Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aliran Minyak Selat Hormuz Mulai Pulih Meski Perang AS-Iran Masih Berlanjut

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 30 Agustus 2026 - 20:56 WIB

Ahad, 30 Agustus 2026 - 20:56 WIB

23 Views ㅤ

Kapal melintas di Selat Hormuz (foto: dok MINA)

Teheran, MINA – Meskipun konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran masih berkecamuk di kawasan Teluk, arus minyak melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan yang signifikan.

Menariknya, aliran ini terus meningkat meski ancaman ranjau dan serangan masih menghantui perairan strategis tersebut.

Sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu, sekitar 100 tanker melintasi Selat Hormuz setiap harinya. Saat konflik memuncak, angka itu sempat anjlok drastis hingga kurang dari 10 kapal per hari.

Namun, laporan terbaru dari para analis menunjukkan bahwa volume ekspor minyak mentah dan produk olahan kini telah pulih menjadi 15-16 juta barel per hari, atau sekitar dua pertiga dari kondisi sebelum perang.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

“Penyeberangan Gelap”

Menurut analis dari Goldman Sachs, pemulihan ini tidak lepas dari strategi adaptasi para pengirim dan produsen minyak.

Mereka mulai menggunakan “penyeberangan gelap”, praktik mematikan transponder satelit agar kapal tidak terdeteksi, serta melakukan transfer antar kapal di tengah laut untuk menghindari blokade dan serangan.

“Dengan meningkatnya aliran gelap, produsen dan pengirim mulai beradaptasi dengan konflik Timur Tengah,” tulis Goldman Sachs dalam catatannya.

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Mereka juga menambahkan bahwa praktik ini bisa menahan lonjakan harga minyak mentah, meskipun gangguan di kawasan berlangsung lebih lama.

Harga Minyak Mulai Terkendali

Pemulihan pasokan ini berdampak langsung pada harga minyak dunia. Setelah sempat melonjak ke atas US$120 per barel pada April, harga kini turun ke kisaran US$89 per barel, sebuah kabar lega bagi konsumen global. Namun, para pengamat tetap waspada.

Setiap eskalasi baru antara Washington dan Teheran bisa dengan cepat mengacaukan harga energi kembali.

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur

Meski aliran minyak mentah pulih, laporan dari Goldman Sachs juga menyoroti bahwa ekspor gas alam cair (LNG) dan bahan bakar olahan masih jauh lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh infrastruktur yang lebih rentan dan risiko operasional yang lebih tinggi di tengah konflik.

Hormuz Tak Pernah Bisa Dihentikan

Selat Hormuz memang jalur yang luar biasa. Sekitar 6-8 juta barel minyak mentah per hari melintas di sini, mewakili sepertiga dari total perdagangan minyak dunia. Siapa pun yang menguasai jalur ini, secara tidak langsung memegang kendali atas perekonomian global.

Meski perang belum usai, para pelaku industri energi telah menunjukkan bahwa pasokan minyak tidak akan mati begitu saja. Selama ada permintaan, selama ada harga, selama ada celah, Selat Hormuz akan terus mengalirkan darah ekonomi dunia. []

Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Internasional
Internasional
Dunia Islam
Internasional