Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AS Tanggapi Seruan Paus Leo, Tegaskan Komitmen Hentikan Konflik Global

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 1 April 2026 - 16:16 WIB

Rabu, 1 April 2026 - 16:16 WIB

9 Views ㅤ

Sekretaris Pers Gedung Putih Caroline Leavitt (foto: X)

Washington, MINA – Pemerintah Amerika Serikat merespons pernyataan Paus Leo XIV yang menegaskan bahwa Yesus menolak doa dari pihak-pihak yang memicu perang, dengan menekankan komitmen untuk mengurangi eskalasi konflik global, terutama di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan Paus sebelumnya disampaikan dalam khotbahnya yang menyoroti bahwa ajaran Yesus sebagai “Raja Damai” tidak dapat digunakan untuk membenarkan peperangan. Ia bahkan menegaskan bahwa doa dari mereka yang terlibat dalam kekerasan tidak akan diterima karena “tangan mereka penuh darah.”

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris media Gedung Putih, pada Rabu (31/3) menyatakan bahwa pihaknya menghargai pesan moral yang disampaikan Vatikan, seraya menegaskan bahwa Washington terus mendorong jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan, termasuk dalam konflik yang melibatkan Iran dan sekutunya. Al-Jazeera melaporkan.

Pemerintah AS juga menegaskan bahwa langkah-langkah militer yang diambil selama ini diklaim sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan dan melindungi kepentingan internasional. Namun demikian, tekanan global agar konflik segera dihentikan terus meningkat, seiring bertambahnya korban sipil dan kerusakan infrastruktur.

Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme

Seruan Paus Leo XIV muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang telah menyebabkan gelombang pengungsian besar dan krisis kemanusiaan di berbagai wilayah. Ia berulang kali mengajak para pemimpin dunia untuk mengedepankan dialog dan menghentikan kekerasan demi kemanusiaan.

Pernyataan moral dari Vatikan dapat menjadi tekanan simbolik bagi negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat, untuk meninjau kembali pendekatan militeristik dalam menyelesaikan konflik.  []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Rekomendasi untuk Anda