Jakarta, MINA — Guru-guru yang terdampak bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera seperti di Sumatra Barat (Sumbar), Sumatra Utara (Sumut) dan Aceh dinilai memerlukan perhatian khusus dari pemerintah, termasuk pemberian insentif dan dukungan pemulihan psikologis agar proses pendidikan dapat kembali berjalan optimal. Berdasarkan data BNPB 581 fasilitas pendidikan rusak.
Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim menilai pemerintah pusat perlu memberikan perhatian khusus kepada para guru yang menjadi korban bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Satriwan mengatakan, para guru tidak hanya menghadapi kerusakan fasilitas sekolah, tetapi juga mengalami dampak psikologis akibat bencana yang terjadi. Menurutnya, kondisi tersebut perlu direspons dengan kebijakan konkret dari pemerintah.
“Guru-guru tersebut saya rasa harus diberikan insentif-insentif, termasuk juga trauma healing pascabencana,” kata Satriwan kepada wartawan, Ahad (14/12).
Baca Juga: MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo, Terkait Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran
Ia menjelaskan, banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera telah menyebabkan sekolah, rumah, hingga perangkat belajar para guru rusak atau hanyut terbawa arus. Kondisi tersebut, lanjutnya, berpotensi meninggalkan trauma mendalam bagi para pendidik.
Satriwan menambahkan, pemberian insentif khusus diharapkan dapat membantu meringankan beban guru-guru yang terdampak, sekaligus memulihkan semangat mereka untuk kembali menjalankan tugas pendidikan.
“Tentu kami berharap harus ada insentif khusus yang diberikan pemerintah pusat atau pemerintah daerah terhadap guru-guru yang jadi korban bencana alam ini,” ujarnya.
Meski demikian, Satriwan tidak merinci besaran insentif yang perlu diberikan.
Baca Juga: Aktivis Ilustrasikan Gempa, Rasakan Getaran Bom di Palestina
Ia menekankan bahwa yang terpenting adalah adanya keberpihakan negara terhadap guru-guru yang berada di garis depan pemulihan pendidikan pascabencana.
Dengan adanya dukungan tersebut, Satriwan berharap proses belajar mengajar tetap dapat berjalan, meskipun dilakukan di lokasi-lokasi darurat.
“Dengan adanya insentif, tenaga mereka yang masih ada tetap bisa memberikan proses pembelajaran kepada anak-anak kita di tempat-tempat darurat,” katanya.
Ia menegaskan bahwa keberlangsungan pendidikan di wilayah bencana sangat bergantung pada kondisi dan kesejahteraan para guru, sehingga perhatian khusus dari pemerintah menjadi hal yang mendesak.
Baca Juga: Pimpinan Hidayatullah: Sampai Kapan Bela Palestina? Sampai Palestina Merdeka!
Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, Sabtu (13/12) korban banjir dan Longsor di Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh sebanyak 1.000 jiwa lebih meninggal dunia, 217 masih hilang.
Data bencana juga menunjukkan bahwa bencana ini juga mengakibatkan fasilitas umum rusak parah dan juga fasilitas pendidikan.
“Fasilitas umum ada 1.200 yang rusak, 581 fasilitas pendidikan rusak, rumah ibadah 434 unit, fasilitas kesehatan 219 unit, 290 kantor rusak, dan kerusakan 145 jembatan,” tulis data Pusdatin BNPB. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Wakil Ketua MUI Serukan “Bocelli No, Palestina Yes!” dan Bacakan Fatwa Dukungan Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic