Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adab di Majelis Ilmu: Hormat Itu Keren, Bukan Feodal

Arief Rahman - Rabu, 16 September 2026 - 08:53 WIB

Rabu, 16 September 2026 - 08:53 WIB

64 Views ㅤ

Ilustrasi majelis ilmu (Foto: Dibuat oleh AI)

PERNAH nggak sih, lagi duduk di majelis ilmu — entah itu kajian di masjid, kelas ngaji, atau bahkan meeting kantor yang dihadiri orang yang lebih senior — terus mata sibuk ke HP, jempol nge-scroll, atau malah nyempil buka game bentar? Kelihatannya sepele. Tapi buat yang lagi berbicara di depan, itu bisa kerasa banget. Nah, ini bukan soal “harus manut” ke atasan atau senior secara buta. Ini soal adab — dan adab itu beda jauh sama feodalisme.

Feodalisme itu menuntut hormat karena jabatan atau garis keturunan, titik, tanpa peduli isinya. Adab dalam Islam justru sebaliknya: kita menghormati ilmu, kedudukan sebagai tamu, dan usia — bukan karena “dia lebih tinggi dari kita”, tapi karena itu cara kita merawat keberkahan dari apa yang sedang kita terima. Nabi Muhammad ﷺ sendiri, sosok paling mulia sepanjang sejarah, justru dikenal paling rendah hati ke siapa pun. Jadi hormat dalam adab itu lahir dari kesadaran, bukan dari rasa takut atau kelas sosial.

1. Menghargai Tamu dan Guru itu Fitrah, Bukan Formalitas

Ketika ada tamu atau seorang guru (dalam konteks majelis ilmu, misalnya seorang imam atau ustaz yang mengisi kajian) hadir di tengah kita, itu bukan sekadar “orang lewat”. Beliau membawa ilmu, membawa waktu dan tenaganya untuk kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga mengajarkan bahwa menghormati orang yang lebih senior dan berilmu adalah bagian dari identitas seorang muslim yang utuh:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Menghargai guru bukan berarti kita nggak boleh kritis atau nggak boleh bertanya. Justru sebaliknya — semakin kita hormat, biasanya semakin nyaman juga proses belajarnya, karena ada rasa percaya yang terbangun.

Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri

2. Fokus di Majelis: Skip Dulu Notifikasi HP-nya

Ini yang sering luput. Duduk di majelis tapi pikiran (dan jempol) ke mana-mana — main game, chatting hal yang nggak urgent, scrolling media sosial. Coba dibalik posisinya: kalau kita capek-capek nyiapin materi atau cerita penting, terus lawan bicara asyik sendiri sama HP-nya, gimana rasanya? Allah SWT berfirman soal etika di majelis:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelonggaran di dalam majelis-majelis’, maka lapangkanlah…” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Ayat ini soal memberi ruang fisik, tapi prinsipnya bisa ditarik lebih luas: majelis itu ruang bersama yang butuh perhatian bersama. Bukan berarti HP haram dipegang — kalau memang lagi menunggu kabar penting atau darurat, wajar. Tapi kalau cuma buat scroll santai atau main game, itu sinyal bahwa hati kita belum benar-benar “hadir” di majelis tersebut.

Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia

3. Jaga Bahasa Tubuh — Kecil, tapi Kelihatan

Beberapa kebiasaan fisik yang mungkin terasa wajar di suasana santai, ternyata perlu diperhatikan lagi kalau ada di majelis ilmu: duduk selonjoran ke arah pembicara, sendawa keras tanpa ditahan, apalagi kentut tanpa berusaha menghindarinya, atau menguap dan bersin tanpa ditutup. Semua ini bukan dosa besar, tapi termasuk hal yang Islam sudah atur adabnya sejak dulu. Soal menguap, misalnya, Rasulullah ﷺ mengajarkan:

“Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya dengan tangannya.” (HR. Muslim)

Begitu juga soal bersin — riwayat dari Aisyah RA menyebutkan Nabi ﷺ biasa menutup mulut atau wajahnya dengan tangan atau kainnya ketika bersin, dan merendahkan suaranya (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Kalau hal-hal kecil semacam ini saja diajarkan adabnya, apalagi soal duduk sopan dan menjaga suara tubuh saat ada orang yang sedang mengajarkan ilmu di depan kita.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Kaji Jejak Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari di Kawasan Samudra Hindia

Lalu, Siapa yang Mulai?

Balik lagi ke pertanyaan awal: kalau bukan kita sebagai makmum, sebagai murid, sebagai jamaah yang duduk paling dekat dengan majelis ilmu — siapa lagi yang akan menjaga adab itu? Menghormati guru dan tamu, fokus saat majelis berjalan, dan menjaga sopan santun fisik, semuanya kecil-kecil kalau dilihat satu-satu. Tapi begitu digabung, itu yang membentuk suasana majelis yang berkah — dan itu yang bikin ilmu lebih mudah diserap, bukan cuma didengar.

Adab bukan tentang siapa yang lebih tinggi. Adab tentang bagaimana kita merawat rasa hormat terhadap ilmu, terhadap waktu orang lain, dan terhadap majelis yang sedang berlangsung. Semoga kita semua — generasi muda maupun tua — bisa jadi bagian yang menjaga itu, bukan yang meruntuhkannya. Wallahu a’lam. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: SMART 171 Gelar Edukasi Boikot Produk Israel di SDIT Khairu Ummah Sumedang

 

Rekomendasi untuk Anda

MINA Edu
Tausiyah
Artikel
Khadijah