Membaca Sejarah Tiga Pembebasan Spektakuler: Resensi Buku Imam Yakhsyallah Mansur

Betapa indahnya. Ketika kita bersyukur dengan alhamdulillah, kita tidak berhenti pada ucapan. Kita memohon agar nikmat itu dijaga, sehat badannya, sehat pendengarannya, sehat penglihatannya. Karena syukur yang sejati bukan hanya mengucapkan terima kasih, tetapi juga menjaga pemberian itu agar tetap layak digunakan untuk ketaatan.

Dan di antara doa-doa pagi itu, ada satu doa yang menegaskan identitas kita sebagai hamba:

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ، وَكَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kami memasuki pagi ini di atas fitrah Islam, kalimat keikhlasan, dan agama Nabi kami Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”

Baca Juga: Keimanan Tak Akan Tumbuh Bersama Kesombongan

Inilah deklarasi iman di ufuk pagi. Sebelum dunia menawarkan seribu godaan, kita telah menegaskan siapa diri kita. Sebelum kaki melangkah ke pasar, ke kantor, ke sekolah, atau ke ladang, hati kita telah ditancakan pada kalimat tauhid.

Berangkat dengan Nama Allah

Dan tibalah saatnya berangkat  beraktivitas. Pintu dibuka, kendaraan dinyalakan, atau kaki mulai melangkah, atau tangan mulai bergerak. Di titik inilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan doa yang menjadi perisai perjalanan:

بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Baca Juga: Ashbahna ‘Ala Fithratil Islam: Doa Pagi yang Meneguhkan Identitas Keimanan

“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Perhatikanlah, saudaraku. Pagi itu dibuka dengan alhamdulillah, pujian. Ia dilanjutkan dengan Al-Fatihah, dialog. Ia diperkuat dengan doa-doa pagi, penyerahan. Dan ia ditutup dengan bismillah dan tawakkal, keberangkatan yang disertai nama Allah.

Maka jadilah hari itu satu paket ibadah yang utuh. Dari terbukanya mata hingga langkah pertama keluar rumah, semuanya telah diwarnai dengan zikir, syukur, dan tauhid.

Seorang mukmin tidak memulai harinya dengan kosong. Ia memulainya dengan penuh, penuh pujian, penuh permohonan, penuh kesadaran akan kehadiran Allah.

Alhamdulillah yang Menembus Seluruh Hari

Saudaraku, sesungguhnya alhamdulillah di pagi hari bukanlah sekadar ritual pembuka.

Ia adalah benih yang ditanam di tanah hati. Jika benih itu tumbuh, ia akan berbuah sepanjang hari:

  • Ketika rezeki datang, kita ucapkan alhamdulillah.
  • Ketika kesulitan menghadang, kita ucapkan alhamdulillah, karena di baliknya ada hikmah.
  • Ketika kesehatan terjaga, kita ucapkan alhamdulillah.
  • Ketika ujian datang, kita ucapkan alhamdulillah, karena itu tanda Allah masih mencintai kita.
  • Bahkan ketika kehilangan, kita tetap berusaha mengucapkan alhamdulillah, karena segala sesuatu berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Inilah rahasia alhamdulillah, ia mengubah setiap keadaan menjadi kebaikan.

Bagi orang beriman, tidak ada hari yang buruk. Ada hari yang mudah, dan ada hari yang mengajarkan kesabaran. Keduanya adalah kebaikan, selama lisan dan hati kita dipenuhi dengan pujian kepada Allah, ahamdulillah.

Penutup

Saudaraku yang dirahmati Allah. Maka, marilah kita renungkan kembali perjalanan pagi kita hari ini.

Mata terbuka, alhamdulillah. Nyawa dikembalikan, alhamdulillah. Bisa berwudhu, alhamdulillah. Bisa shalat, alhamdulillah. Bisa membaca Fatihah dan berdialog dengan Allah, alhamdulillah. Bisa berdoa, alhamdulillah. Bisa berangkat beraktivitas, alhamdulillah.

Betapa banyak nikmat yang kita terima sebelum matahari benar-benar tinggi. Betapa banyak karunia yang kita lupakan karena sudah terlalu biasa. Maka janganlah biarkan alhamdulillah menjadi kalimat yang kosong, yang diucapkan tanpa makna. Jadikanlah ia napas kedua setelah iman. Jadikanlah ia cahaya yang menerangi setiap langkah.

Karena sesungguhnya, orang yang pandai bersyukur adalah orang yang paling kaya, meskipun hartanya dikatakan sedikit. Dan orang yang paling miskin adalah orang yang tidak pernah merasa cukup, meskipun dunia ada di tangannya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang lisannya basah oleh alhamdulillah, hatinya penuh dengan kesadaran akan nikmat-Nya, dan langkahnya senantiasa berada di jalan yang diridhai-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish shawab.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Hikmah
Hikmah
Hikmah