SETIAP pembaruan data korban bencana Sumatera bukan hanya rangkaian angka. Di balik 604 korban meninggal, 464 orang hilang, dan 2.600 luka-luka, terdapat ribuan cerita keluarga yang kehilangan, rumah yang hilang, dan harapan yang runtuh bersama tanah longsor.
Di salah satu titik pengungsian di Aceh, seorang ibu memeluk erat dua anaknya yang selamat. Rumah mereka hanyut bersama arus, suaminya masih masuk dalam daftar hilang.
“Saya hanya ingin bertemu dia, apa pun keadaannya,” lirihnya.
Di Sumatra Barat, para relawan masih berjibaku menembus lumpur tebal demi menemukan puluhan warga yang belum ditemukan.
Baca Juga: Solidaritas Spanyol untuk Palestina, Dari Kibaran Bendera Yamal Hingga Kebijakan PM Sánchez
Setiap jenazah yang terangkat bukan sekadar angka, melainkan seseorang yang pernah punya masa depan.
Sementara itu, di Sumatra Utara, ratusan pengungsi tidur beralaskan terpal di lantai dingin sebuah gedung sekolah rusak.
Anak-anak kehilangan ruang belajar karena 282 fasilitas pendidikan turut terdampak, banyak yang berubah menjadi tempat penampungan darurat.
Kerusakan infrastruktur yang mencapai puluhan ribu rumah serta 271 jembatan runtuh membuat aktivitas warga terputus. Akses bantuan terkadang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki berjam-jam.
Baca Juga: Hikmah Kurban Yang Jarang Dibahas Dari Ketahanan Pangan dan Suplemen Otak
Namun di tengah keputusasaan, gotong royong kembali menjadi kekuatan. Warga, relawan, TNI, Polri, dan BNPB bahu-membahu membuka akses jalan, mendirikan dapur umum, dan mencari para korban yang belum ditemukan.
Bencana ini masih menyisakan tanda tanya besar tentang berapa lama pemulihan akan berlangsung. Yang pasti, bagi jutaan warga Sumatera, perjalanan untuk bangkit baru saja dimulai. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Israel Dituduh Memata-matai Guru-Guru Palestina yang Kritik Perang Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic