Kathmandu, MINA – Banjir bandang dan longsor yang menerjang wilayah perbatasan Nepal-China menimbulkan trauma besar bagi masyarakat. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) memperkirakan sedikitnya 93.000 orang terdampak dan membutuhkan bantuan, sementara jumlah korban meninggal masih terus bertambah.
Kepala Delegasi IFRC untuk Nepal, David Fisher mengatakan dampak psikologis bencana tersebut sangat besar. Ia menyebut ribuan rumah hancur atau mengalami kerusakan parah, sementara sejumlah kawasan terdampak belum dapat dijangkau karena jalan dan jembatan rusak, jaringan komunikasi terputus, serta pasokan listrik terganggu.
Bencana terjadi pada Rabu (26/8) setelah aliran air dan material longsoran menerjang kawasan pegunungan di Nepal utara. Ariananews melaporkan, Sabtu (29/8).
Derasnya banjir menghancurkan permukiman, jalan, jembatan dan sejumlah fasilitas penting. Kondisi medan yang berat membuat proses pencarian korban dan penyaluran bantuan menghadapi kendala besar.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
IFRC juga memperingatkan ancaman banjir susulan akibat terbentuknya danau sementara yang berasal dari material longsoran. David Fisher mengatakan kekhawatiran terhadap bencana sekunder tersebut masih tinggi. PBB turut memperingatkan bahwa rangkaian bahaya yang terjadi belum sepenuhnya berakhir dan situasi masih terus berkembang.
Dampak bencana juga mulai terlihat pada sektor kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sedikitnya enam fasilitas kesehatan rusak dan delapan tenaga kesehatan masih dinyatakan hilang. Kondisi pengungsian, kepadatan penduduk, serta terganggunya akses air bersih dan sanitasi dikhawatirkan meningkatkan risiko penyakit menular.
Untuk merespons krisis tersebut, IFRC telah meluncurkan Emergency Appeal senilai 25 juta franc Swiss guna mendukung operasi Nepal Red Cross selama masa tanggap darurat hingga pemulihan.
Bantuan mencakup tempat tinggal, air dan sanitasi, kebutuhan rumah tangga, layanan kesehatan, dukungan psikososial serta pemulihan mata pencaharian. IFRC menegaskan kebutuhan kemanusiaan kemungkinan terus bertambah seiring terbukanya akses menuju wilayah yang sebelumnya terisolasi. []
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic